Menjadi Pemimpin yang Melayani: Menginspirasi Langkah Perubahan di Paroki

Twitter
WhatsApp
Email
Romo Yohanes Wahyu Rusmana saat mengisi seminar kepemimpinan di Paroki Santa Maria Fatima Magelang Minggu, 6 September 2026. Foto Istimewa.
Gereja dipanggil untuk menjadi Gereja yang bergerak keluar: tidak berdiam diri, melainkan aktif menyapa mereka yang jauh dan terlupakan. Karena Gereja hadir untuk melanjutkan karya keselamatan Yesus yang berlandaskan belas kasih, maka pemimpin yang mampu membawa perubahan nyata bukanlah mereka yang menuntut, melainkan mereka yang mampu menginspirasi melalui keteladanan hidup.

MAGELANG – Mengangkat tema “Menginspirasi dan Memulai Langkah Perubahan di Paroki/Lingkungan”, Tim Pelayanan Pewartaan dan Evangelisasi Paroki Santa Maria Fatima Magelang menggelar Seminar Kepemimpinan pada Minggu (6/9/2026).

Melalui sambutannya, Ketua Panitia Yohana Fransisca Endang T.M. menyampaikan bahwa pertemuan ini hadir untuk meneguhkan kembali hati para pelayan umat baik di tingkat keluarga, lingkungan, maupun paroki dalam mengemban tugas tugasnya.

Kepemimpinan: Panggilan untuk Melayani, Bukan Menguasai

Romo Heribertus Warnata Nata Wardaya, Pr. dalam pengantarnya mengingatkan pesan mendasar kepemimpinan kristiani: teladan utama kita adalah Yesus sendiri. Seorang pemimpin sejati tidak hadir untuk mengejar kuasa, melainkan untuk menyerahkan diri dalam pelayanan.

Prinsip ini diperdalam oleh Romo Yohanes Wahyu Rusmana, Pr. (Romo Jojo), Direktur Museum Misi Muntilan Pusat Animasi Misioner Keuskupan Agung Semarang. Merujuk pada Injil Markus 10:43–45, Romo Jojo menguraikan tiga refleksi penting mengenai jiwa kepemimpinan Yesus:

  1. Pemimpin sebagai Pelayan: Memiliki kerendahan hati untuk hadir dan bersedia melayani sesama.
  2. Pemimpin sebagai Gembala: Mengenal dan melindungi umat dengan kasih, sebab mereka adalah jiwa-jiwa yang berharga, bukan sekadar aset organisasi.
  3. Pemimpin sebagai Pengurus: Menjalankan setiap reksa pastoral dengan rasa tanggung jawab yang penuh.

“Kepemimpinan adalah sebuah proses perjalanan. Diawali dari kesediaan merespons panggilan, diuji lewat pengalaman jatuh bangun, dan pada akhirnya diteguhkan kembali oleh Kristus.”

Pertobatan Diri sebagai Awal Perubahan

Pada sesi kedua, perhatian diarahkan pada hakikat perubahan itu sendiri. Mengutip pemikiran Paus Fransiskus, Romo Jojo menekankan bahwa pembaruan dalam Gereja tidak pernah dimulai dari orang lain, melainkan dari pertobatan diri sendiri—sebuah langkah untuk menemukan kembali jalan menuju Allah.

Gereja dipanggil untuk menjadi Gereja yang bergerak keluar: tidak berdiam diri, melainkan aktif menyapa mereka yang jauh dan terlupakan. Karena Gereja hadir untuk melanjutkan karya keselamatan Yesus yang berlandaskan belas kasih, maka pemimpin yang mampu membawa perubahan nyata bukanlah mereka yang menuntut, melainkan mereka yang mampu menginspirasi melalui keteladanan hidup.

 

Penulis: Herning Palmono