WARAK, 14 Februari 2026 – Tanggal 14 Februari sering kali diidentikkan dengan selebrasi hari kasih sayang. Namun, bagi Orang Muda Katolik (OMK) dan Pendampingan Iman Remaja (PIR) Paroki Santo Petrus Warak, momen ini memiliki resonansi yang jauh lebih mendalam. Bukan sekadar tentang menerima cokelat atau ucapan romantis, melainkan tentang merawat sebuah visi besar yang telah mereka bangun bersama: mewujudkan Gereja sebagai sebuah “Rumah”.
Melalui perayaan Ekaristi Kaum Muda (EKM) yang dilanjutkan dengan sesi dinamika bersama, OMK dan PIR Paroki Santo Petrus Warak melebur dalam tema yang menggugah hati: “I Want Love, I Want Serve”. Tema ini bukanlah sebuah kebetulan yang berdiri sendiri, melainkan rangkaian napas panjang dari kegelisahan dan harapan kaum muda yang telah dipupuk sejak tahun lalu.
Menilik Kembali 2025: Awal Mula Pencarian “Rumah”
Untuk memahami kedalaman EKM Valentine tahun ini, kita perlu menengok kembali ke belakang. Sepanjang tahun 2025, OMK Santo Petrus Warak melakukan sebuah refleksi yang sangat jujur mengenai realitas dan kondisi kaum muda saat ini. Di tengah dunia yang menuntut kesempurnaan dan sering kali menghakimi, anak-anak muda menyadari satu kebutuhan yang sangat mendesak: mereka membutuhkan Gereja untuk sungguh-sungguh hadir sebagai sebuah “Rumah”.
Sebuah rumah yang tidak hanya menjadi bangunan fisik, tetapi ruang batin yang mampu menerima tanpa syarat, mendengarkan tanpa menghakimi, dan mengayomi setiap jiwa dengan segala dinamika, luka, serta pergumulannya.
Kesadaran ini tidak dibiarkan menguap begitu saja. Semangat untuk membangun rumah tersebut diwujudkan secara nyata melalui gelaran EKM dan puncak acara Specta pada bulan September 2025. Tidak berhenti di sana, kegelisahan dan kerinduan ini bahkan diabadikan ke dalam sebuah karya kreatif melalui pembuatan film berjudul “Rumah”.
Kini, di momen EKM Valentine 2026, semangat dan harapan tentang “Rumah” itu terus dibawa dan direalisasikan. Tujuannya satu: agar harapan kaum muda tetap terpupuk, terus menyala, dan tidak pernah putus di tengah jalan.
Menyebarkan Cinta yang Diterima
Ludevikus Radyaka Tegar Satya Prathidina, selaku Ketua Panitia EKM Valentine, menegaskan benang merah tersebut. Acara ini adalah muara dari rangkaian panjang pencarian jati diri kaum muda Warak.
“Acara ini bertujuan meneruskan tema kegelisahan dari OMK Warak tentang mencari ‘Rumah’. Harapannya, dengan mengenali diri sendiri, kita bisa menerima cinta. Pada intinya, dari cinta yang kita terima itu, kita memiliki keberanian untuk menyebarkan apa yang kita dapatkan ke lingkungan sekitar kita,” ungkap Egar
Inilah esensi cinta sejati ala OMK Warak: cinta yang setelah diterima dan dirasakan di dalam “Rumah”, tidak boleh disimpan sendiri. Cinta itu harus keluar dan mewujud dalam bentuk pelayanan.

Keluar dari Zona Nyaman: Teguran Kasih dari Altar
Perayaan EKM yang khidmat ini dipimpin oleh Romo Paroki Santo Petrus Warak, Romo Yohanes Yunuar Ismadi Pr, bersama dengan Romo Diakon Fransiskus Xaverius Merry Christian Putra Pr(Romo Tian).
Dalam khotbahnya yang sangat relatable dengan kehidupan anak muda, Romo Tian mengajak umat yang hadir untuk mendefinisikan ulang makna pertobatan. Pertobatan bukanlah sekadar kosa kata rohani, melainkan sebuah keputusan nyata dan radikal untuk berubah.
