Mlampah Rohani OMK Santo Petrus Warak: “Sowan Ibu, Langkah Sembah Saking Manah”

Twitter
WhatsApp
Email

OMK Santo Petrus Warak kembali mengadakan kegiatan tahunan Mlampah Rohani dari Gereja Santo Petrus Warak menuju Goa Maria Sendangsono pada tanggal 26–27 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi agenda rutin tahunan OMK setiap bulan Mei sebagai bentuk devosi kepada Bunda Maria sekaligus ruang refleksi iman bagi umat.

Pada tahun-tahun sebelumnya, kegiatan mlampah rohani ini umumnya hanya diikuti oleh Orang Muda Katolik Santo Petrus Warak. Namun tahun ini, OMK membuka ruang yang lebih luas dengan mengajak seluruh umat untuk ikut terlibat dalam perjalanan rohani bersama. Mengangkat tema “Sowan Ibu, Langkah Sembah Saking Manah,” kegiatan ini ingin mengajak umat untuk memaknai ziarah bukan sekadar berjalan kaki, tetapi sebagai perjalanan batin menuju Tuhan.

Menurut Hilerion Ava Listyaji, pengambilan tema tersebut selaras dengan harapan bahwa mlampah rohani bukan hanya dimaknai sebagai aktivitas berjalan saja, melainkan sebagai bentuk pilgrimage atau perjalanan suci yang dilakukan umat Katolik. Ziarah ini ditempuh dengan berjalan kaki dari Gereja Santo Petrus Warak menuju Goa Maria Sendangsono sebagai simbol perjalanan manusia dalam mencari dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Kegiatan ini kami adakan sebagai program kerja tahunan OMK Santo Petrus Warak sekaligus sebagai bentuk kerinduan umat terhadap proses batin dan refleksi kepada Tuhan Yesus serta Bunda Maria. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari penyambutan penutupan Bulan Maria dengan semangat devosi yang semakin hidup,” ungkap Hilerion.

Kurang lebih 230 peserta ikut ambil bagian dalam kegiatan ini, termasuk panitia dan umat dari berbagai wilayah. Tidak hanya berasal dari Paroki Santo Petrus Warak, tetapi juga dari Paroki Kumetiran, Banteng, Medari, Stasi Bedog, Bonoharjo, hingga umat dari Temanggung. Kehadiran berbagai umat dari latar belakang yang berbeda menghadirkan suasana persaudaraan yang hangat sepanjang perjalanan.

Peserta yang mengikuti mlampah rohani tahun ini juga berasal dari berbagai rentang usia. Mulai dari anak-anak PIA berusia sekitar 10 tahun hingga para lansia berusia sekitar 70 tahun berjalan bersama sebagai peziarah. Perbedaan usia tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan iman dapat dijalani oleh siapa saja, dengan cara dan kekuatan masing-masing.

Panitia membatasi jumlah peserta dengan mempertimbangkan kapasitas tempat menginap di kawasan Sendangsono, karena seluruh peserta dijadwalkan bermalam di lokasi ziarah. Langkah tersebut diambil demi menjaga kenyamanan, keamanan, dan kelancaran kegiatan bersama.

Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari berbagai pihak. Tidak hanya dari OMK Santo Petrus Warak, tetapi juga dari Tim Kesehatan Belarasa Kevikepan Jogja Barat, Tim PKG (Petugas Keamanan Gereja) Santo Petrus Warak, serta beberapa umat yang dengan sukarela ikut mengawal perjalanan menggunakan kendaraan pribadi mereka.

Rangkaian kegiatan dimulai pada Selasa, 26 Mei 2026, melalui Perayaan Misa Novena yang menjadi bagian dari rangkaian menyambut Bulan Syukur Pesta Nama Paroki Santo Petrus Warak sekaligus pembukaan resmi kegiatan mlampah rohani. Misa dimulai pukul 19.00 WIB dan dipimpin oleh Romo Yohanes Yunuar Ismadi, Pr.

Dalam homilinya, Romo Yohanes Yunuar Ismadi secara khusus berpesan kepada OMK dan seluruh peserta mengenai bagaimana manusia mencintai Tuhan dan menemukan Tuhan dalam perjalanan hidup. Ia mengajak para peziarah untuk menjadikan mlampah rohani ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi sebagai bentuk doa dan refleksi batin.

Jadikan mlampah ini sebagai bentuk doa dan refleksi,” pesan Romo Yunuar kepada para peserta.

Di akhir homilinya, Romo juga menyampaikan harapan sederhana namun mendalam kepada seluruh peziarah: “Pergi pulang dengan selamat dan tanpa sesuatu yang kurang atau lebih dari kita.”

Setelah misa selesai, seluruh peserta berkumpul di area parkiran belakang gereja untuk melakukan persiapan keberangkatan. Para peserta kemudian dibagi ke dalam delapan kelompok guna mempermudah koordinasi selama perjalanan. Kelompok pertama diberangkatkan pada pukul 20.30 WIB dengan jarak keberangkatan sekitar lima menit antar kelompok.

Berjalan di Tengah Gema Takbir

Perjalanan mlampah tahun ini bertepatan dengan malam takbir menyambut Hari Raya Iduladha. Di wilayah Sumberadi, Mlati, rombongan peziarah bertemu dengan kelompok masyarakat yang sedang mengikuti lomba takbir keliling. Suasana malam yang ramai dipenuhi gema takbir dan langkah para peziarah menghadirkan suasana yang hangat dan penuh kebersamaan.

Perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk saling menghormati dan menjaga satu sama lain. Dalam perjalanan, para peziarah juga berjumpa dengan tim keamanan Banser dan Tim PKG yang bersama-sama membantu mengamankan jalannya takbir maupun perjalanan mlampah rohani.

Malam itu, jalanan tidak hanya menjadi ruang perlintasan orang-orang dengan keyakinan berbeda, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan kemanusiaan. Ada sikap saling memberi jalan, saling menjaga keamanan, dan kesadaran bahwa setiap orang sedang menjalani perjalanan imannya masing-masing.

Pos Perjalanan dan Pelayanan Kesehatan

Selama perjalanan menuju Sendangsono, panitia membagi perjalanan ke dalam enam pos pemberhentian. Pos-pos tersebut digunakan sebagai tempat istirahat sementara sekaligus pemeriksaan kondisi kesehatan peserta.

Walaupun panitia telah memiliki tim kesehatan internal, pelayanan kesehatan juga dibantu oleh Tim Belarasa Kevikepan Jogja Barat. Tim Belarasa memberikan pelayanan dengan penuh ketulusan kepada para peserta. Mereka tidak hanya melakukan pertolongan pertama bagi peserta yang mengalami kelelahan atau cedera ringan, tetapi juga memberikan edukasi sederhana mengenai penanganan cedera dan cara menjaga kondisi tubuh selama perjalanan.

Selepas Pos 4 di kawasan Jembatan Ancol Bligo, beberapa peserta akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan dan langsung diantar menuju Sendangsono demi menjaga kondisi fisik mereka. Situasi tersebut membuat susunan kelompok tidak lagi berjalan secara urut seperti di awal keberangkatan. Ada peserta yang berjalan berkelompok, ada pula yang melanjutkan perjalanan secara mandiri. Meski demikian, seluruh peserta tetap berada dalam pengawasan panitia dan Tim PKG hingga seluruh peserta tiba dengan aman di Sendangsono.

Langkah-Langkah yang Menjadi Kesaksian

Semangat para peserta menjadi wajah tersendiri dalam perjalanan ziarah ini. Salah satu yang menarik perhatian adalah perjuangan peserta tertua, Ibu Sumarah yang berusia 72 tahun bersama Bapak Slamet Riyadi dari Lingkungan Santo Yosep. Di tengah malam dan minim penerangan, keduanya berjalan bersama dari wilayah Kalibawang menuju Sendangsono hanya dengan berbekal lampu senter kecil di tengah gelapnya jalan. Langkah mereka mungkin tidak cepat, namun ketekunan keduanya menjadi gambaran sederhana tentang iman yang tetap berjalan meski usia tidak lagi muda.

Pengalaman batin yang mendalam juga dirasakan oleh Gregorius Decky Krishartedi. Sejak awal perjalanan, ia mengaku sempat merasa ragu apakah dirinya mampu menyelesaikan perjalanan hingga garis akhir. Namun ketika perjalanan memasuki jalur Kalibawang menuju Sendangsono yang gelap dan sunyi, terutama ketika dirinya berjalan sendiri di kelompok terakhir, ia merasakan pengalaman yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Iki kaya dudu aku,” ungkapnya setelah tiba di Sendangsono. Baginya, perjalanan malam itu terasa bukan lagi tentang kekuatan dirinya sendiri. Ia bahkan mengaku hampir tidak merasakan sakit di kaki selama perjalanan dan menemukan keberanian untuk tetap melangkah di tengah gelapnya jalan.

Cerita lain datang dari Heronimus Delfrianto Westpa Gagah. Dalam perjalanan menuju Sendangsono melalui jalur Kalibawang yang gelap serta penuh tanjakan dan turunan, ia memilih berjalan tanpa menggunakan senter. Ia hanya berpasrah dalam perjalanan itu. Di tengah minimnya cahaya dan panjangnya jalan, ia tetap melanjutkan langkah hingga akhirnya berhasil tiba di garis akhir.

Sementara itu, Melania Rudilistyo Hartiwi atau yang akrab disapa Bu Wiwik juga membawa cerita perjuangan tersendiri. Sebelum mengikuti mlampah rohani, dirinya sempat tidak diperbolehkan oleh anak-anaknya untuk ikut karena alasan kesehatan. Namun setelah melalui berbagai pertimbangan, anak-anaknya akhirnya luluh dengan syarat Bu Wiwik harus rutin berlatih berjalan terlebih dahulu.

Setiap hari, Bu Wiwik melatih dirinya dengan berjalan kaki mengelilingi wilayah Plaosan hingga Bolawen. Latihan kecil yang dilakukan dengan tekun itu akhirnya terbayar dalam perjalanan mlampah rohani ini. Ia berhasil mencapai garis akhir dengan penuh semangat. Raut kebahagiaan dan rasa bangga terlihat jelas dari wajahnya setelah tiba di Sendangsono.

Kebahagiaan serupa juga dirasakan oleh Bernardinus Realino Ardi Kurniawan. Sesampainya di Sendangsono, ia langsung melanjutkan doa syukur di hadapan Patung Bunda Maria. Momen itu terasa begitu emosional baginya, sebab pada tahun sebelumnya ia gagal mencapai garis akhir perjalanan. Tahun ini, langkah yang sempat terhenti akhirnya berhasil ia tuntaskan.

Menemukan Syukur di Akhir Perjalanan

Pada Rabu pagi, 27 Mei 2026, seluruh rangkaian kegiatan ditutup melalui Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Romo Benedictus Aditya Relliantoko, Pr. Dalam homilinya, Romo Benedictus mengambil refleksi dari film The Way, sebuah film yang menggambarkan perjalanan ziarah manusia dalam menemukan makna hidup, luka, dan syukur.

Melalui refleksinya, Romo mengajak seluruh peserta untuk tidak lupa menghadirkan rasa syukur di tengah segala permintaan dan kegelisahan hidup yang dibawa selama perjalanan. Sebab sering kali manusia datang kepada Tuhan dengan begitu banyak harapan dan beban, namun lupa berhenti sejenak untuk menyadari bahwa dirinya telah dituntun melewati begitu banyak hal.

Pukul 11.00 WIB, para peserta mulai meninggalkan Sendangsono dan kembali ke rumah masing-masing. Mereka pulang tidak hanya membawa rasa lelah setelah berjalan puluhan kilometer, tetapi juga membawa cerita, pengalaman spiritual, dan refleksi yang berbeda-beda.

Pada akhirnya, mlampah rohani ini bukan hanya tentang siapa yang paling kuat berjalan jauh atau siapa yang paling cepat sampai tujuan. Perjalanan ini menjadi ruang sederhana tempat manusia belajar tentang ketulusan, kebersamaan, keterbatasan diri, dan keberanian untuk terus melangkah.

Sebab dalam setiap langkah menuju Sendangsono, para peziarah sesungguhnya juga sedang belajar pulang — pulang kepada Tuhan, dengan langkah sembah saking manah.

Hans Salvatore