Merto Got Talent, Panggung Talenta Umat Menyambut 70 Tahun Paroki Santo Yusup Mertoyudan

Twitter
WhatsApp
Email
Pengisi acara Merto Got Talent Minggu (30/8/2026), di Griya Witaka. Foto: Sunbio Pratama
Merto Got Talent bukan semata-mata tentang siapa yang memiliki suara terbaik atau penampilan paling menarik. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa perjalanan sebuah paroki dibangun oleh banyak pribadi dengan talenta yang berbeda-beda.

MERTOYUDAN, KEDU — Griya Witaka Paroki Santo Yusup Pekerja Mertoyudan mendadak semarak pada Minggu (30/8/2026). Suara nyanyian, iringan musik, dan tepuk tangan umat bergantian memenuhi gedung serbaguna tersebut. Hari itu, panggung Griya Witaka menjadi ruang bagi umat untuk menunjukkan talenta yang selama ini mungkin jarang terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

 

Sebanyak 25 peserta dari berbagai lingkungan ambil bagian dalam Merto Got Talent. Mereka tampil membawa beragam kemampuan dan kreativitas. Salah satunya adalah perwakilan Santo Yohanes Tegalsari, Candimulyo, yang menyuguhkan penampilan vokal dengan iringan organ.

 

Penampilan demi penampilan tidak hanya menghibur para penonton. Di balik setiap peserta yang naik ke panggung, tersimpan keberanian untuk tampil dan berbagi kemampuan dengan umat lainnya. Dukungan penonton pun membuat suasana semakin hangat. Tepuk tangan dan sorakan menjadi penyemangat bagi para peserta untuk menyelesaikan penampilan.

Suasana dari sudut penonton acara Merto Got Talent Minggu (30/8/2026), di Griya Witaka Paroki Santo Yusup Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Foto: Sunbio Pratama.
Suasana dari sudut penonton acara Merto Got Talent Minggu (30/8/2026), di Griya Witaka Paroki Santo Yusup Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Foto: Sunbio Pratama.

 

Merto Got Talent merupakan bagian dari rangkaian kegiatan menyambut 70 tahun Paroki Santo Yusup Pekerja Mertoyudan. Ajang ini sekaligus menjadi kesempatan bagi umat dari berbagai lingkungan untuk bertemu, berinteraksi, dan merayakan kebersamaan sebagai satu keluarga besar paroki.

 

Perayaan tujuh dekade Paroki Santo Yusup Pekerja Mertoyudan tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang umat Katolik di wilayah Mertoyudan.

 

Paroki Santo Yusup Pekerja Mertoyudan resmi berdiri pada 29 September 1956. Perintisan pembangunan gereja tidak terlepas dari peran R.P.Th. Van der Putten, S.J., atau yang lebih dikenal sebagai Romo Puten. Pada masa itu, Romo Puten menggagas pembangunan rumah ibadah bagi umat Katolik di wilayah Mertoyudan yang jumlahnya terus berkembang.

 

Gagasan tersebut kemudian diwujudkan melalui pembangunan Gereja Santo Yusup Pekerja Mertoyudan. Bangunan gereja selesai pada Agustus 1956. Sebulan kemudian, pada 29 September 1956, Paroki Santo Yusup Pekerja Mertoyudan resmi berdiri. Peresmian tersebut dilakukan oleh Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang Mgr. Albertus Soegijapranata.

 

Sejak saat itu, perjalanan paroki terus berkembang. Gereja tidak hanya menjadi tempat umat merayakan Ekaristi, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya berbagai kegiatan pelayanan, pendidikan, kebudayaan, dan kebersamaan umat.

 

Semangat tersebut kembali tampak dalam Merto Got Talent. Tujuh puluh tahun perjalanan paroki dirayakan bukan hanya dengan mengenang sejarah masa lalu, tetapi juga dengan memberi ruang bagi umat masa kini untuk berkreasi dan mengambil bagian.

 

 

Merto Got Talent menunjukkan bahwa setiap umat memiliki talenta yang dapat dibagikan. Panggung menjadi titik temu antara kemampuan pribadi dan semangat komunitas.

 

Merto Got Talent bukan semata-mata tentang siapa yang memiliki suara terbaik atau penampilan paling menarik. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa perjalanan sebuah paroki dibangun oleh banyak pribadi dengan talenta yang berbeda-beda.

 

Dalam masa untuk menyambut usia 70 tahun, Paroki Santo Yusup Pekerja Mertoyudan kembali menunjukkan bahwa perjalanan panjang sebuah komunitas tidak hanya ditulis dalam catatan sejarah, tetapi juga terus hidup dalam diri umat yang berkumpul, berkarya, dan merayakan iman bersama.

Ketua Panitia HUT ke-70 Paroki Santo Yusup Mertoyudan J.R Filian Perdana dalam momen acara  Merto Got Talent Minggu (30/8/2026), di Griya Witaka Paroki Santo Yusup Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Foto: Sunbio Pratama.
Ketua Panitia HUT ke-70 Paroki Santo Yusup Mertoyudan J.R Filian Perdana dalam momen acara Merto Got Talent Minggu (30/8/2026), di Griya Witaka Paroki Santo Yusup Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Foto: Sunbio Pratama.

Sementara itu dalam bincang singkat bersama  pembawa acara Wahyu Aryono Nugroho atau Awang alias Awang Suheri (suka heboh sendiri) ketua panitia HUT ke-70 Paroki Santo Yusup Mertoyudan J.R Filian Perdana menegaskan,’’ Merto Got Talent diselenggarakan untuk mengenal talenta para umat, yang nantinya bisa dikaryakan untuk Gereja.’’ Ia berharap muncul wajah baru yang akan melayani untuk gereja di masa depan.

 

Rangkaian acara HUT Paroki Santo Yusup Mertoyudan masih panjang, termasuk pertandingan Voli Gembira yang berlangsung dalam 2 pekan di bulan September 2026 ini.

 

Penulis: Agus Weraiter

Forografer: Sunbio Pratama