Menjaga Hati Senantiasa Bahagia: Catatan Refleksi Rekoleksi Lansia Paroki Santa Maria Fatima Magelang

Twitter
WhatsApp
Email
Momen Rekoleksi Pendampingan Iman Usia Lanjut (PIUL) yang diselenggarakan oleh Paroki Santa Maria Fatima Magelang pada Sabtu, 25 April 2026. Foto: Istimewa
Sebanyak 210 umat lanjut usia dari berbagai lingkungan di wilayah Paroki Santa maria Fatima Magelang berkumpul bersama. Meski fisik mungkin tak lagi seprima dahulu, antusiasme mereka memenuhi ruang pertemuan, membuktikan bahwa semangat iman tidak mengenal batas usia.

KEDU, MAGELANG – Masa tua bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan babak baru untuk semakin dalam menyelami kasih Tuhan. Semangat inilah yang terpancar dalam acara Rekoleksi Pendampingan Iman Usia Lanjut (PIUL) yang diselenggarakan oleh Paroki Santa Maria Fatima Magelang pada Sabtu, 25 April 2026.

Sebanyak 210 umat lanjut usia dari berbagai lingkungan di wilayah Paroki Santa maria Fatima Magelang berkumpul bersama. Meski fisik mungkin tak lagi seprima dahulu, antusiasme mereka memenuhi ruang pertemuan, membuktikan bahwa semangat iman tidak mengenal batas usia.

Merawat Iman di Tengah Kesunyian

Ketua Tim Pelayanan PIUL, Antonius Walgito, menyampaikan bahwa rekoleksi ini merupakan program strategis untuk menyegarkan spiritualitas para lansia. Fokus utama adalah mereka yang dalam kesehariannya mungkin merasa sendirian atau tinggal di wilayah yang jauh dari pusat paroki.

“Kami ingin mendampingi dan merawat iman Bapak/Ibu sekalian. Rekoleksi ini adalah ruang untuk kembali merasa ‘terhubung’, terutama bagi mereka yang kesehariannya merasa terpencil,” ungkap Walgito sembari menyampaikan apresiasinya kepada Romo Agus yang telah meluangkan waktu di tengah kesibukannya.

Dukungan penuh juga datang dari Romo Paroki Santa Maria Fatima Magelang, Romo Ignatius Sapto Adi Wibowo, Pr. Beliau menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari program Formatio Iman Berjenjang dan Berkelanjutan (FIBB) yang dicanangkan oleh Keuskupan Agung Semarang. Iman, menurutnya, harus terus dipupuk dari masa kanak-kanak hingga usia senja.

 

“Awake Dewe Ki Sopo?”: Menemukan Bahagia dalam Kasih Tuhan

Hadir sebagai narasumber, Romo FX Agus Suryono Gunadi, Pr, yang akrab menyapa umat melalui media sosial, membawa suasana rekoleksi menjadi segar namun mendalam. Romo Paroki Bedono sekaligus Ketua Komisi PIUL Kevikepan Semarang ini mengajak para peserta untuk menanggalkan beban pikiran dan fokus pada satu hal: Merasa dicintai Tuhan.

Dengan gaya bahasa yang akrab dan menyentuh, Romo Agus melontarkan sebuah perenungan dalam bahasa Jawa yang mendalam: “Awake dewe ki sopo? Ora mingsro, ora ana sing nganggep… nanging kok bisa-bisanya Tuhan menebus kita dengan merelakan Putrane (Yesus) disiksa tekan pati disalib nggo nebus awake dewe.” (Kita ini siapa? Bukan siapa-siapa, mungkin merasa tak dianggap… tapi mengapa Tuhan sudi menebus kita dengan merelakan Putra-Nya disiksa sampai mati di salib demi kita?)

Romo Agus menekankan tiga kunci kebahagiaan di masa kini:

  1. Menyadari Cinta Tuhan: Merasa dicintai secara personal oleh Sang Pencipta adalah fondasi kebahagiaan.
  2. Menikmati Kondisi Saat Ini: Berhenti menyesali masa lalu atau terus-menerus mengingat dosa yang sudah diampuni.
  3. Tetap Melayani: Selalu mencari cara untuk terlibat dalam pelayanan gereja sebagai wujud syukur atas cinta Tuhan.

 

Kegembiraan yang Sederhana namun Bermakna

Tak hanya soal olah rohani, acara ini juga menjadi ajang sapa persaudaraan. Gelak tawa pecah saat sesi hiburan dan pembagian doorprize berlangsung. Bagi para lansia, kebahagiaan seringkali hadir dalam bentuk yang sederhana: tegur sapa kawan lama, bernyanyi bersama, dan merasa masih menjadi bagian penting dari komunitas iman.

Melalui rekoleksi ini, Paroki Santa Maria Fatima Magelang berharap para lansia tidak hanya mendapatkan penyegaran iman, tetapi juga memiliki kualitas hidup yang lebih baik, penuh syukur, dan senantiasa menjaga hati agar tetap bahagia dalam pelukan kasih Tuhan.

 

Sumber: Istimewa