Percik Firman: Bakti pada Tuhan dan Negara

Twitter
WhatsApp
Email
Kita tentu sering mendengar dan membaca ungkapan “100% Katolik 100% Indonesia. Iya khan? Apakah kita tahu siapa yang mencetuskan ungkapan itu? Dan kapan ungkapan itu disampaikan?

Selasa, 2 Juni 2026

Bacaan Injil: Mrk 12:13-17

 

Saudari-saudara yang terkasih,

Kita tentu sering mendengar dan membaca ungkapan “100% Katolik 100% Indonesia. Iya khan? Apakah kita tahu siapa yang mencetuskan ungkapan itu? Dan kapan ungkapan itu disampaikan?

Dalam Surat Gembala Masa Prapaskah tertanggal 6 Februari 1956, Mgr. Albertus Soegijapranata SJ pernah mengungkapkan: “Jika kita sungguh-sungguh Katolik sejati, kita sekaligus patriot sejati. Karenanya, kita merasa bahwa kita 100% patriot, justru karena kita adalah 100% Katolik”.

Lebih lanjut diungkapkan dasar dari kecintaan pada negara, “Lagi pula, bukankah menurut perintah ke-4 dari ke-10 Perintah Allah –sebagaimana ada dalam Katekismus– kita wajib mencintai Gereja kudus, juga kita wajib mencintai Negara, dengan seluruh hati kita. Berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar, dan berikanlah kepada Allah apa yang menjadi hak Allah”.

Ungkapan aslinya adalah 100% Katolik 100% patriot. Patriot artinya pembela atau pecinta tanah air (patria). Nasihat dan ajakan Mgr. Soegijapranata tersebut kiranya masih relevan untuk zaman kita saat ini, apalagi kemarin 1 Juni baru saja kita memperingati hari lahir Pancasila, dasar negara kita. Sebagai Warga Negara Indonesia yang baik, orang Katolik harus mencintai tanah airnya dan bangsanya dengan memenuhi kewajibannya.

Salah satunya dengan menaati peraturan atau kebijakan dari pemerintah yang sah. Di antaranya membayar pajak. Pemasukan negara dari pajak warganya sangat dibutuhkan untuk biaya pembangunan demi kesejahteraan sosial. Nasihat Mgr. Soegijapranata tersebut mempunyai dasar biblis dari bacaan Injil hari ini.

Dalam bacaan Injil hari ini Tuhan Yesus menyatakan sikap yang tegas soal hak dan kewajiban sebagai warga negara. Dia menegaskan, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!

Pernyataan ini disampaikan Yesus sebagai jawaban-Nya atas pertanyaan dari orang Farisi dan Herodian. Mereka bertanya, “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?” Bagi Yesus sangat penting adanya keseimbangan relasi vertikal (manusia-Allah) dan horizontal (manusia-pemerintah) dalam hidup bermasyarakat.

Pertanyaan refleksinya, Sejauh mana selama ini kita mengusahakan keseimbangan antara hak dan kewajiban sebagai warga negara yang baik? Apa saja wujud nyata kecintaan kita pada Gereja dan Negara?

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr