KEDU, MAGELANG – Suasana khidmat sekaligus penuh sukacita menyelimuti Gereja Paroki Santa Maria Fatima pada Rabu, 13 Mei 2026. Hari itu menjadi momen yang sangat istimewa karena umat merayakan tiga peristiwa besar sekaligus: Hari Raya Kenaikan Tuhan, Novena keempat kepada Bunda Maria Fatma, serta Pesta Nama Paroki (Pesta Santa Maria dari Fatima).
Perayaan Ekaristi dipimpin langsung oleh Romo Paroki, Romo Ignatius Sapto Adi Wibowo, Pr, didampingi oleh Romo Vikaris, Romo Heribertus Warnata Nata Wardaya, Pr. Antusiasme umat tampak jelas dengan hadirnya umat dari berbagai penjuru, termasuk mereka yang datang jauh-jauh dari wilayah Secang dan Grabag demi merayakan syukur bersama di pusat paroki.
Perarakan dan Penghormatan
Ibadah dibuka dengan prosesi perarakan patung Santa Maria Fatima sebagai bentuk penghormatan atas penampakannya di Fatima. Diiringi lagu “Kusujud Tahta Suci” yang megah, patung Bunda Maria diarak memasuki gereja, disusul oleh jajaran petugas liturgi dan para imam. Suasana ini membawa batin umat pada peristiwa sejarah iman tahun 1917, di mana Bunda Maria menyapa dunia melalui tiga anak gembala: Lucia, Yasinta, dan Fransesco.
Meneladan Keikhlasan Maria
Dalam homilinya, Romo Adi menekankan kedekatan istimewa antara Bunda Maria dan Yesus. Sebagai seorang Ibu, Maria tidak pernah melepaskan dukungannya terhadap perjuangan Putranya. Seluruh perjalanan hidup Maria adalah sebuah “penunjuk jalan” yang mengarahkan semua orang demi kemuliaan Allah.

Melalui pesan Romo Adi, kita diajak berkaca: sejauh mana pelayanan kita di gereja maupun di masyarakat sudah murni demi kemuliaan Tuhan? Seringkali, ego dan kepentingan pribadi terselip dalam karya kita. Bunda Maria mengajarkan bahwa menjadi “saksi Kristus” berarti berani memberikan diri secara murni, tanpa pretensi, dan hanya berfokus pada kemuliaan Allah.
Pesan Fatima dan Misi Perutusan
Momen Kenaikan Tuhan yang dirayakan bersamaan dengan Pesta Nama ini mempertegas panggilan umat. Sebagaimana pesan Bunda Maria di Fatima untuk terus berdoa Rosario demi perdamaian dunia dan pertobatan, umat pun diingatkan akan amanat agung Kristus sebelum naik ke surga: menjadi saksi-Nya sampai ke ujung bumi.
Bunda Maria telah memberikan teladan bahwa setiap pesan yang ia sampaikan selalu bermuara pada kasih Allah. Tugas kita sebagai umat Paroki Santa Maria Fatima adalah membagikan kasih tersebut kepada sesama, sehingga kehadiran kita benar-benar menginspirasi dan menyejahterakan lingkungan sekitar.
Sukacita dalam Kebersamaan
Setelah berkat penutup, rangkaian acara dilanjutkan dengan ramah tamah. Umat berkumpul menikmati hidangan yang telah disiapkan sebagai wujud syukur dan persaudaraan. Tawa dan sapaan hangat yang terpancar dari wajah umat menjadi bukti nyata bahwa semangat Fatima—semangat doa dan kasih—hidup di tengah-tengah paroki ini.
Semoga melalui perayaan ini, umat Paroki Santa Maria Fatima semakin teguh dalam iman, tekun dalam doa Rosario, dan berani menjadi pembawa damai di mana pun mereka berada.
Penulis: Tim Komsos Paroki Santa Maria Fatima









