Kamis, 18 Juni 2026
Bacaan Injil: Mat 6:7-15
Saudari-saudara yang terkasih,
Doa itu sebuah ayunan hati kita dan komunikasi kita dengan Allah untuk memuji, bersyukur, dan memohon kepada-Nya. Itulah sebabnya Yesus mengajar para murid-Nya agar doa dimulai memuji Allah sebagai Bapa. Doa Bapa Kami adalah salah satu doa pokok bagi kita sebagai orang Katolik. Dalam sehari berapa kali kita mendoakan doa Bapa Kami? Mungkin lebih dari tiga kali.
Dalam bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus mengajak kita untuk berdoa dengan tidak bertele-tele. “Dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah”, tegas Yesus. Bahkan, Dia mengajak kita untuk menyapa Allah sebagai Bapa dalam doa Bapa Kami.
Karena Yesuslah kita boleh mengenal dan menyapa Allah sebagai Bapa. Kita adalah anak-anak Allah. Doa Bapa Kami yang diajarkan Tuhan Yesus ini memberi perhatian kepada kepentingan Allah dan kepentingan kita. Kepentingan Allah didahulukan bukan karena kepentingan kita tidak penting, tetapi justru karena kita menyadari betapa besar kasih dan perhatian Allah Bapa kepada kita.
Bagi Santo Thomas Aquinas, Doa Bapa Kami adalah doa yang paling sempurna (KGK no. 2763). Menurut Tertullianus, doa Bapa Kami adalah kesimpulan atau ringkasan seluruh Injil (KGK, no. 2761).
Senada dengan ajakan Yesus untuk tidak bertele-tele dalam berdoa, Santo Yohanes Maria Vianey pernah mengungkapkan: “Orang tidak perlu berbicara banyak untuk berdoa dengan baik. Kita tahu bahwa Yesus ada di sana di dalam tabernakel: Marilah membuka hati kepada-Nya, marilah bersukacita dalam kehadiranNya yang kudus. Itulah doa terbaik.”
Tak jarang saat di depan Sakramen Mahakudus atau tabernakel, kita sering hanya diam. Tak banyak bicara. Tanpa disadari kadang tiba-tiba keluar air mata, baik air mata syukur, gembira atau sedih.
Dengan hening dan berserah di hadapan Tuhan, muncul kelegaan dan kedamaian dalam hati. Mungkin belum ada jalan keluar atas pergulatan hidup saat itu juga, tetapi terasa ada kekuatan dan energi baru yang menguatkan untuk melangkah ke depan.
Pertanyaan Refleksinya, Bagaimana penghayatan kita saat mendoakan doa Bapa Kami? Apa yang menjadi pergulatan hidup kita saat ini untuk disampaikan pada Tuhan?
Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).
Y. Gunawan, Pr