Tobat tidak melulu soal menahan lapar dan haus, tetapi tentang keberanian mengendalikan diri agar hidup kita tidak stagnan. Romo Tian melempar sebuah pertanyaan reflektif yang menohok: “Apakah kita sungguh sedang berjalan maju, atau sebenarnya kita hanya merasa nyaman berjalan di tempat?”
Zona nyaman memang terasa sangat membuai, namun kenyamanan itulah yang sering kali membunuh potensi. Tuhan memanggil setiap individu bukan untuk hidup “asal jalan”, melainkan untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri—menjadi pribadi yang mencintai dan melayani. Valentine pun dimaknai ulang sebagai pengingat bahwa cinta harus berinkarnasi menjadi tindakan nyata. Tema “Aku ada untuk mencintai dan melayani” menjadi undangan bagi orang muda untuk hidup bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi sesama.
Menjawab Tantangan: Mengapa Orang Muda Absen?
Dalam refleksinya, Romo Tian juga menyoroti sebuah realitas yang sering terjadi: jumlah orang muda yang sangat besar di paroki, namun berbanding terbalik dengan minimnya keterlibatan dalam kegiatan Gereja.
Ini menjadi bahan permenungan bersama yang mendalam. Apa sebenarnya yang menghambat langkah kaum muda?
- Apakah karena rasa malas?
- Adakah ketakutan dan rasa tidak percaya diri?
- Ataukah karena kurangnya dukungan dari lingkungan sekitar?
Gereja membutuhkan kehadiran orang muda yang sadar akan jati dirinya sebagai seorang Katolik, yang mewujud dalam tindakan nyata di tengah masyarakat. Oleh karena itu, Romo mengajak adanya kolaborasi antargenerasi. Orang muda dipanggil untuk berproses menjadi dewasa dan bertanggung jawab, sementara orang tua diharapkan memberi ruang, kepercayaan, dan dukungan penuh. Dengan sinergi inilah, impian menjadikan Gereja sebagai “Rumah” sungguh dapat terealisasi.

Doa yang Mewakili Kegelisahan Zaman
Kedalaman visi tentang “Rumah” ini semakin terasa saat doa umat didaraskan. Doa-doa yang diujubkan sangat mewakili realitas batin anak muda di era modern ini:
- Harapan akan Gereja: Keinginan yang tak putus agar Gereja benar-benar menjadi rumah bertumbuh yang menerima tanpa syarat.
- Dukungan Orang Tua: Kerinduan akan restu dan dukungan orang tua terhadap aktivitas orang muda di Gereja.
- Kesehatan Mental: Permohonan kewarasan batin di tengah tekanan zaman digital.
- Krisis Identitas & Masa Depan: Pergumulan dalam pencarian jati diri, kecemasan akan masa depan, dan proses menimbang arah panggilan hidup.
Dari Altar Menuju Kebersamaan: Membangun Dinamika Keluarga
Setelah EKM usai, acara dilanjutkan dengan sesi dinamika bersama untuk memecahkan kebekuan antara PIR dan OMK se-Paroki Santo Petrus Warak. Sesi ini dirancang agar mereka saling mengenal dan visi tentang “Rumah” benar-benar tercipta secara konkret malam itu.
Dinamika diisi dengan pembagian kelompok lintas usia, di mana mereka saling bekerja sama. Kemeriahan semakin bertambah dengan pemilihan Queen dan King acara, membawa gelak tawa dan kehangatan persaudaraan.
Puncak kebersamaan ditutup dengan penampilan DJ Willy. Dentuman musik membuat seluruh OMK dan PIR melebur menjadi satu. Tidak ada lagi sekat, rasa canggung, atau jarak usia. Mereka bersenang-senang dan merayakan masa muda dengan sukacita di rumah Tuhan.
Perayaan 14 Februari 2026 ini menjadi saksi bahwa kerinduan yang dimulai pada tahun 2025 tidak pernah padam. Melalui EKM dan dinamika bersama, OMK dan PIR Paroki Warak terus merawat nyala api itu. Gereja adalah rumah mereka, dan dari rumah itulah mereka berangkat untuk mencintai dan melayani dunia. (Hans Salvatore)









