Bersama iringan hujan, Bulan Maria dibuka seraya mengenang Santo Yusup Pekerja

Twitter
WhatsApp
Email
Vikaris Episkopal Kedu atau Vikep KEdu Romo Antonius Dodit Haryono, Pr, Romo Antonius Abbas Kurnia Andrianto, Pr Romo Paroki Santo Yusup Pekerja Mertoyudan, dan Romo Agustinus Giyono DD, Pr Vikaris Paroki Mertoyudan dalam momen pemberkatan lahan untuk pembangunan Paroki Santo Yusup Pekerja Mertoyudan, Jumat, 1 Mei 2026. Foto: Sunbio Pratama (Komsos Kedu).
Perayaan Pesta Nama Santo Yusup Pekerja di paroki Mertoyudan tahun ini terasa sangat bermakna karena letaknya yang berada tepat di ambang pintu bulan Mei. Dalam tradisi Gereja, momen transisi ini mempertemukan dua teladan agung dalam satu tarikan napas liturgi. Kita diajak untuk mengenang ketekunan Santo Yusup dalam karya tangannya, sembari secara resmi melangkah masuk ke dalam bulan yang didedikasikan untuk Bunda Maria.

MERTOYUDAN, KEDU- Pagi itu, Jumat, 1 Mei 2026, Mertoyudan dibalut oleh suasana yang begitu syahdu. Rintik hujan  mengetuk atap gereja dan aroma tanah basah yang menyeruak menciptakan harmoni alami yang menenangkan jiwa. Bagi kita yang hadir, cuaca pagi itu seolah bukan sekadar fenomena alam, melainkan sebuah sapaan lembut dari langit. Di tengah iringan gerimis, umat berkumpul bukan hanya untuk menjalankan rutinitas, melainkan untuk merayakan sebuah sinkronisitas iman yang indah, penghormatan kepada Santo Yusup Pekerja sekaligus pembukaan Bulan Maria.

Perayaan Pesta Nama Santo Yusup Pekerja di paroki Mertoyudan tahun ini terasa sangat bermakna karena letaknya yang berada tepat di ambang pintu bulan Mei. Dalam tradisi Gereja, momen transisi ini mempertemukan dua teladan agung dalam satu tarikan napas liturgi. Kita diajak untuk mengenang ketekunan Santo Yusup dalam karya tangannya, sembari secara resmi melangkah masuk ke dalam bulan yang didedikasikan untuk Bunda Maria.

Persimpangan devosi ini memberikan pesan yang kuat bagi kita,  bahwa kerja keras dan ketaatan (Yusup) harus selalu berjalan beriringan dengan kasih dan kelembutan keibuan (Maria). Kehadiran hujan seolah menjadi saksi bisu bagi penyatuan dua energi spiritual ini.

Perayaan Ekaristi tersebut dipimpin oleh 3 Imam yakni Vikaris Episkopal Kedu atau Vikep KEdu Romo Antonius Dodit Haryono, Pr, Romo Antonius Abbas Kurnia Andrianto, Pr Romo Paroki Santo Yusup Pekerja Mertoyudan, dan Romo Agustinus Giyono DD, Pr Vikaris Paroki Mertoyudan.

Momen tersebut juga sebagai tanda awal rangkaian Hari Ulang Tahun atau HUT ke-70 Paroki Mertoyudan, sekaligus pemberkatan lahan untuk pembangunan gedung fasiilitas Gereja.

Vikaris Episkopal Kedu atau Vikep Kedu Romo Antonius Dodit Haryono, Pr, Romo Antonius Abbas Kurnia Andrianto, Pr Romo Paroki Santo Yusup Pekerja Mertoyudan dalam momen pemberkatan lahan untuk pembangunan Paroki Santo Yusup Pekerja Mertoyudan, Jumat, 1 Mei 2026. Foto: Sunbio Pratama (Komsos Kedu).
Vikaris Episkopal Kedu atau Vikep Kedu Romo Antonius Dodit Haryono, Pr, Romo Antonius Abbas Kurnia Andrianto, Pr Romo Paroki Santo Yusup Pekerja Mertoyudan dalam momen pemberkatan lahan untuk pembangunan Paroki Santo Yusup Pekerja Mertoyudan, Jumat, 1 Mei 2026. Foto: Sunbio Pratama (Komsos Kedu).

Pada momen itu ditemui selepas Misa, Vikep Kedu Romo Dodit menyampaikan pesan dalam suasana santai. Dengan nada jenaka yang menyegarkan, Romo sempat berseloroh saat mengangkat properti sederhana.

“Membawa sapu ini bukan nenek sihir ya ini ya’’, kata Romo Dodit sambil memegang sapu lidi bertangkai panjang.

