Percik Firman: Sang Terang Kehidupan

Twitter
WhatsApp
Email
Pada hari ini kita merayakan Minggu Prapaskah IV atau Minggu Sukacita (Minggu Laetare). Dalam Bacaan Injil hari ini, kita diajak merenungkan tentang Yesus Sang Terang Kehidupan.

Minggu Prapakah IV, 15 Maret 2026

Bacaan Injil: Yoh 9:1-41

 

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Pada hari ini kita merayakan Minggu Prapaskah IV atau Minggu Sukacita (Minggu Laetare). Dalam Bacaan Injil hari ini, kita diajak merenungkan tentang Yesus Sang Terang Kehidupan.

Tuhan Yesus membuat mukjizat penyembuhan bagi orang buta sejak lahir. Bagi orang Yahudi, dosa dan cacat badaniah erat berhubungan. Bahkan murid-murid percaya bahwa penderitaan atau cacat pasti akibat dosa, entah dosa orang itu sendiri atau orangtuanya.

Tuhan Yesus dengan tegas menolak anggapan itu. Bagi Yesus, yang bersalah bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi supaya pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Pesannya kiranya jelas, yakni jangan suka mencari kambing hitam, tetapi mari kita berusaha mencari dan peka terhadap hikmah dari peristiwa yang terjadi.

Melalui kisah penyembuhan ini, kita diajak merenungkan dan menimba inspirasi tentang perjalanan iman kita dari gelap menuju terang, baik secara fisik maupun spiritual. Si buta disembuhkan secara fisik dan spiritual. Selain menyembuhkan mata si buta, Yesus juga membuka hatinya, sehingga ia percaya kepada Yesus sebagai Nabi, Anak Manusia dan Mesias.

Secara fisik kita tidak buta, namun bukankah secara rohani kita semua dilahirkan buta? Kita buta sama sekali tentang iman. Kita juga buta tentang Tuhan. Baru dalam perjalanan waktu, kebutaan kita itu dibuka sedikit demi sedikit. Tahap awal keterbukaan iman kita ini, kita alami melalui kesediaan kita untuk menerima Sakramen Baptis. Melalui orangtua, katekis, guru agama, para Romo, kita dibimbing untuk terbuka semakin mengenal Tuhan dan beriman kepada-Nya.

Masa Prapaskah adalah masa untuk menemukan Sang Terang Sejati. Hidup kita kadangkala diwarnai oleh kegelapan dan kebutaan. Kita diajak untuk menjadi seorang Katolik sejati dengan melihat kehadiran Allah yang menyelamatkan di balik peristiwa sehari-hari. Yang diperlukan dari pihak kita adalah kepekaan hati akan kehadiran Allah.

Pertanyaan refleksinya, apa saja yang bisa membuat kita buta terhadap kasih Allah dalam hidup sehari-hari? Bagaimana cara yang perlu dilakukan agar hidup kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain?

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr