Percik Firman: Mulut Berpotensi Menyemangati dan Melukai

Twitter
WhatsApp
Email
Melalui sabda Tuhan hari ini, kita diingatkan agar tidak berpuas diri karena telah menuruti hukum. Tetapi kita diajak untuk memahami inti dan tujuan dari Allah memberikan hukum itu.

Kamis, 11 Juni 2026

PW St. Barnabas, Rasul

Bacaan Injil: Mat 5:20-26

 

Saudari-saudara yang terkasih,

Melalui sabda Tuhan hari ini, kita diingatkan agar tidak berpuas diri karena telah menuruti hukum. Tetapi kita diajak untuk memahami inti dan tujuan dari Allah memberikan hukum itu. Tuhan Yesus mengajak kita untuk kembali ke dalam diri dan hati nurani kita, kemudian berusaha untuk menghindari hal-hal sepele yang bisa berujung pada dosa berat.

Tuhan Yesus menegaskan bahwa membunuh bukan hanya soal aktifitas fisik, tetapi juga perkataan dengan marah kepada orang lain dan menghujat seseorang sebagai kafir dan jahil. Yang menjadi korban bukan fisik lahiriahnya, tetapi perasaan dan psikis orang itu. Dan bisa memancing terjadinya pertumpahan darah.

Ketiga hal tersebut terungkap melalui perkataan yang terucap dari mulut kita. Hal ini berarti kata-kata yang keluar dari mulut kita memiliki potensi untuk membunuh orang lain. Setiap kata-kata negatif punya potensi untuk membunuh, mematikan dan menghancurkan hidup seseorang. Hal ini mirip mulutmu adalah harimaumu. Maka, bijaksanalah dalam berkata-kata. Mulut bisa memberkati dan menyemangati, tetapi juga bisa berpotensi menyakiti dan melukai.

Hari ini tanggal 11 Juni Gereja merayakan Peringatan Wajib Santo Barnabas, Rasul. Ia berasal dari Siprus, keturunan bangsa Yahudi dari suku Lewi. Para rasul memberinya ’parapan’ atau nama baru “Barnabas”, yang berarti anak penghiburan. Dari Kisah para Rasul, diungkapkan bahwa Barnabas adalah orang yang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman.

Nama seseorang biasanya punya makna. Barnabas berarti anak penghiburan. Bagaimana kehadirannya di tengah jemaat bisa memberikan penghiburan, peneguhan dan ngeyem-eyemi jemaat yang dijumpainya.

Kehadiran Barnabas di Antiokhia membuat umat berkembang dengan baik. Antiokhia menjadi pusat misi kristen, bahkan di situlah untuk pertama kalinya para pengikut Yesus disebut dengan nama Kristen. Barnabaslah yang menghantar Paulus kepada para Rasul untuk menceritakan peristiwa penampakan Tuhan pada Paulus di tengah perjalanannya ke Damsyik.

Barnabas meninggal dunia dengan dirajam oleh orang-orang Yahudi di Salamis. Karena karya dan jasanya, Barnabas dimasukkan dalam bilangan para pendiri Gereja dan dianggap sebagai seorang Rasul.

Pertanyaan refleksinya, Bagaimana selama ini kita menggunakan mulut kita dalam pergaulan sehari-hari? Sejauhmana kita mengetahui dan menghidupi makna dari nama diri kita?

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr