Percik Firman: Pribadi yang Berintegritas

Twitter
WhatsApp
Email
Pada hari ini Gereja merayakan dua Peringatan Wajib (PW), yaitu: Hati Tersuci Santa Maria dan Santo Antonius Padua. Perayaan Hati Tersuci Santa Perawan Maria ini dirayakan setiap hari Sabtu sesudah Hari Raya Hati Kudus Yesus.

Sabtu, 13 Juni 2026

PW Hati Tersuci St Maria dan PW St Antonius Padua

Bacaan Injil: Mat 5:33-37

 

Saudari-saudara yang terkasih,

Pada hari ini Gereja merayakan dua Peringatan Wajib (PW), yaitu: Hati Tersuci Santa Maria dan Santo Antonius Padua. Perayaan Hati Tersuci Santa Perawan Maria ini dirayakan setiap hari Sabtu sesudah Hari Raya Hati Kudus Yesus. Hal ini merupakan perayaan liturgi Gereja untuk menghormati dan meneladani cinta, kemurnian, dan ketaatan Bunda Maria. Hati Bunda Maria dipandang sebagai simbol penyerahan diri yang sempurna kepada rencana keselamatan Allah.

Pada tanggal 13 Juni Gereja juga merayakan peringatan Santo Antonius Padua (1195-1231), seorang imam dan pujangga Gereja. Santo Antonius Padua lahir di Lisbon, Portugal, pada tangga 15 Agustus 1195. Dan ia meninggal dunia dalam usia 35 tahun, pada tanggal 13 Juni 1231 di Padua, Italia. Santo Antonius Padua dikenal sebagai pelindung barang hilang. Banyak mukjizat “barang hilang ditemukan lagi” berkat bantuan doanya. Makamnya ada di dalam Basilika Santo Antonius di kota Padua.

Sabda Tuhan hari ini mengajak kita sebagai pengikut Kristus untuk hidup dalam integritas dan kejujuran. Berani jujur itu hebat. Tuhan Yesus menuntut agar perkataan kita dapat dipercaya sepenuhnya tanpa perlu bersumpah dengan mengatas-namakan apa pun, melainkan cukup dengan mengatakan “ya” jika ya, dan “tidak” jika tidak.

Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat”, tegas Yesus. Sabda ini mau menegaskan pentingnya konsistensi antara isi hati, perkataan, dan perbuatan. Apa yang keluar dari mulut kita harus sesuai dengan kebenaran yang sesungguhnya.

Salah satu bentuk kualitas dari integritas diri seseorang tampak dari sikapnya yang menjunjung tinggi kejujuran. Kebiasaan bersumpah sering kali muncul karena manusia tidak memiliki integritas dan sering berbohong. Tuhan Yesus menghendaki agar karakter kita menjadi cerminan kebenaran. Jika hidup kita sudah jujur dan dapat dipercaya, kita tidak memerlukan sumpah apa pun untuk membuktikannya. Segala bentuk manipulasi kata-kata, kebohongan, atau bersumpah seringkali dipakai untuk menutupi kebenaran. Kebohongan bersumber dari si jahat.

Bunda Maria dan Santo Antonius Padua menjadi contoh sebagai pribadi yang memiliki integritas dalam hidupnya. Pribadi yang berintegritas biasanya memiliki hati yang tulus dan jujur (apa adanya).

Ulpianus (seorang penulis, ahli hukum, dan penasihat Kaisar Romawi abad 2), pernah berkata, “Honeste vivere!”  (Hiduplah dengan jujur!). Hidup yang jujur biasanya berkaitan erat dengan hidup yang baik (bene vivere) dan hidup yang bahagia (beate vivere). Kebiasaan hidup jujur ini perlu dimulai dari hal-hal kecil, dari diri kita sendiri, dan dari dalam keluarga/komunitas kita.

Pertanyaan refleksinya, Sejauhmana selama ini kita sudah berani jujur dalam hidup ini? Apa saja tantangan untuk berkata dan bertindak jujur?

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr