Percik Firman: Lelah Tetapi Tetap Berempati

Twitter
WhatsApp
Email
Dalam bacaan Injil hari ini, kita diajak untuk merenungkan kisah pengalaman kebangkitan yang dialami dua murid Emaus. Mereka pulang ke kampung Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil (sekitar 11 km) jauhnya dari Yerusalem.

Rabu, 8 April 2026

Bacaan Injil: Luk 24:13-35

 

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Dalam bacaan Injil hari ini, kita diajak untuk merenungkan kisah pengalaman kebangkitan yang dialami dua murid Emaus. Mereka pulang ke kampung Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil (sekitar 11 km) jauhnya dari Yerusalem. Mereka berjalan kaki. Ditempuh sehari perjalanan. Mereka kecewa, sedih dan tak bersemangat.

Mereka sangat mendesak orang yang menemani perjalanan mereka agar mau menginap di rumah mereka. “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam”, ajak mereka penuh empati. Mereka belum tahu kalau orang itu Yesus.

Coba Anda bayangkan. Mereka lelah, kecewa dan putus asa. Berjalan kaki seharian. Tapi masih punya empati dan kepeduliaan kepada sesamanya. Mereka tidak egois. Tidak cuek. Juga tidak masa bodoh. Masih memikirkan keadaan sesamanya. Meski orang itu tidak mereka kenal (asing).

Buah dari sikap empati mereka adalah Tuhan membuka hati dan kesadaran diri mereka akan peristiwa kematian Tuhan Yesus. Mata hati mereka dibuka dengan peristiwa “Yesus memecah roti” saat sampai di Emaus. Mereka menjadi sadar. Mereka diubah oleh Tuhan yang bangkit:  dari kecewa menjadi bangga; dari berdukacita menjadi bersukacita; dari putus asa menjadi berkobar-kobar ikut Tuhan.

Pertanyaan refleksinya, Saat lelah dan tak bersemangat, masihkah kita peduli dan mau berempati dengan orang lain? Pernahkah hidup kita diubah dan semangat kita dikobarkan oleh Tuhan kembali?

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr