Selasa, 14 April 2026
Bacaan Injil: Yoh 3:7-15
Saudari-saudaraku yang terkasih,
Bacaan Injil hari ini mengingatkan saya akan pengalaman berziarah ke Gunung Nebo, Yordania. Menurut tradisi, di gunung itu dipercaya Nabi Musa wafat. Situs Gunung Nebo memiliki makna panting dalam memorial perjalanan Nabi Musa. Pada akhir masa hidupnya Nabi Musa naik ke Gunung Nebo untuk melihat Tanah Terjanji, karena Tuhan tidak mengijinkannya masuk ke Tanah Terjanji, Kanaan. Nabi Musa akhirnya meninggal di sana.
Gunung Nebo berada pada ketinggian 817 meter di atas permukaan Laut. Letaknya di tepi barat Yordania. Posisinya yang strategis membuat para peziarah dapat menikmati indahnya pesona hamparan Tanah Kanaan. Dari puncak gunung ini, peziarah bisa melihat panorama lembah Sungai Yordan dan Kota Yerikho.
Di puncak Gunung Nebo, peziarah juga dapat melihat simbol salib besar dari perunggu yang dibuat oleh seniman Italia, Giovani Fantoni. Simbol ini menandakan tiang yang dililit ular tembaga yang dibuat oleh Nabi Musa.
Dalam Injil hari ini Tuhan Yesus memberikan kesaksian, “Sama seperti Musa meninggikan ular di Padang Gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan”. Misteri salib dipahami sebagai saat peninggian Yesus Sang Anak Manusia. Peninggian dalam hal ini bukan hanya karena posisi salib yang ditegakkan vertikal dan meninggi dari atas tanah, tetapi juga atas dasar martabat keilahian Yesus. Paradoks salib adalah perendahan di mata manusia, ternyata menjadi peninggian di mata Allah. Itu semua terjadi karena besarnya cinta Allah kepada umat manusia.
Yesus menempatkan ajaran tentang peninggian Anak Manusia ini dalam wejangan-Nya kepada Nikodemus. Bagi Yohanes, peninggian Yesus Sang Anak manusia di atas salib sudah merupakan tindakan kasih dalam penyelamatan. Yesus memakai analogi peninggian ular tembaga oleh Musa di padang gurun. Rasanya tidak enak di hati jika Yesus dianalogikan dengan ular tembaga. Namun yang pokok bukan pada ular tembaganya, tetapi pada dinamika peninggian yang membawa keselamatan.
Yesus dalam Yohanes ingin menyatakan bahwa percaya kepada Dia yang ditinggikan di salib akan membawa keselamatan. Perlu digarisbawahi kata “harus” dalam peninggian Anak Manusia. Dengan menyatakan bahwa Anak Manusia “harus” ditinggikan, ingin ditegaskan bahwa penyaliban Yesus adalah rencana Bapa yang harus digenapi. Salib bukan kegagalan, tetapi memang direncanakan agar umat manusia percaya bahwa Allah telah mengasihi umat manusia secara total dengan cara membawa mereka kepada keselamatan kekal.
Pertanyaan refleksinya, Bersediakah Anda menjadi ‘nikodemus-nikodemus’ masa kini yang bergerak dari gelap menuju terang? Tindakan konkret apa yang dapat kita lakukan agar bangga dengan salib Kristus?
Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).
Y. Gunawan, Pr