Candaan ini mengandung pesan yang dalam,  yakni  membangun Paroki Mertoyudan di usia ke-70 ini, tidak ada tongkat sihir yang bisa mengubah segalanya secara instan. Sapu adalah alat untuk penataan. Ia berfungsi untuk membersihkan kotoran sekaligus mengembalikan keteraturan.

Momen 1 Mei sebagai hari buruh juga disinggung oleh Romo Dodit, pihaknya kembali menegaskan,’’ “Gak usah banyak kata, gak usah banyak bicara. Mari kerja’’.

Vikaris Episkopal Kedu atau Vikep Kedu Romo Antonius Dodit Haryono, Pr saat homili di Paroki Santo Yusup Pekerja Mertoyudan, Jumat, 1 Mei 2026. Foto: Sunbio Pratama (Komsos Kedu).
Vikaris Episkopal Kedu atau Vikep Kedu Romo Antonius Dodit Haryono, Pr saat homili di Paroki Santo Yusup Pekerja Mertoyudan, Jumat, 1 Mei 2026. Foto: Sunbio Pratama (Komsos Kedu).

Sebab kata Romo Dodit, Santo Yusuf adalah pribadi yang irit bicara namun melimpah dalam aksi. Ia tidak meninggalkan banyak kutipan di Kitab Suci, namun seluruh hidupnya adalah khotbah tentang kesetiaan. Di usia ke-70 ini, Paroki Mertoyudan mengajak kita semua untuk mengadopsi “Teologi Aksi” ini, terutama dalam rencana besar pengembangan pastoral dan penggalangan dana pembangunan.

 

Sementara itu Romo Kurnia juga menyampaikan soal tujuan dan harapan pembangunan Gereja.

‘’Pembangunan tersebut bertujuan untuk menata ulang kawasan pastoral berdasarkan pembagian zona yang lebih teratur, mulai dari area liturgi hingga ruang  pastoran’’, papar Romo Kurnia.

Vikaris Episkopal Kedu atau Vikep Kedu Romo Antonius Dodit Haryono, Pr, Romo Antonius Abbas Kurnia Andrianto, Pr Romo Paroki Santo Yusup Pekerja Mertoyudan , dan Romo Agustinus Giyono DD, Pr Vikaris Paroki Mertoyudan dalam momen pesta nama Paroki Santo Yusup Pekerja Mertoyudan, Jumat, 1 Mei 2026. Foto: Sunbio Pratama (Komsos Kedu).
Vikaris Episkopal Kedu atau Vikep Kedu Romo Antonius Dodit Haryono, Pr, Romo Antonius Abbas Kurnia Andrianto, Pr Romo Paroki Santo Yusup Pekerja Mertoyudan , dan Romo Agustinus Giyono DD, Pr Vikaris Paroki Mertoyudan dalam momen pesta nama Paroki Santo Yusup Pekerja Mertoyudan, Jumat, 1 Mei 2026. Foto: Sunbio Pratama (Komsos Kedu).

Langkah ini diambil guna mengakomodasi pertumbuhan jumlah jemaat yang terus meningkat seiring hadirnya keluarga-keluarga muda di wilayah tersebut. Kapasitas gedung gereja akan diperluas secara signifikan agar mampu menampung hingga 750 orang dalam satu ruangan. Melalui penataan ini, pihak paroki berharap dapat menyediakan fasilitas pelayanan yang lebih optimal bagi seluruh umat. Proyek ini mencerminkan upaya gereja dalam menanggapi dinamika kebutuhan ruang dan kegiatan keagamaan yang semakin berkembang.

Setali tiga uang, Ketua Panitia Pembangunan Gereja B. Budi Waskita menjelaskan pembangunan dalam konteks fisik.

B.Budi Waskita dalam wawancara soal pembangunan gereja di Paroki Santo Yusup Pekerja Mertoyudan, Jumat, 1 Mei 2026. Foto: Sunbio Pratama (Komsos Kedu).
B.Budi Waskita dalam wawancara soal pembangunan gereja di Paroki Santo Yusup Pekerja Mertoyudan, Jumat, 1 Mei 2026. Foto: Sunbio Pratama (Komsos Kedu).

Budi menegaskan,’’ Tahap awal pembangunan akan difokuskan pada gedung pelayanan pastoral, termasuk kantor sekretariat, ruang pertemuan, serta fasilitas multimedia. Desain induk yang telah disusun juga sangat memperhatikan inklusivitas bagi seluruh  umat, dengan menyediakan aksesibilitas disabilitas, ruang laktasi, dan toilet yang memadai’’.

Melalui penataan ini, pihak paroki berharap dapat menyediakan fasilitas pelayanan yang lebih optimal bagi seluruh umat. Proyek ini mencerminkan upaya gereja dalam menanggapi dinamika kebutuhan ruang dan kegiatan keagamaan yang semakin berkembang.

Penulis: Agus Weraiter

Editor: Agus Weraiter