Sekolah Berpikir Kritis, Ajak Kaum Muda Berani Bersuara Melalui Karya

Twitter
WhatsApp
Email
Krisis pada martabat manusia, penyalahggunaan kekuasaan, sistem ekonomi yang rakus, diskriminasi dan prasangka sosial menjadi salah satu bahasan yang dikemukakan oleh Romo Andreas Sulardi, Pr pada hari pertama Sekolah Berpikir Kritis.

Krisis pada martabat manusia, penyalahggunaan kekuasaan, sistem ekonomi yang rakus, diskriminasi dan prasangka sosial menjadi salah satu bahasan yang dikemukakan oleh Romo Andreas Sulardi, Pr pada hari pertama Sekolah Berpikir Kritis. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Unit pengembangan Pastoral (UPP) Kemasyarakatan dan Advokai Keuskupan Agung Semarang (KAS) pada Sabtu, 5 September 2026 di Atma Jaya Yogyakarta. Sekolah ini merupakan implementasi dari tema besar terkait advokasi, keadilan gender, keadilan lingkungan, serta politik dan kaum muda.

Sekolah Berpikir Kritis diinisiasi untuk merespon semakin kuatnya kecenderungan apolitis kaum muda Gereja terhadap situasi sekitar, baik politik keseharian maupun praktis. Anak muda memiliki peran penting dalam politik. Mereka diajak untuk memahami keadaan sekitar secara tajam dan analitis, mengenali bagaimana kekuasaan bekerja di tengah masyarakat, serta belajar berpikir mendalam dan bertindak dengan benar dalam kehidupan sosial maupun politik. Berpijak pada pandangan Paulo Freire, ruang belajar ini melihat pengetahuan bukan sebagai sesuatu yang netral tetapi merupakan proses dialogis antara pengalaman hidup dengan refleksi kritis atas realitas sosial.

Bersama sekitar 35 peserta dari berbagai kampus, paroki dan biara di Keuskupan Agung Semarang, pendekatan belajar ini mengembangkan metode partisipatif dan interaktif. Delapan materi yang diberikan pada setiap Sabtu selama bulan September, merupakan rangkaian sesi tematik yang saling terhubung dengan menggabungkan pendekatan refleksi sosial kritis dan dialog. Sudut pandangan keadilan, ekologi, ekonomi dan sosial budaya digunakan untuk membedah persoalan sosial politik disertai renungan mendasar dan tajam. Tujuannya untuk mengembangkan etika kewargaan, yakni proses pembelajaran yang menumbuhkan kesadaran tanggungjawab warga negara dalam kehidupan berlandaskan solidaritas dan kesejahteraan bersama.

Menemukan Posisi dan Membaca Realitas dari Dekat

Ajaran Sosial Gereja meletakkan martabat manusia sebagai pondasi utama. Di atas fondasi martabat tersebut ada beberapa prinsip utama yaitu; kesejahteraan bersama yang mengutamakan kebaikan semua, solidaritas yang berpihak pada yang lemah, serta subsidiaritas yang membiarkan komunitas lokal bertindak sesuai kemampuannya. Masing – masing prinsip menghadapi tantangan mulai dari korupsi, polarisasi hingga erosi kepedulian.

Pada materi pertama yang disampaikan oleh Romo Andreas Sulardi, Pr peserta dilibatkan untuk mengamati visualisasi terkait persoalan kesenjangan sosial, bullying, dan problem sosial lain. Tujuan materi ini untuk memperkuat bahwa keterlibatan publik bukan sekedar pilihan, melainkan panggilan iman itu sendiri. Gereja menegaskan bahwa politik yang bersih dan berorientasi pada kesejahteraan bersama merupakan salah satu wujud kasih yang paling luhur. Iman perlu dibarengi dengan tindakan nyata yang aktif, sehingga wujud daya ubahnya bisa dirasakan. Ajaran ini membina nurani untuk lebih kritis dalam membaca tanda – tanda jaman dengan turun langsung merespon persoalan lingkungan sekitar.

Keseharian kita tidak hanya tampak di permukaan, melainkan penuh keterkaitan yang saling membentuk – sesuatu yang disebut sebagai realitas “kheos”, bisa menjadi ancaman sekaligus potensi yang menggerakkan daya hidup kreatif. Dalam sesi kedua Bambang Kusuma Prihandono mengajak peserta untuk menyadari “keberserakan”, keterhubungan yang terus bergerak, berubah dan senantiasa menjadi sesuatu yang baru. Di sini, apa yang tampak sebagai kegoblokan justri menjadi kekritisan; kemampuan untuk melihat dari sudut yang tidak biasa, menukan makna dalam hal – hal yang dianggap tidak penting dan berani keluar dari garis pandang yang tak lazim.

