Pertemuan Jomlo Katolik Terus Berjalan, Mendaraskan Iman, Harapan, dan Cinta, Romo Santo: Yang Penting Asyik Dulu!

Twitter
WhatsApp
Email
- Momen acara Komunitas Jomlo Katolik di Gua Maria Kerep Ambarawa (GMKA) pada Minggu, 12 Juli 2026. Dokumentasi oleh Harry Nugroho, Dimas Bangkit dari Komsos Kedu.
Dari kegiatan tersebut telah menemukan 21 pasangan, sementara itu bagi yang belum mendapatkan semoga  segera menemukan yang cocok dengan saling berinteraksi melalui kontak para peserta Jomlo Katolik jilid 2 kali ini.

AMBARAWA, KEDU- Gua Maria Kerep Ambarawa (GMKA) menjadi tempat berkumpul para jomlo pada  Minggu, 12 Juli 2026.

Komunitas Jomlo Katolik di Kevikepan Kedu mengadakan kegiatan berjudul “Aku Katolik Kamu Katolik Yuuukk Kanonik” jilid 2. Kali ini meneruskan program dari mendiang Romo Andreas Setyo Budi Sambodo, Pr ( Romo Busyet), untuk diketahui Romo Busyet meninggal dunia karena sakit pada Jumat, 3 Juli lalu. Program soal jomlo ini telah lama berjalan dengan kendali Romo Busyet, seperti pada sebelumnya  yang sudah berlangsung di Ngablak April lalu.

Dalam kegiatan di GMKA ini  melibatkan sejumlah 110 peserta yang datang dari beragam daerah di Keuskupan Agung Semarang,  bahkan dalam kesempatan yang sama ada pula umat Katolik dari Kalimantan yang bertandang. Selepas meninggalnya Romo Busyet tongkat estafet dipegang  Romo. Yohanes Dwi Harsanto, Pr  Vikep Kategorial Keuskupan Agung Semarang.

Romo Santo menyampaikan beberapa hal dalam perhelatan tersebut,’’Teman-teman, saya  mengajak kalian semua untuk mencoba membuka wacana dan mengolah diri ,menurut neuroscience: satu hal yang paling dibutuhkan dalam acara jomlo adalah “Rasa Aman”, bukan ganteng, bukan kaya, bukan jago PDKT (pendekatan).

Pas acara “cari jodoh”, otak semua orang masuk mode memindai atau scan.

Pertanyaan di otak peserta: “Orang-orang ini aman nggak ya bagiku?  Jangan-jangan nanti di-judge? Jangan-jangan aku dibikin malu?”, tegas Romo Santo.

Momen acara Komunitas Jomlo Katolik di Gua Maria Kerep Ambarawa (GMKA)  pada  Minggu, 12 Juli 2026. Dokumentasi oleh Harry Nugroho, Dimas Bangkit dari Komsos Kedu.
Momen acara Komunitas Jomlo Katolik di Gua Maria Kerep Ambarawa (GMKA) pada Minggu, 12 Juli 2026. Dokumentasi oleh Harry Nugroho, Dimas Bangkit dari Komsos Kedu.

 

 

Kalau rasa aman tidak ada, maka hormon cinta tidak akan keluar. Dopamin, oksitosin, serotonin ketutup oleh hormon stres kortisol, Romo Santo melanjutkan.

Adapun dalam perhelatan itu dijeaskan oleh Romo Santo bahwa  terdapat  tiga Kebutuhan otak Jomlo:

Kebutuhan pertama ialah kebutuhan akan rasa aman psikologis. Maksudnya adalah sebagai jomlo boleh jadi diri sendiri di sini tanpa dihakimi.

Kalau kita tegang, maka suaranya menjadi lirih, bahasa tubuhnya menutup diri . Otak lawan bicara akan memahami bahwa  ini berbahaya, aneh. Padahal sebenarnya hanya gugup.

