Percik Firman: Allah Berkarya dari Sesuatu yang Kecil

Twitter
WhatsApp
Email
Bacaan Injil hari ini mengungkapkan ajaran Tuhan Yesus tentang Kerajaan Allah itu. Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi yang kecil dan ragi.

Selasa, 27 Oktober 2026
Bacaan Injil: Luk 13:18-21

Saudari-saudaraku yang terkasih,
Bacaan Injil hari ini mengungkapkan ajaran Tuhan Yesus tentang Kerajaan Allah itu. Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi yang kecil dan ragi. Kedua perumpamaan ini menggambarkan bagaimana Kerajaan Allah dimulai dari sesuatu yang kecil, sederhana, dan tidak mencolok, seperti pelayanan dan kasih Tuhan Yesus bersama dengan murid-murid dari kalangan orang sederhana, tetapi terus berkembang besar dan berdampak luas bagi dunia sampai sekarang ini. Kasih Tuhan sungguh luar biasa.

Biji sesawi itu diambil dan ditaburkan orang di kebunnya. Kita tahu bahwa biji sesawi adalah biji yang paling kecil dari segala jenis biji yang ditaburkan. Besarnya hanya satu milimeter, dan beratnya seperseribu gram. Tetapi jika biji sesawi itu sering tekun dirawat, disirami, dan dipupuk akan menjadi tumbuhan besar dan tinggi, bisa mencapai tiga meter. Maka, burung-burung di udara bisa bersarang di cabang-cabangnya.

Perumpamaan tentang ragi juga menggambarkan jumlah ragi yang sedikit, namun memiliki potensi untuk membuat adonan mengembang. Perumpamaan itu merupakan gambaran Kerajaan Allah yang dinyatakan melalui kehadiran dan pelayanan Yesus. Semula dianggap sepele dan diragukan oleh para pemimpin Yahudi, karena Yesus tampil bukan sebagai seorang raja, hanya anak tukang kayu, dan berkeliling dengan para murid yang sederhana. Namun banyak orang mengalami kuasa Kerajaan Allah melalui pengajaran dan mujizat yang Dia lakukan.

Biji sesawi dan ragi menggambarkan kuasa yang tersembunyi, yang secara diam-diam bekerja dan berdampak besar bagi banyak orang. Perumpamaan ini memotivasi kita untuk belajar bahwa Allah tidak memulai sesuatu yang menakjubkan dari hal-hal yang besar dan tampak spektakuler. Tetapi justru Allah memulai dari hal yang kecil dan sederhana.

Tak jarang kita manusia justru menghindari untuk tekun melakukan hal-hal kecil dalam hidup sehari-hari. Pinginnya serba cepat, instan. Iya nggak? Allah memulai karya-Nya dalam hidup kita dari hal-hal yang kecil. Maka, marilah kita melakukan sesuatu yang kecil dengan cinta yang besar kepada Tuhan dan sesama.

Pertanyaan refleksinya, Bagaimana ketekunan kita dalam menjalani tugas dan tanggungjawab sehari-hari? Apa komitmen kita untuk terus mengembangkan potensi diri yang Tuhan berikan kepada kita?

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang) # Y. Gunawan, Pr