KOTA MAGELANG, KEDU- Minggu, 19 April 2026, suasana di Gedung Pastoral Paroki Santo Ignatius Magelang terasa sangat dinamis dan berbeda. Alih-alih hanya mendengar suara pemaparan satu arah, ruangan dipenuhi dengan pendar cahaya layar gawai dan bunyi ketukan jemari yang lincah di atas keyboard. Para katekis tidak sedang asyik berselancar di media sosial untuk hiburan; mereka sedang merevolusi narasi iman di ruang digital. Melalui “Pelatihan Pemanfaatan Teknologi Dalam Pewartaan” yang diinisiasi oleh Komisi Kateketik Kevikepan Kedu, wajah katekese kini tengah mengalami transformasi besar.
Berangkat dari pertemuan itu maka tercipta empat terobosan penting untuk membawa katekese masuk ke dalam ekosistem digital secara relevan dan berdampak.
- Relevansi Adalah Kunci Utama Pewartaan
Membuka kegiatan ini, Ketua Komisi Kateketik Kevikepan Kedu, Rm. Diki Palma, Pr, menekankan bahwa teknologi bukan sekadar tren, melainkan sarana krusial agar pesan Injil tidak menjadi asing di telinga umat. Romo Diki memberikan visi bahwa konteks dan bahasa dalam pewartaan haruslah sejalan dengan perkembangan zaman agar dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
“Di era digital katekis harus mampu membuat konten katekese yang relevan dengan jamannya, yaitu dengan memanfatkan teknologi digital supaya bisa diterima semua kalangan.”
Refleksi ini menyadarkan kita bahwa tanpa adaptasi, pengajaran iman berisiko kehilangan daya tariknya di mata generasi digital. Relevansi bukan sekadar soal aplikasi yang digunakan, melainkan bagaimana pesan abadi Gereja dikemas dalam konteks hidup manusia modern.
- Dari Teori Menuju Penguasaan Tools Digital
Narasumber pelatihan, Agustinus Rudi Winarta, S.Pd., M.A., Dosen Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, menekankan bahwa peran katekis kini berevolusi dari sekadar pengajar menjadi kreator konten. Penguasaan media dan teknologi bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban bagi setiap pewarta masa kini.
Pelatihan ini menerapkan metode learning by doing yang intensif. Peserta tidak hanya dijejali teori, tetapi langsung mempraktikkan berbagai tools digital untuk mengubah materi tradisional menjadi konten yang interaktif. Sebagai bentuk akuntabilitas dan ruang belajar bersama, rangkaian acara ini diakhiri dengan presentasi karya oleh masing-masing paroki. Tahap ini menjadi sangat vital karena di sanalah terjadi pertukaran inspirasi dan evaluasi terhadap kualitas pewartaan digital yang telah dibuat.
- Menjembatani Celah Antar Generasi (Senior & Muda)
Inovasi digital seringkali dianggap sebagai “panggung” bagi kaum muda saja. Namun, Lusia Ekaningsih selaku pengurus Komisi Kateketik Kevikepan Kedu menegaskan bahwa gerakan ini bersifat inklusif. Pelatihan ini dirancang untuk menyatukan kedalaman pengalaman para katekis senior dengan kreativitas teknis para katekis muda.
Sinergi ini bertujuan untuk menciptakan sebuah pola katekese yang relevan. Dengan merangkul teknologi, kebijaksanaan iman yang dimiliki para senior dapat dikemas menjadi konten yang mudah diakses oleh kaum muda yang menghabiskan sebagian besar waktunya di depan layar gawai. Ini adalah jembatan yang menyatukan tradisi dan inovasi.
- Kekuatan Kolaborasi Lintas Tim Kerja
Salah satu strategi cerdas yang ditekankan dalam pelatihan ini adalah pentingnya kemitraan strategis di dalam struktur paroki. Antonius Sigit dari Paroki Santa Maria Fatima Magelang mengingatkan bahwa katekis tidak harus bekerja sendirian dalam memikul beban teknis. Sinergi teknis dengan Tim Pelayanan Komunikasi Sosial (Komsos) paroki adalah kunci untuk menghasilkan konten pewartaan yang profesional dan berkualitas tinggi.
Testimoni positif juga datang dari Fathaka, peserta asal Paroki Santo Mikael Panca Arga Magelag, yang merasa sangat beruntung mendapatkan ilmu baru untuk memperkaya metode pengajaran katekumen. Kolaborasi lintas tim ini membuktikan bahwa ketika kearifan katekis bertemu dengan keahlian Komsos, Gereja memiliki “kekuatan super” baru untuk mewartakan sukacita Injil.
Masa depan katekese kini terletak pada keberanian kita untuk melangkah keluar dari zona nyaman dan berinovasi dengan teknologi. Transformasi digital bukanlah upaya untuk menggantikan esensi iman, melainkan memperbarui cara kita menyajikannya agar tetap hidup di hati umat.
Langkah kecil dari layar gawai para katekis hari ini adalah lompatan besar bagi masa depan Gereja. Pertanyaannya bagi kita semua.
Penulis: Herning Palmono
Editor: Agus Weraiter