Oleh karena itu, membaca sekitaran bukan sekedar mengamati, melainkan mengumpulkan potongan – potongan yang berserak, percakapan sehari – hari, peristiwa kecil, hingga jejak di ruang publik dan media lalu menautkannya menjadi satu pemahaman. Dari sanalah pemahaman baru lahir, dan dari sanalah kita mulai memahami realitas secara utuh, jujur dan mendalam. Seringkali persoalan besar tidak selalu tambak sebagai peristiwa yang jauh dan megah, dia kerap hadir dalam hal- hal yang dekat, yang luput dari perhatian dan dianggap remeh.

Ekonomi, Kekuasaan dan Ekologi dalam Potret Keseharian

Keputusan – keputusan ekonomi menyentuh langsung akses, kesempatan dan pilihan hidup kaum muda sehari – hari. Dari biaya hidup, pajak, kesempatan berkarya hingga arah pembangunan membentuk relasi kekuasaan yang menentukan siapa yang mendapat apa dan siapa yang tersisih. Aloysius Gunadi Brata pada materi ketiga menuntun untuk lebih jeli melihat bagaimana logika “ekonomi sachet” bekerja dalam keseharian kita, yang miskin “diarahkan” untuk membeli barang – barang eceran yang jika sering dibelanjakan maka nominalnya akan berlipat, alih- alih ingin irit tapi malah membuat kantong menjerit.

Pembacaan kritis ini tidak melepaskan dari pengalaman konkrit peserta, baik sebagai warga negara yang peduli pada keadilan maupun umat yang memegang nilai kebenaran. Metode dua arah digunakan untuk membawa partisipan mencermati visual dan pemberitaan terkait desil, korupsi, pajak, fenomena pencari kerja, hingga lifestyle anak muda. Dari pembacaan tersebut hadir berbagai gagasan dan refleksi bahwa masih banyak ketimpangan yang terjadi. Pada akhirnya persoalan ekonomi tidak hanya dipandang sekedar angka, melainkan menyangkut harkat dan martabat hidup manusia.

Menindaklanjuti hal itu, pada sesi keempat bersama Diah Widuretno dari Sekolah Pagesangan, dia menempatkan krisis ekologis bukan sekedar persoalan lingkungan yang jauh, melainkan persoalan keadilan, iman, dan masa depan generasi muda. Diah memberi kesadaran untuk melihat lebih dekat bagaimana perjalanan sebutir beras bisa sampai di piring kita. Bagaimana pilihan – pilihan pangan kita bisa menyumbang pada kerusakan ekologis atau ketidakadilan sosial bahkan peminggiran budaya. Gambaran pada sistem pangan lokal menekankan pada “food miles”- jarak produksi, distribusi dan konsumsi. Semakin pendek dan dekat dengan konsumen maka semakin ongkos produksi bisa dikurangi, sementara keamanan pangan juga terjamin.

Dalam kerangka iman kristiani merawat ciptaan bukan sekedar tugas tambahan melainkan bagian dari panggilan hidup. Benang merah dari dua materi ini menyatukan kesejahteraan manusia dan kelestarian alam. Sistem ekonomi yang ekploitatif akhirnya merusak keduanya. Kita tidak dapat membicarakan kehidupan yang layak tanpa memastikan sumber daya dikelola secara adil. Sementara perlindungan pada alam artinya tidak menganggap sekedar benda untuk diambil keuntungannya, tetapi mengupayakan kemakmuran, kelestarian dan keberlanjutan.

Menjaga Nalar Kritis dan Menemukan Suara Lewat Tulisan

Diawali dengan scroll konten – konten di salah satu media sosial, peserta didampingi selama kurang lebih lima menit untuk menelisik isu – isu terkini di berbagai platform baik berupa video pendek, berita hingga komentar – komentar netizen. Dari simulasi tersebut, Aloysius Bram membedah realitas ruang publik masa kini yang dilanda fenomena pascakebenaran, disinformasi dan manipulasi narasi. Algoritma digital tidak sekedar membaca perilaku manusia tetapi mengintai bahkan hingga mendikte pilihan – pilihan hidup kita. Sikap kita kerap dibentuk oleh tarikan emosi, kepentingan identitas, serta cara kerja algoritma.

Di tengah “rimba” data dan informasi kesadaran kritis kita diuji bahwa manusia tidak sekedar menjadi obyek pasif, tetapi memiliki tanggungjawab etis untuk menerima, mengolah lalu menyampaikan sesuatu kembali kepada orang lain tanpa menambah kerusuhan yang mengakibatkan polarisasi masyarakat. Bram menegaskan ada 3 metode intervensi perilaku platform digital, yakni dengan tunning – penyesuaian dan tampilan format digital, herding – penggiringan atau pembatasan, dan conditioning – pengkondisian perilaku, misal dengan punishment atau reward. Metode tersebut membuat kita mengubah kebiasaan tanpa disadari sepenuhnya.

