Percik Firman: Tradisi Mendoakan Jiwa-Jiwa Orang Beriman

Oleh lektor
2 Nov 2026

Senin, 2 November 2026
PW Arwah Semua Orang Beriman
Bacaan: Yoh 6:37-40

Saudari-saudaraku yang terkasih,
Dalam bacaan Injil pada Peringatan Arwah Semua Orang Beriman hari ini, Tuhan Yesus mengungkapkan apa yang menjadi kehendak Allah. Ditegaskan Tuhan Yesus, “Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman”.

Allah menghendaki kita semua yang beriman pada Kristus mengalami keselamatan, selalu bersatu, tidak hilang dari kawanan, dan akan dibangkitkan pada akhir zaman.

Ada tradisi Gereja yang sangat baik setiap tanggal 2 November, yakni mendoakan semua arwah orang beriman, yaitu saudari/a kita yang sudah dipanggil Tuhan. Hari ini menjadi waktu yang tepat untuk mengenangkan mereka yang telah meninggal dunia, baik melalui intensi/ujub Misa bagi kedamaian kekal jiwa mereka, mengenangkan mereka secara khusus dalam Misa Arwah, maupun mengunjungi makam (jika memungkinkan).

Dengan misa arwah, kita hendak memuji dan bersyukur kepada Allah atas anugerah kehidupan ini. Melalui Ekaristi Gereja memohon cinta dan belas kasih Allah, serta pengampunan dosa bagi orang yang meninggal dunia. Pada perayaan Ekaristi itu seluruh umat kristiani mengungkapkan kesatuan Gereja di dunia dengan Gereja di surga yang berhimpun dalam persekutuan para kudus. Itulah yang dikenal dengan persekutuan dengan semua orang kudus (communio sanctorum).

Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK no. 954), diajarkan bahwa Kristus menyatukan seluruh anggota Gereja dalam communio sanctorum, yakni: mereka yang masih mengembara di dunia ini (Gereja yang berziarah), mereka yang sedang dimurnikan di dalam Api Penyucian (Gereja yang menderita), maupun mereka yang telah bahagia di Sorga (Gereja yang mulia).

Gereja tidak hanya berdoa untuk umatnya yang masih hidup di dunia, tetapi juga berdoa untuk umatnya yang sudah meninggal dunia. Gereja dipanggil untuk mempersembahkan kurban Ekaristi bagi umatnya yang semasa hidup mengimani Kristus.
Praktek ini bukanlah praktek baru. Katekismus Gereja Katolik menyatakan, “Sudah sejak zaman dahulu Gereja menghargai peringatan akan orang-orang mati dan membawakan doa dan terutama kurban Ekaristi untuk mereka, supaya mereka disucikan dan dapat memandang Allah dalam kebahagiaan” (no. 1032).

Cara-cara apa yang paling efektif untuk membantu membebaskan arwah-arwah dari Api Penyucian? Menurut Maria Simma, cara yang paling efisien adalah melalui Misa Kudus. Mengapa Misa Kudus? Yesus Kristus sendiri menawarkan diriNya karena kasih terhadap kita. Dia mengurbankan diri-Nya di salib untuk menebus dosa kita.

Gereja mengajarkan: “Misa Kudus melampaui ruang dan waktu, mempersatukan segenap umat beriman di surga, di bumi dan di api penyucian dalam Komuni Kudus, dan Ekaristi Kudus sendiri mempererat persatuan kita dengan Kristus, menghapus dosa-dosa ringan serta melindungi kita dari dosa berat di masa mendatang” (bdk. KGK no. 1391-1396).

Selain misa kudus, kita juga bisa menolong jiwa-jiwa di Api Penyucian dengan mengucapkan doa Rosario. Melalui doa Rosario, banyak jiwa dibebaskan dari Api Penyucian setiap tahunnya. Bunda Maria datang ke Api Penyucian untuk membebaskan mereka. Jiwa-jiwa itu memanggil Bunda Maria dengan sebutan “Bunda Belaskasih.” Santo Thomas Aquinas mengungkapkan, “Banyak jiwa yang seharusnya tidak pantas, telah berada di Surga berkat Doa Rosario”

Mari kita bertekun mendoakan jiwa-jiwa saudara-saudari kita yang sudah meninggal dunia.

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr

WhatsApp
Facebook
Twitter
Email

Berita Terkait

KALENDER LITURGI

Hari Ini dalam Liturgi