Percik Firman: Hati Yesus Tempat untuk Pulang

Twitter
WhatsApp
Email
Pada hari ini kita merayakan Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus. Hari raya ini merupakan perayaan kasih Allah yang tanpa batas. Allah memilih kita karena kasih-Nya, bukan karena jasa, prestasi atau kehebatan manusia (Ul. 7:6-11).

Jumat, 12 Juni 2026

HR Hati Yesus yang Mahakudus

Bacaan Injil: Mat 11:25-30

 

Saudari-saudara yang terkasih,

Pada hari ini kita merayakan Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus. Hari raya ini merupakan perayaan kasih Allah yang tanpa batas. Allah memilih kita karena kasih-Nya, bukan karena jasa, prestasi atau kehebatan manusia (Ul. 7:6-11). Dia mengundang kita untuk hidup dalam kasih (1 Yoh. 4:7-16), dan menyediakan Hati-Nya sebagai tempat perlindungan bagi setiap orang yang letih lesu (Mat 11:25-30).

Undangan ini lahir dari Hati Yesus yang penuh belas Kasih, kelembutan, dan kerendahan hati. Hati yang tidak menghakimi, tetapi menerima; hati yang tidak menjauhi, tetapi merangkul; hati yang tidak membebani, tetapi memberi kelegaan.

Di tengah dunia yang sering dipenuhi persaingan, kebencian, dan ketidakpedulian, kita dipanggil menjadi saksi kasih Hati Yesus yang lembut, rendah hati, dan penuh belas kasih.

Bacaan Injil hari ini mengundang kita untuk datang dan berserah diri pada Tuhan Yesus. Dia telah membuka hati-Nya dan menjanjikan kelegaan kepada kita. Diungkapkan, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu”.

Tak sedikit orang yang saat ini hidup dengan aneka beban, baik kegagalan, kecemasan, kekecewaan, luka batin, pekerjaan, keluarga, komunitas, maupun kesehatan. Kita merasa berat dan lelah memikul semuanya itu sendirian. Hari Raya Hati Kudus Yesus ini menyadarkan kita bahwa ada tempat untuk pulang.

Hati Yesus adalah rumah tempat berpulang bagi jiwa yang lelah, tempat kita menemukan kekuatan baru, semangat baru, harapan baru, dan damai sejati. Dalam Hati-Nya kita belajar bahwa kasih selalu lebih kuat daripada keputusasaan.

Allah tiada lelah menawarkan rahmat-Nya dan terus mencari kita. Tetapi kadangkala justru kita yang lelah dan malas datang menemui Allah. Kita kadang sibuk dengan diri kita dan urusan kita sendiri. Kita menomor-duakan Allah atau menjauhkan diri dari Allah.

Terkait dengan devosi pada Hati Kudus Yesus, kita diingatkan akan sosok Romo Gregorius Utomo Pr (1929-2020). Beliau seorang imam diosesan Semarang yang berdevosi kuat dan mewartakan Hati Kudus Yesus sampai akhir hayat. Tiga puluh tahun lebih berkarya di Paroki Ganjuran.

Romo Utomo pernah menuturkan bahwa di dalam Candi Ganjuran bertahta patung Kristus Raja, lambang kehadiran Tuhan sebagai Bapa. Patung tersebut sekaligus adalah patung Hati Kudus Tuhan Yesus lambang kehadiran Tuhan sebagai Ibu, yang karena belaskasih-Nya rela menderita dan mati untuk melahirkan manusia baru. Seperti halnya seorang Ibu ”berani nglarani” untuk melahirkan manusia baru.

Seperti pengalaman akan Allah di gunung Tabor, kita diutus menjadi Berkat bagi siapa saja dan apa saja demi keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan melalui Burloka (dunia dosa), Buwarloka (dunia pencucian/pengosongan diri), sampai Suwarloka (manunggaling kawula Gusti, dan manunggiling Gusti kawula).

Kita semua diundang untuk membuka diri pada Hati-Nya dan juga menerima orang lain apa adanya, termasuk yang sedang berbeban berat dalam hidupnya. Buah dari tinggal dalam Yesus adalah hati kita damai. Lalu kedamaian itu jangan dimiliki sendiri. Harus kita pancarkan dan bagikan kepada orang lain.

Pertanyaan refleksinya, Bagaimana situasi batin kita akhir-akhir ini? Bersediakah kita datang pada Hati Kudus Yesus untuk mengandalkan Dia dalam menghadapi beban hidup saat ini?

Semoga hati kita dipenuhi Hati Kudus Yesus yang lemah lembut, murah hati dan rendah hati. Hati Kudus Yesus, kasihanilah kami.

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr