Peziarahan Iman dan Batin: Merawat Ingatan dengan Gelaran Peregrinatio Ignatii

Oleh web.kedu
3 Nov 2026
Tangkapan layar video pesawat nirawak tim Komsos Kedu.

KEDU, MAGELANG — Udara dingin pagi belum sepenuhnya sirna dan matahari masih enggan menampakkan wujudnya ketika ratusan langkah kaki mulai berkumpul di halaman Gereja Santo Ignatius, Kota Magelang, pada Minggu, 1 November 2026. Gereja yang berdiri kokoh sebagai saksi bisu perjalanan sejarah misionaris Katolik di tanah Jawa ini menjadi titik awal bagi sekitar 300 umat yang datang dari berbagai pelosok daerah. Tidak hanya dari kawasan Magelang dan sekitarnya, peziarah juga datang jauh-jauh dari Tangerang, Jakarta, Bogor, hingga Semarang.

Antusiasme dan keheningan menyatu dalam acara bertajuk “Peregrinatio Ignatii”—sebuah perjalanan batin menempuh jarak sejauh 18,5 kilometer. Menyusuri rute jalan utama Magelang–Blabak hingga menembus keheningan jalan-jalan perkampungan, para peziarah melangkah menuju titik akhir di Kompleks Pemakaman Kerkhof, Muntilan.

Perziarahan ini digelar bukan sekadar untuk menguji ketahanan fisik, melainkan untuk mengenang dan merawat ingatan atas pengorbanan sepuluh martir yang gugur pada masa perang kemerdekaan, tepatnya tanggal 1 November 1945. Langkah-langkah kaki ini meneladani jejak iman para martir Magelang: Pater Gerardus Aben, S.J., Pater Gerardus Minderop, S.J., Pater Joannes Schouten, S.J., Pater Josephus Versteegh, S.J., Pater Ludovicus Weve, S.J., Bruder Dominicus Widyasoepadma, S.J., Frater Norbertus Dirdjasoewita, S.J., serta Frater Willibrodus Mooi-Wilten, S.J.

Tak lupa, doa dan ingatan mendalam juga ditujukan bagi Romo Richardus Kardis Sanjaya, Pr., pastor paroki yang setia mendampingi umat di masa perjuangan, serta Romo Tarcisius Dewanto, SJ., putra asli Paroki St. Ignatius Magelang yang gugur di Timor Timur akibat kekejaman milisi.

Keberangkatan rombongan diawali dengan kibasan bendera start oleh Walikota Magelang, H. Damar Prasetyono. Dalam sambutannya, Walikota menyampaikan rasa bangga dan mengapresiasi tinggi terselenggaranya kegiatan ini. Beliau berharap peristiwa ini menjadi wujud nyata bahwa Kota Magelang adalah rumah yang toleran, sekaligus menjadikan perjalanan ini sebagai langkah iman untuk makin tulus melayani Tuhan dan sesama.

Sementara itu, Kepala Paroki St. Ignatius Magelang, Rm. F.X. Alip Suwito, Pr., menegaskan makna mendalam dari perziarahan ini.

“Kegiatan ini adalah sarana bagi kita semua untuk mengenang kembali para martir yang wafat pada 1 November 1945. Mari kita meneladani sikap dan kesetiaan mereka yang selalu siap menjadi pelayan Tuhan, bahkan sampai menghembuskan napas terakhir,” tutur Rm. Alip.

Pemandangan haru dan inspiratif mewarnai sepanjang rute perjalanan. Peziarahan ini menembus batas usia—tampak anak-anak kecil bersemangat melangkah, hingga para lansia yang meski fisik tak lagi muda, tetap teguh menyusuri kilometer demi kilometer dengan dorongan semangat iman hingga berhasil menyentuh garis finish di Muntilan.

Melalui Peregrinatio Ignatii, jejak-jejak pengorbanan para martir tidak berakhir dalam lembaran sejarah, melainkan terus hidup dan mengobarkan semangat kesetiaan iman bagi seluruh umat Gereja Katolik saat ini.

Foto dan tulisan  oleh: Tim Komsos Kevikepan Kedu

WhatsApp
Facebook
Twitter
Email

Berita Terkait

KALENDER LITURGI

Hari Ini dalam Liturgi