MAGELANG, KEDU- Bagi umat Katolik tanggal 1 Januari tidak hanya sebagai perayaan tahun baru. Setiap awal hari di bulan Januari umat Katolik memiliki komitmen untuk memperingati Hari Perdamaian Sedunia.
Melansir dari National Today, Hari Perdamaian Sedunia adalah hari raya untuk perdamaian universal. Paus Leo XIV memberikan pesan khusus untuk merenungkan soal membangun perdamaian. Pesan dari Bapa Suci adalah amanat yang terbaru dalam tradisi panjang yang dimulai oleh Santo Paulus VI pada tahun 1967 dan dilanjutkan oleh Santo Yohanes Paulus II , Paus Benediktus XVI , Paus Fransiskus , lalu Paus Leo XIV
Melansir dari Dokpenkwi.org dalam pesan untuk untuk hari perdamaian sedunia ke-59 Paus Leo XIV menegaskan, ‘’Kepada usaha ini Allah tidak akan tinggal diam tetapi akan menepati janji-Nya: Ia akan mendamaikan bangsa-bangsa, mengakhiri peperangan, mengubah senjata menjadi alat kehidupan. Karena itu, marilah kita berjalan dalam terang tuhan’’.
Adapun Sebagai buah Yubileum pengharapan, Paus mendorong semua orang untuk memulai perubahan dari dalam: melucuti hidup dari kekerasan, agar Allah mengubah senjata menjadi alat kehidupan dan mendamaikan bangsa-bangsa.
Berikut adalah inti dari Pesan Paus Leo XIV untuk Hari Perdamaian Sedunia ke-59:
- Damai Adalah Pribadi yang Jalan: Damai kristus yang hidup
- Damai sejati bersumber dari kristus yang bangkit, bukan sekadar gagasan atau tujuan politik. Adapun damai adalah kehadiran yang hidup dalam batin, yang harus diterima, dijaga, dan dihidupi setiap hari.
- Damai menolak kekerasan, menyembuhkan luka, dan memberi harapan, di tengah’’perang dunia ketiga yang terjadi di berbagai tempat’’. Tanpa menjaga damai dalam hati, manusia akan kehilangan realisme sejati dan tenggelam dalam ketakutan serta keputusasaan
- Damai Tanpa Senjata: Menolak Logika Kekerasan dan Perlombaan Senjata
- Yesus memberi damai bukan seperti dunia memberi-Ia menolak pembelaan dengan kekerasan. Paus mengecam militerisasi global, peningkatan belanja senjata ( termasuk nuklir dan AI militer), serta pendidikan dan politik yang membangun budaya takut.
- Damai tidak dibangun lewat keseimbangan teror, tetapi lewat dialog, keadilan, hukum internasional, dan kepercayaan.
- Gereja dipanggil menjadi saksi kenabian yang berani mengatakan: perang tidak pernah menjadi jalan menuju damai
- Damai yang Melucuti Senjata: Perubahan hati pikiran dan bahasa
- Pelucutan senjata sejati dimulai dari pelucutan hati dan cara berpikir manusia. Kekerasan lahir dari mentalitas takut, dominasi, dan dehumanisasi-bahkan ketika dibungkus agama atau nasionalisme.
- Agama-Agama dipanggil untuk menolak penistaan iman yang membernarkan kekerasan, serta membangun doa, dialog ekumenis dan antaragama, dan komunitas yang menjadi “rumah perdamaian”.
- Kerapuhan manusia-terutama anak-anak dan mereka yang lemah-harus menjadi panggilan etis untuk melindungi kehidupan, bukan menyingkirkannya.
- Tanggung Jawab Bersama: Spiritualitas politik dan harapan aktif
- Damai menuntut tindakan bersama: Spiritual dan Pastoral: membangun harapan, melawan fatalisme, dan hidup tanpa kekerasan.
- Politik dan Diplomasi: Memperkuat dialog, mediasi, kesetiaan pada perjanjian, dan lembaga internasional.
- Masyarakat Sipil: Partisipasi aktif, keadilan sosial, solidaritas, dan kerja sama.
Penulis: Agus Weraiter