Menjawab tantangan tersebut, Kenia Intan memotivasi peserta untuk bersuara melalui tulisan. Menulis bukan sekedar keterampilan, melainkan tindakan yang politis dan bermuatan nilai. Kita bisa mengartikulasikan gagasan secara teratur, serta mengambil sikap tegas terhadap realitas yang dihadapi. Pada sesi ini peserta dibimbing untuk memahami dasar- dasar penulisan yang berangkat dari pengalaman hidup terdekat, lalu dituangkan dalam outline yang lebih sistematis. Masukan terkait keunikan, pemilihan angle dan isu, serta kedekatan dan keresahan terhadap hal – hal sekitar turut mengemuka dalam diskusi tersebut.

Kedua sesi ini saling melengkapi, kemampuan membaca arus informasi secara tajam menjadi pondasi agar suara yang dihasilkan melalui tulisan tetap jujur, bertanggungjawab dan tidak ikut memperkeruh suasana. Di saat yang sama, keberanian mengutarakan pemikiran menjadi cara konkrit untuk melawan overload pemberitaan yang tidak menentu. Ruang publik perlu diisi narasi yang berpijak pada pengalaman empiris, kebenaran dan kepedulian. Sekaligus menjadi perenungan bersama masihkah media digital menyisakan sisi kemanusiaan, sehingga kita berani menyalakan api semangat menorehkannya lewat aksara.

Visual dan Proses Kreatif Sebagai Karya yang Bermakna

Yulis P. Jati dari Cinemartani menjadi pembuka pada hari terakhir Sekolah Berpikir Kritis. Paparan Jati membuka cakrawala bahwa fotografi dan videografi bukan sekedar menelisik secara teknis, melainkan wujud dari “mata yang melihat dan mata yang berpikir”- bagaimana mengolah proses observasi menjadi rangkaian visual yang bermakna dan memberikan pesan yang berdampak pada audiens. Pemutaran beberapa video pendek yang digunakan sebagai salah satu metode penyampaikan materi, membawa pada kejelian bahwa ekspresi audio-visual mampu menjadi sarana untuk menyorot hal- hal yang luput dari perhatian dan mengangkat kegelisahan yang tak terdengar.

Proses kreatif dikisahkan dengan mengalir oleh Wregas Bhanuteja, sutradara dengan salah satu film “Budi Pekerti” yang cukup viral. Perjalanan bermula dari pengalaman, keprihatinan dan pengamatan mendalam terhadap kehidupan nyata. Film – filmnya yang berhasil menjuarai kompetisi internasional menginspirasi bagaimana pembatinan dari interaksi bersama keluarga, orang – orang sekitar hingga sebagai warga negara merupa dalam sebuah audio visual apik, hingga mampu menggugah emosi dan perilaku para penonton. Tak cukup hanya observasi dan mendengar, Wregas juga melakukan meditasi untuk merangkai setiap ide, fantasi demi mengkonstruk gambar – gambar yang bernyawa hingga bisa dimaknai intisarinya oleh para penikmat film dan masyarakat.

Kemampuan merekam kisah – kisah nyata di seputaran kita ini menjadi jendela yang memberi pijakan, makna arah dan kepekaan sosial pada setiap ciptaan seni. Peserta dipanggil untuk memegang teguh kepekaan, konsistensi dan kemauan untuk bereksperimen. Di tengah gurita media sosial, kita memiliki kecenderungan untuk terstimulus meng-update konten. Sehingga apa yang kita tampilkan dan sampaikan turut membentuk cara pandang orang lain dalam memhami dunia. Kreativitas adalah saah satu cara paling konkrit untuk terlibat dalam kehidupan sosial. Oleh karena itu senantiasa mengasah kesadaran akan perjalanan kehidupan menjadi bagian untuk menafsirkan fakta dan peristiwa demi kebaikan bersama.

Setelah materi kedelapan berakhir, sekolah ini merencanakan beberapa luaran yang sedang diproses oleh keenam kelompok, diantaranya hasil cipta fotografi, tulisan – tulisan, video pendek ataupun film pendek. Aksi nyata tidak harus menunggu kemampuan yang sempurna atau alat – alat yang canggih, tetapi dimulai dari niat, dilanjutkan dengan komitmen dan konsistensi untuk senantiasa bergerak. Hal tersebut bisa menjadi bahan bakar dari proses pembelajaran yang selama ini diperoleh, sehingga mampu beresonansi dan memberi inspirasi terhadap jaman yang senantiasa berubah. (Rosalia Prismarini Nurdiarti)