MERTOYUDAN, KEDU-Menurut sejarah pertandingan voli merupakan gabungan dari beberapa unsur olahraga. Antara lain basket, tenis, bola tangan hingga bulu tangkis. Mulanya permainan atau olahraga ini diinisiasi oleh William G. Morgan pada tahun 1895 di Holyoke, Massachusetts, Amerika Serikat, seperti yang dilansir dari situs resmi Persatuan Bolavoli Seluruh Indonesia (PBVSI) pbvsi.or.id.
Morgan yang merupakan pembina pendidikan jasmani atau instruktur di YMCA (Young Men’s Christian Association), menciptakan permainan bola voli dengan harapan, orang yang melakukan permainan bola voli mendapatkan perkembangan dalam kebugaran jasmani pada tubuh, alih-alih hanya melakukan senam secara umum. Tak hanya itu, voli juga diciptakan untuk memudahkan dan meringankan beban pemainnya.
Sebagai informasi, mulanya olahraga ini dikenal dengan nama ‘’mintonette’’, kemudian pada tahun 1986 diubah menjadi ‘’volleyball’’ Alfred T Halstead, saat demonstrasi pertandingan pertamanya di International YMCA Training School.

Pada tahun 1896, permainan ini dikenal sebagai “mintonette” kemudian diubah menjadi “volleyball” oleh Alfred T Halstead, sewaktu pertandingan perdana dalam ajang international YMCA Training School.
Sementara itu, berdasarkan buku Teori dan Praktek Bola Voli, voli masuk Indonesia pada zaman Belanda, tepatnya tahun 1928. Sejak saat itu voli menjadi permainan dan olahraga yang populer di Indonesia.

Memanfaatkan ketenaran voli, umat Paroki Santo Yusup Mertoyudan bersama-sama meramaikan HUT-ke 70 dengan tajuk ‘’voli gembira’’. Seperti nama yang tertera dalam perhelatan itu, ‘’voli gembira’’ adalah perwujudan atau aksi nyata untuk saling berbahagia serta memupuk rasa persaudaraan. Kata gembira dipilih oleh para umat bukan hanya sebagai jenama saja, melainkan jadi doa dan harapan perhelatan itu melahirkan senyum yang puas karena telah bersama-sama mengasah ketangkasan dengan asas sukacita. Alih-alih pelatnas umat Paroki Santo Yusup Mertoyudan mengeluarkan seluruh kemampuan yang ada untuk bertanding sampai tuntas.
Halaman samping gereja yang disulap dengan singkat seolah lapangan voli, menjadi saksi bisu bahwa pertandingan persahabatan Minggu, 6 September 2026 dijalankan dengan pandangan yang berbinar, serta kepala juga jiwa yang memiliki nalar.
Kesadaran umat untuk berbahagia ini menjadi asas, dan bukti relevan bahwa tak perlu motorik kasar, atau usaha yang ngoyo demi meraih kebahagiaan. Cukup datang dan ramaikan.
Bicara ramai, petang itu selain mereka yang bertanding dari wilayah yang ada. Juga hadir pendukung yang setia memeriahkan suasana, tanpa provokasi, bernyanyi dan membuat bunyi-bunyian unik nan lucu supaya suasana tetap seru. Salah satu umat yang enggan dituliskan namanya menyampaikan, ‘’ acaranya seru, semua asyik main, tadi juga sampai teriak sambil nyanyi’’.

Adapun ‘’voli gembira’’ ini merupakan rangkaian acara HUT ke-70 Paroki Santo Yusup Mertoyudan, dengan peserta dari sembilan wilayah yang ada yakni Sumberrejo 1 dan 2, Mertoyudan 1 lalu 2 dan 3, GRI, Tegalsari, Saratan kemudian Blondo.
Pertandingan masih akan berlanjut pada 13 September 2026 sebagai penentu tim yang menang. Kendati demikian, menang tersebut bukan sebagai perayaan perselisihan namun penghargaan bagi para umat yang bersungguh-sungguh berlatih dengan kemampuan yang ala kadarnya untuk memeriahkan ‘’voli gembira’’.
Penulis: Sunbio Pratama
Foto: Sunbio Pratama









