Selasa, 30 Juni 2026
Bacaan Injil: Mat 8:23-27
Saudari-saudara yang terkasih,
Situasi pandemi Covid-19 waktu itu memunculkan rasa protes dan marah dalam diri kita kepada Tuhan. Banyak orang yang meninggal dunia, baik imam atau awam, orang muda atau orang tua, orang kita kenal secara dekat maupun yang tidak kita kenal.
Ketidaknyamanan demi ketidaknyaman dialami setiap hari. Rejeki berkurang. Perjumpaan dibatasi. Banyak rencana dan agenda yang batal atau diundur. Sudah terus berdoa agar Virus segera hilang, tidak segera dikabulkan.
Secara manusiawi aneka situasi yang demikian itu membuat marah dan protes pada Tuhan. Seakan-akan Tuhan tidak peduli dan cuek. Tuhan tidak mendengarkan doa permohonan kita. Tuhan sepertinya tidak berkuasa menghalau virus korona itu.
Suasana batin yang protes pada Tuhan seperti itu juga yang pernah dialami para murid seperti yang dikisahkan dalam bacaan Injil hari ini. Waktu itu perahu mereka mau tenggelam. Yesus malah enak-enakan tidur. Ada kesan Tuhan Yesus cuek dan tidak peduli dengan permasalahan para murid-Nya. Mereka protes: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Dalam teks Injil sinoptik, Misalnya Markus, diungkapkan: “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?”
Para murid berpikir bahwa Yesus tidak peduli akan nasib hidup mereka. Padahal Yesus lebih dari siapa pun. Dia sangat peduli dengan kita. Tuhan menguji seberapa besar iman kita, seberapa kuat kita mengandalkan Tuhan saat menghadapi masalah atau badai kehidupan ini. Gusti mboten sare. Gusti tansah rumeksa. Providentia Dei. Tuhan tidak tidur. Dia selalu memelihara kita.
Paus Fransiskus pernah mengungkapkan bahwa Tuhan memanggil kita untuk beriman. Sekalipun kadang kita seperti para murid yang tidak percaya kalau Tuhan selalu hadir dan ikut campur tangan di dalam situasi manusia. Sekalipun demikian merasa selalu terdorong untuk tetap datang kepada Dia dan tetap percaya kepada Dia.
Gereja ini ibarat bahtera atau kapal yang berlayar. Sampai ada lagu yang berjudul “Gereja bagai Bahtera”. Dalam pelayaran, kita mengarungi “samudera kehidupan di dunia ini”, kita berada dalam kapal yang sama bersama Sri Paus sebagai pemimpin kita. Sebagai orang beriman, kita percaya bahwa Tuhan akan selalu menyertai dan memberikan pertolongan. Orang Jawa bilang, “Gusti mesthi paring dalan” (Tuhan pasti memberikan jalan).
Pertanyaan refleksinya, Dalam bentuk apa Tuhan peduli pada kita pada saat kita mengalami badai kehidupan?
Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).
Y. Gunawan, Pr









