Dua Tahun Wafat Emmanuel Imam Suprayitno, Romo Winaryanto Ajak Umat Tinggal dalam Kasih Kristus

Twitter
WhatsApp
Email

PAROKI JETIS — Tinggal di dalam Kristus bukan sekadar mengimani-Nya, melainkan menjalankan perintah-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Pesan itu disampaikan Romo Winaryanto, Pr., dalam homili misa arwah peringatan dua tahun wafatnya Emmanuel Imam Suprayitno di Balai Serba Guna Cokrodiningratan, Paroki Santo Albertus Agung Jetis, Yogyakarta, Sabtu (17/10/2026).

Romo Winaryanto mengajak umat Lingkungan Santo Ignatius Cokrodiningratan memaknai tinggal di dalam Tuhan dengan menyelaraskan kehidupan sehari-hari dengan kehendak-Nya.

Ia menjelaskan, setiap orang secara fisik tinggal di suatu tempat dan hidup berdampingan dengan sesama serta lingkungan sekitar. Kehidupan bersama itu menuntut kesediaan untuk menerima keadaan dan menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada.

Romo Winaryanto menggambarkan situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari tembok rumah yang berbatasan dengan tetangga, suara aktivitas dari rumah sebelah, deru kendaraan, hingga kondisi jalan yang hanya dapat dilalui sepeda motor atau ditempuh dengan berjalan kaki. Kehadiran hewan-hewan kecil di dalam rumah juga menjadi bagian dari kenyataan yang perlu dihadapi.

Menurutnya, ketidakmampuan menerima keadaan tersebut dapat memunculkan kejengkelan dan kejenuhan. Sebaliknya, sikap lapang dada dalam menghadapi situasi sehari-hari dapat membantu seseorang menjalani hidup dengan lebih damai dan bersukacita.

Prinsip menerima dan menyesuaikan diri itu, lanjutnya, juga berkaitan dengan kehidupan iman. Tinggal di dalam Kristus berarti menjalankan sabda dan perintah-Nya, terutama perintah untuk saling mengasihi.

Pesan tersebut sejalan dengan Injil Yohanes 15:9-12. Dalam bacaan itu, Yesus mengajak para murid untuk tinggal di dalam kasih-Nya dengan menuruti perintah-Nya dan saling mengasihi sebagaimana Ia telah mengasihi mereka.

Romo Winaryanto menyebut mengasihi sesama, mengampuni orang lain, bersabar dalam penderitaan, dan tekun berdoa sebagai wujud kehidupan yang tinggal di dalam Kristus. Sikap-sikap tersebut, menurutnya, telah lebih dahulu diteladankan oleh Yesus.

Pesan tentang ketabahan dalam penderitaan juga berkaitan dengan bacaan pertama dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus (2Kor. 1:3-7). Paulus menggambarkan Allah sebagai sumber segala penghiburan yang menguatkan umat dalam penderitaan, sehingga mereka dapat menghibur sesama yang mengalami kesulitan.

Romo Winaryanto menegaskan bahwa orang yang tinggal di dalam Kristus dan menjalankan tuntunan-Nya akan memperoleh kekuatan dari Tuhan. Ia juga mengingatkan harapan umat untuk kelak hidup bersama Tuhan dalam kemuliaan-Nya.

Dalam peringatan dua tahun wafatnya Emmanuel Imam Suprayitno, pesan tersebut menjadi ajakan bagi umat untuk terus belajar menerima keadaan, mengasihi sesama, dan menghidupi iman dalam keseharian. Harapan akan kehidupan bersama Tuhan juga menjadi bagian dari doa bagi almarhum dan penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Penulis: Benedictus Fredika