Gereja Katolik Jogja Gaungkan Lagi Laudato Si’

Twitter
WhatsApp
Email

Yogyakarta, 14 September 2026 — Kevikepan Yogyakarta Timur dan Yogyakarta Barat mendorong penguatan Gerakan Paroki Hijau melalui webinar dan sosialisasi bertajuk “Hamemayu Bumi Mataram: Merawat Keutuhan Ciptaan, Menghidupi Iman”, Senin (14/9) malam. Kegiatan ini menjadi bagian dari gerakan bersama “Ubah Sisa Menjadi Sumber Hidup” untuk mengembangkan keterlibatan Gereja dalam persoalan ekologis dan sosial di Yogyakarta.

Webinar menghadirkan Albertus Aryanto Nugroho dari Tim Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Kabupaten Sleman dan Agustinus Irawan (AG Irawan), pegiat lingkungan dan Forum Komunitas Sungai Sleman (FKSS). Keduanya memberikan perspektif mengenai kondisi ekologis Yogyakarta, persoalan pengelolaan lingkungan, serta pengalaman gerakan masyarakat dalam merawat sungai dan lingkungan.

Dalam pengantar kegiatan, Rm. Martinus Joko Lelono, Pr., menegaskan bahwa gerakan ekologis Gereja perlu diawali dengan kemampuan untuk melihat kenyataan. Gereja perlu membaca situasi pengelolaan lingkungan di Yogyakarta sebagai bagian dari upaya menemukan ruang keterlibatan Gereja dalam berbagai persoalan sosial. Menurutnya, keterlibatan Gereja tidak cukup berhenti pada kegiatan internal, tetapi perlu berangkat dari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Karena itu, gerakan Paroki Hijau diharapkan menjadi ruang bagi Gereja untuk belajar, berjejaring, dan mengambil bagian dalam menjawab persoalan ekologis di lingkungan sekitarnya.

Paparan para narasumber kemudian dilanjutkan dengan dialog bersama peserta yang terdiri dari para pastor, penggerak paroki, Tim Paroki Hijau, pengurus wilayah dan lingkungan, OMK, WKRI, serta umat dari berbagai paroki. Pada bagian penutup, Rm. Marcellinus Tanto, Pr., Vikep Yogyakarta Timur, menegaskan bahwa gerakan ekologis di paroki perlu memperhatikan bukan hanya tindakan-tindakan konkret, tetapi juga upaya edukasi untuk membangun kesadaran publik.

     

Menurutnya, berbagai program lingkungan yang sudah dilakukan merupakan langkah penting. Namun, Gereja juga perlu terus mengusahakan pendidikan dan pembentukan kesadaran agar kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti pada kegiatan tertentu, melainkan menjadi budaya bersama. “Tidak ada kata terlambat. Kalau selama ini belum bisa diupayakan, mari kita mulai dan kita buat semampu kita, dalam lingkup yang kecil dan sederhana,” demikian pesan Rm. Tanto. Ia juga mengingatkan pentingnya membangun kerja sama dengan berbagai jejaring yang telah dimiliki Gereja. Persoalan ekologis, menurutnya, tidak dapat dikerjakan sendirian. Karena itu, paroki perlu membuka ruang kolaborasi dengan komunitas, lembaga, dan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap lingkungan hidup.

Gerakan “Ubah Sisa Menjadi Sumber Hidup” selanjutnya diarahkan pada pemetaan berbagai inisiatif ekologis yang telah berjalan di paroki-paroki, pengenalan persoalan lingkungan yang paling relevan di setiap wilayah, serta pengembangan bentuk keterlibatan konkret Gereja.

       

Dengan demikian, Paroki Hijau diharapkan tumbuh bukan sekadar sebagai program tambahan, tetapi sebagai gerakan yang membangun kesadaran, tindakan, dan jejaring untuk merawat rumah bersama—dimulai dari hal-hal kecil, sederhana, dan sesuai dengan kemampuan masing-masing paroki.

Dokumentasi Acara

Dokumentasi lengkap acara webinar dan sosialisasi ini dapat disaksikan melalui siaran langsung di kanal YouTube berikut:

Dokumentasi Webinar Paroki Hijau – YouTube Live