Siap Diutus Jadi Saksi Kristus, 94 Calon Penguatan Ikuti Pembelajaran Perdana

Twitter
WhatsApp
Email

PAROKI MACANAN – Pembelajaran perdana bagi calon penerima Sakramen Penguatan se-paroki dilaksanakan pada Minggu, 18 Oktober 2026, pukul 10.00 di Gereja Macanan.

Sebanyak 47 calon dari Macanan, ditambah 35 orang dari Prambanan dan 12 orang dari Payak, akan memulai pembelajaran perdana mereka menuju Sakramen Penguatan yang akan dilaksanakan pada bulan Agustus 2027 mendatang.

Pembelajaran perdana yang digelar pukul 10.00 itu dibuka dengan pengantar dari Romo Paroki, Romo Agustinus Nunung Wuryantoko, Pr.

Menurut Romo Nunung, penguatan bukan sekadar seremoni.

“Sakramen Penguatan adalah sakramen yang memastikan kita menjadi saksi Kristus, tanda kedewasaan iman, diutus untuk menjadi saksi,” ujar Romo Nunung di hadapan para calon.

Ia pun memberikan bekal rohani yang sederhana namun mendalam. Para calon diminta untuk kembali mengakrabi Kitab Suci, khususnya empat Injil.

“Nanti calon penguatan harus membaca Kitab Suci, khususnya 4 Injil: dari Matius sampai Yohanes. Membacanya harus urut, tidak lompat-lompat,” pesannya.

Pendamping calon penguatan, Yohanes Joko Purwanto saat memaparkan aturan selama proses pembinaan

Setelah pengantar rohani, giliran pendamping calon penguatan, Yohanes Joko Purwanto yang memaparkan aturan selama proses pembinaan. Dengan gaya yang tegas namun penuh keakraban, ia mengingatkan bahwa mereka adalah penerus gereja.

“Adik-adik ini calon penerus gereja. Mau penguatan itu berarti siap mau diutus,” kata Joko.

Ia menekankan tiga kunci utama: disiplin kehadiran, ketekunan mengerjakan buku tugas, dan kesungguhan dalam tes.

Kehadiran minimal 80 persen menjadi syarat wajib. Jika berhalangan, calon diminta untuk memberi kabar, bukan diam tanpa keterangan.

“Umat Katolik harus memberi contoh dan teladan ketaatan, kesetiaan, dan ketertiban,” tegasnya.

Untuk buku tugas, aturannya pun jelas. Buku harus diisi terlebih dahulu oleh calon, baru kemudian dimintakan tanda tangan Romo. Setiap akhir bulan, setelah perayaan ekaristi minggu terakhir, buku dikumpulkan kepada pendamping untuk diperiksa dan diberi catatan. Buku akan dikembalikan sebelum ekaristi minggu pertama bulan berikutnya.

Joko juga menjelaskan bahwa bobot penilaian terbesar ada pada tes tertulis. Tes ini akan mengevaluasi keseluruhan proses pembelajaran, ditambah dengan penilaian kehadiran, penyelesaian buku tugas, dan kemampuan menghapal doa-doa harian.

“Maka pertimbangkan jika mau izin tidak hadir, karena kehadiran sangat penting,” tutupnya.

Dengan dimulainya pembelajaran pada bulan Oktober ini, total 94 calon akan menempuh perjalanan iman selama kurang lebih sepuluh bulan menuju penerimaan Sakramen Penguatan pada Agustus 2027 sebagai saksi Kristus yang dewasa.

Clementine Roesiani