Paroki Macanan – Keterbatasan sumber daya manusia dan anggapan bahwa tugas komunikasi sosial (Komsos) hanya berkutat pada kamera, video, dan menulis menjadi tantangan yang dibahas dalam pertemuan Komsos Paroki Tyas Dalem Gusti Yesus Macanan dan Stasi Santo Lukas Prambanan bersama Koordinator Komsos Kevikepan Yogyakarta Timur, Agustinus Suseno, di Stasi Prambanan, Minggu (19/7/2026).
Pertemuan yang dikemas dalam suasana santai tersebut menjadi ruang diskusi mengenai pengembangan Komsos, pengelolaan media digital, dokumentasi kegiatan gereja, hingga strategi melibatkan lebih banyak umat dan anak muda. Agustinus Suseno menekankan pentingnya membangun kebersamaan terlebih dahulu sebelum memberikan beban tugas kepada calon anggota Komsos.
“Jangan sampai orang berpikir bahwa bergabung dengan Komsos berarti harus langsung bisa memotret, membuat video, atau menulis. Kalau pemahamannya seperti itu, orang bisa merasa takut lebih dulu. Karena itu, yang paling penting adalah membangun kebersamaan terlebih dahulu,” kata Seno.
Dalam diskusi tersebut, sejumlah pengurus dan pegiat Komsos Stasi Prambanan membagikan pengalaman dalam mengembangkan dokumentasi dan publikasi gereja. Febri, salah satu pegiat Komsos Stasi Prambanan, mengatakan keterlibatan dalam dokumentasi telah dimulai sejak gereja tersebut belum diresmikan. Pada tahap awal, tim harus mengandalkan peralatan pinjaman maupun sewaan untuk mendukung kebutuhan dokumentasi dan siaran langsung.
“Kita juga merasakan mengikuti misa live streaming seperti ini sangat ribet dan banyak sekali hal yang diperlukan. Kita sampai meminjam kamera, mencari lampu, dan belajar banyak hal,” ujar Febri.
Seiring berjalannya waktu, tim kemudian mengembangkan dokumentasi dan publikasi kegiatan gereja. Selain mendokumentasikan berbagai kegiatan, Komsos Stasi Prambanan juga mulai mengelola media sosial dan kanal informasi digital. Ketua Komsos Stasi Prambanan, Bakti, mengatakan pengembangan komunikasi digital menjadi salah satu perhatian kepengurusan saat ini, terutama untuk memperkenalkan keberadaan gereja serta mendokumentasikan berbagai kegiatan umat.
Menurutnya, Komsos Stasi Prambanan juga tengah berupaya membangun sistem informasi yang lebih teratur, termasuk pengelolaan jadwal penggunaan gereja dan dokumentasi kegiatan. Penggunaan media digital dinilai penting karena aktivitas di gereja cukup beragam, mulai dari doa bersama, latihan koor, kegiatan PIA, misdinar, hingga berbagai kegiatan pewartaan dan devosi.

Seno juga mendorong pengurus Komsos untuk tidak membatasi diri pada satu platform media sosial. Menurutnya, website dapat menjadi media dokumentasi yang lebih lengkap karena dapat diakses publik tanpa harus memiliki akun media sosial tertentu. “Media online itu wajib. Website itu bisa diketahui orang lain tanpa dia harus punya akun media sosial,” ujarnya.
Ia juga menawarkan pendampingan bagi umat yang ingin belajar jurnalistik digital dan pengelolaan website. Menurut Seno, proses membuat berita dapat dimulai dari hal sederhana dengan mencatat unsur 5W+1H dan merekam pernyataan narasumber. Teknologi kecerdasan artifisial (AI), lanjutnya, dapat digunakan sebagai alat bantu dalam proses kerja, tetapi tetap harus dikendalikan oleh manusia.
Selain pelatihan teknis, Seno mendorong Komsos Macanan dan Prambanan untuk memperluas jejaring melalui kunjungan dan belajar bersama komunitas Komsos lain. Ia menilai pengalaman langsung dan suasana kebersamaan dapat menjadi pintu masuk untuk menarik lebih banyak umat, khususnya anak muda, agar terlibat dalam pelayanan komunikasi gereja.
Diskusi tersebut menegaskan bahwa pengembangan Komsos tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis mengoperasikan kamera atau membuat tulisan. Keterlibatan umat perlu dibangun melalui proses belajar, kebersamaan, dan kesempatan untuk mengenal lebih jauh peran Komsos dalam mendukung dokumentasi serta pewartaan kegiatan gereja.








