Percik Firman : Memperjuangkan Mutiara Kehidupan yang Berharga

Twitter
WhatsApp
Email
Kita semua tahu bahwa mutiara adalah sesuatu yang sangat berharga dan sangat mahal harganya. Pada zaman Yesus dan para Rasul, mutiara sangat diminati.

Hari Minggu Biasa XVII, 26 Juli 2026
Hari Kakek Nenek Sedunia
Bacaan: 1Raj. 3:5,7-12; Rm. 8:28-30; Mat. 13:44-52

Saudari-saudaraku yang terkasih,
Kita semua tahu bahwa mutiara adalah sesuatu yang sangat berharga dan sangat mahal harganya. Pada zaman Yesus dan para Rasul, mutiara sangat diminati. Pedagang-pedagang harus pergi ke Laut Merah, Teluk Persia, dan juga ke India untuk mendapatkan mutiara. Mutiara yang rendah mutunya berasal dari Laut Merah. Sedangkan mutiara yang bagus mutunya berasal dari Teluk Persia, pesisir Sri Lanka dan India.

Seorang pedagang harus mengadakan perjalanan yang membutuhkan “pengorbanan” di dalam pencariannya untuk mendapatkan mutiara yang lebih besar dan lebih baik mutunya. Kalau benda itu diyakini sebagai sesuatu yang berharga, pasti akan dicari, dirawat dan dijaga sebaik-baiknya.

Bacaan Injil hari Minggu Biasa ke-17 ini mengisahkan perumpamaan Tuhan Yesus mengenai Kerajaan Surga. Kerajaan Surga diumpamakan tiga hal, yaitu harta yang terpendam, mutiara yang berharga, dan pukat yang dilabuhkan di laut.

Ketika seseorang akhirnya dapat menemukan harta atau mutiara yang berharga itu, orang tersebut pun akan rela menjual seluruh miliknya untuk membeli tanah di tempat harta tersebut berada. Diungkapkan, “Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.”

Bapa-Bapa Gereja, seperti Santo Ireneus dan Santo Agustinus, mengidentifikasikan harta terpendam dan mutiara yang berharga tadi adalah Tuhan Yesus. Tuhan Yesus adalah mutiara yang tak ternilai harganya. Dialah Sang Juru Selamat. Dialah jaminan keselamatan dan kebahagiaan kekal.

Orang-orang yang baru bertobat sering mengatakan hal: “Saya telah menemukan Kristus. Kenapa kok tidak sejak dulu saya dibaptis dan menerima Kristus.”

Pada hari ini kita juga merayakan Hari Kakek Nenek Sedunia ke-6. Paus Leo XIV mengangkat tema “Aku tidak akan pernah melupakanmu” (Yesaya 49:15). Bapa Suci mengajak kakek nenek untuk menimba inspirasi dan kekuatan dari Kitab Yesaya.

Hal ini sebagai pesan penghiburan dan harapan bagi semua kakek-nenek dan orang lansia, terutama mereka yang hidup dalam kesepian atau merasa terlupakan.

Pada saat yang sama, hal ini adalah pengingat bagi keluarga dan komunitas gerejawi untuk tidak melupakan mereka, mengakui dalam diri mereka kehadiran yang berharga dan berkat. Bagi Paus Leo, kasih Tuhan kepada setiap orang tidak pernah gagal, bahkan dalam kerapuhan usia tua. Perayaan kakek nenek ini juga bertepatan dengan Pesta Santo Yoakim dan Santa Anna (orangtua Bunda Maria) pada 26 Juli.

Pertanyaan refleksinya, apa yang menjadi “mutiara yang berharga” dalam hidup kita selama ini? Bagaimana usaha kita untuk merawat mutiara-mutiara berharga itu? Apa yang akan kita lakukan untuk membahagiakan kakek nenek kita di usia senja mereka?

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr