Percik Firman: Ketangguhan Seorang Ibu

Twitter
WhatsApp
Email
Merenungkan bacaan Injil pada hari ini, saya teringat akan kiriman kisah inspiratif dari seorang teman tentang pengorbanan seorang ibu yang luar biasa.

Kamis, 12 Februari 2026

Bacaan Injil : Mrk 7:24-30

 

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Merenungkan bacaan Injil pada hari ini, saya teringat akan kiriman kisah inspiratif dari seorang teman tentang pengorbanan seorang ibu yang luar biasa. Begini kisahnya:

“Saat makan, jika makanan kurang, ibu akan memberikan makanan itu kepada anaknya dan berkata, ‘Cepatlah makan, ibu tidak lapar’.

Tengah malam saat ibu sedang menjaga anaknya yang sakit, ibu berkata, ‘Istirahatlah Nak, ibu masih belum ngantuk’. Saat anaknya sudah sukses, menjemput ibunya untuk tinggal di rumah besar, ia lantas berkata, ‘Rumah tua kita sangat nyaman, ibu tidak terbiasa tinggal di sana’.

Saat menjelang tua, ibu sakit keras, anaknya akan menangis, tetapi ibu masih bisa tersenyum sambil berkata, ‘Jangan menangis, ibu tidak apa-apa’.

Singkatnya, ibu selalu mengutamakan anaknya dan mengkhawatirkan diri kita. Beliau tidak pernah membiarkan kita mengkhawatirkan dirinya. Bahkan ia rela dihina demi kebaikan dan kesehatan kita.

Dalam bacaan Injil hari ini dikisahkan ketangguhan dan sikap mau berkorban dengan tulus seperti itu pula yang dihayati seorang ibu dari Siro-Fenisia yang anaknya sakit. Sang ibu itu rela dicibir dan dihina sebagai kafir oleh orang Yahudi. Dia tidak sakit hati.

Demi kasih kepada anaknya yang sakit, dia mau menjadi bamper dan siap berkorban. Bahkan Yesus menyindirnya seperti anjing. Yesus berkata kepadanya: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing”.

Saya membayangkan, mungkin si ibu berpendapat, “Silakan sebut aku anjing asalkan anakku sembuh. Ga pa pa. Sebutan anjing, bagiku, bukan lagi sebuah bentuk penghinaan, tetapi bentuk kasih Tuhan bahwa saya ciptaanNya yang berharga”.

Mari hari ini secara khusus kita mendoakan ibu kita, baik yang sudah “sowan” Gusti maupun yang masih mendampingi kita dalam peziarahan di dunia. Terimakasih mamak, ibu, simbok, mama. Mari kita kirim secara khusus doa 3x Salam Maria untuk ibu kita hari ini.

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr