PAROKI JETIS — Romo Yohanes Kristiyanta, Pr., mengajak umat Lingkungan Santo Ignatius Cokrodiningratan, Paroki Santo Albertus Agung Jetis Yogyakarta, menjalani kehidupan secara seimbang dengan memahami bahwa setiap keadaan memiliki waktunya.
Pesan tersebut disampaikan dalam homili Misa Lingkungan Santo Ignatius Cokrodiningratan di Balai RK Cokrodiningratan, Jumat (25/9/2026). Romo Kristiyanta menggunakan bacaan Kitab Pengkhotbah dan Injil untuk mengajak umat memahami waktu, menghadapi luka masa lalu, serta merefleksikan pertanyaan iman tentang siapa Yesus bagi kehidupan mereka.
Menurut Romo Kristiyanta, Kitab Pengkhotbah mengingatkan bahwa kehidupan manusia di dunia memiliki batas. Karena itu, ada waktu untuk bekerja, beristirahat, bersedih, bergembira, berjuang, dan menikmati hasil.
“Kerja pagi, siang, sore, malam pun, nyatanya ya nggak kaya-kaya juga,” ujar Romo Kristiyanta yang disambut tawa umat.
Ia mengingatkan umat agar tidak menjadikan kesibukan sebagai alasan untuk mengabaikan waktu beristirahat. Keseimbangan juga diperlukan dalam menghadapi persoalan keluarga dan kehidupan bersama. Ada waktu ketika terjadi perbedaan atau pertengkaran, tetapi ada pula waktu untuk berdamai dan membangun kebersamaan.
Romo Kristiyanta juga mengajak umat tidak terus membawa luka masa lalu. Menurutnya, pengalaman yang menyakitkan perlu disembuhkan sehingga seseorang dapat menjalani kehidupan pada waktunya.
Beranjak pada bacaan Injil, Romo Kristiyanta mengajak umat menjawab secara personal pertanyaan tentang siapa Yesus bagi diri mereka. Menurutnya, pengenalan terhadap Yesus tidak cukup hanya melalui pengetahuan, tetapi perlu diwujudkan melalui kehidupan sehari-hari.
Ia juga mengingatkan umat bahwa perbedaan cara memahami dan menghayati iman tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menjauh. Perbedaan dapat menjadi kesempatan untuk saling belajar dan memperkaya kehidupan bersama.
“Supaya gambaran Yesus menjadi sempurna saat kita belajar satu dengan yang lain,” katanya.

Pesan tersebut kemudian berlanjut dalam kebersamaan umat setelah misa. Romo Kristiyanta menyerahkan kenang-kenangan kepada Leonardus Reevananda Pratama dan Yosefin Karenina Wiharto yang baru menerima Komuni Pertama.
Ketua Lingkungan Santo Ignatius Cokrodiningratan, E. Niniek Sugianti, juga menyerahkan piala dan hadiah kepada Noven, Kiano, dan Evan yang meraih Juara 1 Lomba Story Telling Perikop Kitab Suci yang diselenggarakan Paroki Santo Albertus Agung Jetis Yogyakarta.
Kegiatan ditutup dengan makan malam bersama. Umat menikmati bakso, wedang jahe sereh, dan teh hangat. Kebersamaan semakin terasa karena salah seorang umat, Hermin, juga merayakan ulang tahun.
Misa tersebut menjadi ruang bagi umat untuk berdoa, merefleksikan iman, memberikan apresiasi, sekaligus membangun kebersamaan. Pesan Romo Kristiyanta tentang waktu pun menemukan bentuk sederhana dalam kehidupan umat: ada waktunya berdoa, ada waktunya berbagi, dan ada waktunya bergembira bersama.
Penulis : Benedictus Fredika








