Percik Firman: Cara Pandang Baru dalam Persaudaraan

Twitter
WhatsApp
Email
Selama masa pandemi covid dulu, ada sinetron “Ikatan Cinta”. Sinetron Ikatan Cinta ini berhasil mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai sinetron prime time yang berhasil mendapatkan audience share nasional tertinggi.

Selasa, 21 Juli 2026
Bacaan Injil: Mat 12:46-50

Saudari-saudaraku yang terkasih,
Selama masa pandemi covid dulu, ada sinetron “Ikatan Cinta”. Sinetron Ikatan Cinta ini berhasil mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai sinetron prime time yang berhasil mendapatkan audience share nasional tertinggi.

Sinetron Ikatan Cinta juga mendapat penghargaan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebagai “Karya Ekonomi Kreatif dengan Pencapaian Penonton Terbanyak di Indonesia Saat Pandemi”, serta dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sebagai “Program TV yang Paling Banyak Ditonton dan Menghibur Masyarakat Selama Pandemi”.

Kita sebagai pengikut Kristus juga mempunyai ikatan cinta satu sama lain. Ikatan cintanya adalah sabda Tuhan. Sabda Tuhan pada hari ini mengingatkan kita bahwa dengan melaksanakan kehendak Allah, kita menjadi saudara-saudari Yesus dan ibu Yesus. Ditegaskan Tuhan Yesus, “Siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku”.

Tuhan Yesus memberikan cara pandang baru dalam memaknai persaudaraan atau kekeluargaan. Keluarga bagi Tuhan Yesus bukan didasarkan pada ikatan hubungan darah/saudara kandung, tetapi didasarkan pada ikatan rohani-spiritual, yakni melaksanakan sabda dan kehendak Allah. Menjadi Keluarga Yesus ditentukan dari ketaatan kita melakukan kehendak Allah dan perintahNya.

Bunda Maria adalah teladan pribadi yang melaksanakan kehendak Allah dengan spirit ”Fiat”-nya, kesiapsediaannya. ”Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut kehendak-Mu”, tegasnya saat didatangi Malaikat Tuhan. Bunda Maria dipuji oleh Yesus karena dia sudah menghayati ikatan cinta itu dengan melaksanakan kehendak Allah dengan segala resikonya.

Bisa saja kita menjadi keluarga yang beriman Katolik sudah bertahun-tahun, tetapi kita belum (tidak) taat pada kehendak Allah, masih mudah hidup dalam dosa, penuh dengan kemunafikan, dan keserakahan. Kita sering kali hidup dalam keegoisan, selalu ingin menang sendiri, dan merasa benar sendiri.

Marilah kita berusaha dengan bantuan Roh Kudus agar dapat necep sabda Dalem, manages kersa Dalem, dan ngemban dhawuh Dalem (meresapkan sabda Tuhan, memahami kehendak Tuhan dan melaksanakan kehendak Tuhan) dalam hidup sehari-hari.

Pertanyaan refleksinya, Sabda Tuhan / teks kitab suci mana yang menjadi pegangan hidup kita? Sejauhmana selama ini Sabda Tuhan memberikan kita kekuatan dalam hidup ini?

Berkah Dalem dan salam teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr