NGABLAK, KEDU- Di tengah deru kota dan ritme kerja yang kian eksesi, menemukan pasangan hidup di era ini sering kali terasa seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Bagi para profesional muda dan mahasiswa, siklus hari-hari kerap terjebak dalam rutinitas yang monoton, dari layar komputer ke layar ponsel, lalu berakhir pada kelelahan urban yang menyisakan sedikit ruang untuk interaksi sosial yang organik. Keinginan untuk membangun masa depan bersama seseorang sering kali terbentur pada realitas sempitnya waktu dan kesempatan untuk bertemu secara fisik.
Kelelahan tersebut bukan sekadar fisik, melainkan juga kejenuhan emosional akibat koneksi yang dangkal. Namun, sebuah terobosan menarik muncul di Kevikepan Kedu, pada Minggu, 19 April 2026, sebuah inisiatif berani bertajuk “Paskahan Jomblo Kevikepan Kedu” resmi digelar di Griya Sejahtera Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Ini merupakan perhelatan perdana yang dirancang khusus sebagai wadah bagi pribadi-pribadi yang telah siap melangkah ke jenjang pernikahan, namun masih menanti kehadiran teman seperjalanan iman.

Dunia yang terhubung secara global melalui teknologi memang menawarkan kemudahan, namu acara tersebut mengingatkan pada sebuah paradoks media sosial terkadang menjadi ruang yang “menipu”. Kenyamanan di balik gawai sering kali membuat kita merasa sudah merengkuh dunia, padahal kenyataannya kita justru semakin terasing dari realitas di sekitar kita. Pertemuan fisik bukan sekadar formalitas, melainkan kebutuhan manusiawi untuk melihat, mendengar, dan merasakan kejujuran bahasa tubuh yang tidak mampu diterjemahkan oleh algoritma manapun.
‘’Acara ini merupakan upaya kami (Gereja) untuk menyapa teman-teman Katolik yang usianya cukup matang tapi belum menemukan teman hidupnya. Supaya mereka hadir secara fisik dengan mengenal satu sama lain dengan segala kerendahan hati dan kesiapan dari setiap pribadi para peserta’’, tegas Vikaris Episkopal Kedu Romo Romo Antonius Dodit Haryono, Pr ditemui di lokasi acara selepas memberi sambutan Minggu, 19 April siang.

Refleksi ini menyentuh inti masalah modern, bahwa keintiman yang autentik hanya bisa tumbuh ketika seseorang berani meletakkan perangkat digitalnya dan mulai membangun percakapan nyata yang melibatkan seluruh indra.
Menghadiri acara dengan label “Paskahan Jomblo” bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan kekuatan mental dan kerendahan hati untuk melawan rasa enggan atau ketakutan akan penilaian orang lain. Namun, Romo Dodit menegaskan bahwa ini bukanlah sebuah “program penyembuhan”. Sebaliknya, kehadiran para peserta adalah manifestasi dari sebuah keberanian-keberanian untuk menjadi rentan demi mewujudkan harapan masa depan.
Para peserta tercatat sejumlah 117 orang, terdiri dari 61 perempuan dan 56 laki-laki. Faktanya bukanlah pribadi yang pasif. Mereka adalah individu-individu proaktif yang sadar akan pentingnya mengambil langkah nyata. Dengan hadir di sana, mereka menunjukkan kesiapan untuk membuka diri terhadap kemungkinan baru, menanggalkan rasa malu, dan dengan sadar menindaklanjuti niat mereka untuk membangun keluarga Katolik yang berakar kuat.
Adapun daya jangkau acara tersebut melampaui ekspektasi awal. Sebab, panitia mengambil kebijakan untuk membuka pintu bagi peserta dari luar wilayah karena jumlah peserta dari internal Kedu sendiri awalnya tergolong sangat sedikit. Langkah adaptif ini justru membuahkan hasil yang luar biasa, di mana kekuatan informasi melalui flyer elektronik justru berhasil memfasilitasi pertemuan luring yang masif.
Fenomena ini membuktikan bahwa kebutuhan akan ruang pertemuan yang aman dan seiman adalah isu universal yang melintasi batas-batas geografis paroki maupun kevikepan.

Di balik keceriaan pertemuan ini, tersimpan keprihatinan pastoral yang mendalam mengenai masa depan komunitas umat Katolik. Gereja menyadari adanya pergeseran tren demografis yang signifikan. Jika beberapa dekade lalu keluarga Katolik identik dengan kehadiran empat atau lima anak, saat ini tren telah bergeser menjadi hanya satu atau dua anak saja.
Penyusutan kuantitas ini, jika ditambah dengan banyaknya usia produktif yang terlambat atau belum membangun keluarga, dapat mengancam eksistensi umat di masa depan. Oleh karena itu, acara ini bukan sekadar ajang perjodohan atau “makcomblang” religius. Ini adalah upaya strategis Gereja untuk menyeimbangkan kualitas iman dengan kuantitas umat, memastikan bahwa generasi mendatang tetap memiliki keluarga-keluarga Katolik yang bahagia, harmonis, dan menjadi kebanggaan komunitas.
Paskahan Jomblo perdana di Kevikepan Kedu ini memberikan pesan visioner, bahwa di tengah isolasi digital yang kian nyata, komunitas religius tetap mampu menjadi jembatan bagi pertemuan hati yang tulus. Membangun sebuah keluarga memerlukan lebih dari sekadar kesamaan hobi di profil media sosial, ia memerlukan kehadiran fisik, keberanian untuk menyapa, dan ketulusan untuk saling mengenal dalam iman.
Penulis: Agus Weraiter
Editor: Agus Weraiter