Maka suasana dalam acara itu harus cair agar rasa aman tercipta yaitu antara lain “nggak boleh nanya umur atau pendapatan atau pekerjaan” di awal. Namun lakukan aktivitas bersama agar  fokusnya bergeser  dari “menilai” atau “merasa dinilai” ke bergurau bersama dalam dinamika yang asyik.

Momen acara Komunitas Jomlo Katolik di Gua Maria Kerep Ambarawa (GMKA)  pada  Minggu, 12 Juli 2026. Dokumentasi oleh Harry Nugroho, Dimas Bangkit dari Komsos Kedu.
Momen acara Komunitas Jomlo Katolik di Gua Maria Kerep Ambarawa (GMKA) pada Minggu, 12 Juli 2026. Dokumentasi oleh Harry Nugroho, Dimas Bangkit dari Komsos Kedu.

Selanjutnya adalah kebutuhan kedua yakni hormon yang terkait dengan perasaan senang dan penasaran. Kebutuhan adalah  ketiga: hormon oksitosin  atau Rasa Koneksi yang bisa memicu momen ‘’klik’’ antarpeserta.

 

Menurut Romo Santo acara mewah tapi kaku maka semua pulang dengan tangan kosong atau perasaan hampa. Namun zcara sederhana tapi tertawa bersama maka bisa ada 2-3 yang yang berjodoh.

 

Kita sadar bawa “kita mau berjumpa untuk menambah koneksi bukan menuntut menikah . Target: “hari ini aku harus ketawa”. Otak rileks pasti lebih menarik begitu kata Romo Santo dalam memberikan materinya.

Dari neuroscience yg saya pelajari, orang tidak akan jatuh cinta pada profil terbaik seseorang. Orang jatuh cinta pada  jomlo yang paling nyaman agar pasangan hidup pas bareng dia. Supaya nyaman, acaranya pun kita bikin nyaman, tukas Romo Santo.

Selain itu, ada sesi permainan yang  mengajak peserta saling berkomunikasi dan mengenal lebih dekat satu sama lain.

Adapun panitia juga menyiapkan game outdoor di taman belakang patung Bunda Maria. Peserta diajak bermain secara berkelompok sambil menemukan rasa kedekatan personal kemudian akhirnya berdialog secara berpasangan.

Setelah menemukan pasangan, aktivitas berlanjut secara pribadi untuk meneruskannya setelah cara selesai. Sebagai informasi, panitia hanya memantau perkembangan setelah acara berakhir sampai pada titik memutuskan untuk menikah, jelas Supra & Santi pasangan suami istri  hasil dari pertemuan jomlo yang kemudian pernikahannya diberkati oleh mendiang Romo Busyet.

 Momen acara Komunitas Jomlo Katolik di Gua Maria Kerep Ambarawa (GMKA)  pada  Minggu, 12 Juli 2026. Dokumentasi oleh Harry Nugroho, Dimas Bangkit dari Komsos Kedu.
Momen acara Komunitas Jomlo Katolik di Gua Maria Kerep Ambarawa (GMKA) pada Minggu, 12 Juli 2026. Dokumentasi oleh Harry Nugroho, Dimas Bangkit dari Komsos Kedu.

Dalam akhir sesi saat santai bersama Romo Santo menjelaskan,  Program perjumpaan para jomlo ini  akan tetap berjalan sebagai upaya membantu kaum muda para jomlo Katolik. Nantinya dapat berujung menemukan pasangan yang seiman di tengah kesibukan dalam akivitasnya masing-masing. Biasanya mereka telah larut dalam ‘’kegiatan dewasa’’ sehingga tidak terpikirkan untuk  mencari jodoh, maka di dalam Tuhan kita pasti mampu. Dari kegiatan tersebut telah menemukan 21 pasangan, sementara itu bagi yang belum mendapatkan semoga  segera menemukan yang cocok dengan saling berinteraksi melalui kontak para peserta Jomlo Katolik jilid 2 kali ini.

Penulis: G. D. Harry Nugroho

Foto: Dimas Bangkit

Editor: Agus Weraiter