Kegiatan Supervisi Dan Kunjungan Persaudaraan Ke-Paroki Santo Aloysius Gonzaga Mlati

Twitter
WhatsApp
Email
Supervisi ini dilaksanakan untuk menyapa umat dan pengurus paroki, sekaligus ngaruhke—memberi daya dorong pastoral

SLEMAN – Dalam rangka menyapa umat serta memastikan arah pastoral berjalan selaras, Kevikepan Yogyakarta Barat Keuskupan Agung Semarang (KAS) melaksanakan kegiatan Supervisi dan Kunjungan Persaudaraan ke Paroki Santo Aloysius Gonzaga, Mlati, Sleman pada Senin, 8 Juni 2026. Kegiatan ini dihadiri oleh Tim dari KAS, Tim Kevikepan Yogyakarta Barat, serta seluruh pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan sekretariat paroki setempat.

Meneguhkan Penggembalaan yang “Kroso” dan Searah Dalam pengantarnya, Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr, selaku penanggung jawab sekaligus wakil dari Kuria KAS, menyampaikan bahwa supervisi ini merupakan perpanjangan tangan dari Bapak Uskup. “Supervisi ini dilaksanakan untuk menyapa umat dan pengurus paroki, sekaligus ngaruhke—memberi daya dorong pastoral. Kita ingin memastikan bahwa penggembalaan paroki sungguh berhasil menggerakkan umat pada cara hidup Katolik yang relevan dan signifikan,” ungkap Rm. Harsanto.
Beliau juga menekankan pentingnya cinta Allah yang kroso (dirasakan nyata) dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, gerak pastoral paroki wajib berjalan satu arah dengan visi keuskupan yang tertuang dalam RIKAS dan ARDAS, di mana kevikepan bertindak sebagai pusat layanan dan penggerak utama.

Apresiasi dan Peneguhan Vikep Yogyakarta Barat
Rm. A. R. Yudono Suwondo, Pr, selaku Vikep Kevikepan Yogyakarta Barat, menyampaikan ucapan selamat dan ndherek bingah (turut berbahagia) atas perkembangan Paroki Mlati. Beliau memberikan catatan apresiasi terhadap empat hal krusial:
• Terus Bertumbuh: Rekomendasi supervisi 3 tahun lalu telah ditanggapi dan diupayakan dengan baik.
• Ketekunan Administrasi: Pengelolaan administrasi paroki dilaksanakan secara tekun dan rapi.
• Tata Kelola Harta Benda: Segala aset dan harta benda selalu dirembug bersama demi kebaikan seluruh umat.
• Sinergi Penggembalaan: Tim DPP diingatkan untuk setia bekerja di pos masing-masing tanpa harus merasa paling sibuk. Rm. Wondo menekankan prinsip Minor Ego, Maior Deus (Biarlah aku semakin kecil, dan Dia semakin besar – Yoh 3:30) sebagai ikhtiar kerendahan hati dalam melayani Gereja.

Meneladani Santo Aloysius Gonzaga: Menjadi Murid yang Mendengarkan Menjelang pesta nama pelindung paroki, Rm. Wondo mengajak umat untuk merefleksikan kembali spiritualitas Santo Aloysius Gonzaga. Sebagai pribadi yang rendah hati dan taat, Aloysius memiliki semangat kemuridan yang kuat untuk selalu mendengarkan (mirengke). Beliau menguraikan bahwa dalam bahasa Latin, mendengarkan adalah Oboedire (merespons/menanggapi). Lawan katanya adalah tuli (Surdus), yang menjadi akar kata Absurdus (absurd/suram). Oleh karena itu, Gereja Mlati diajak untuk:
1. Menjadi Persekutuan Paguyuban: Menjadi kumpulan murid Kristus yang sejati, bukan sekadar kerumunan orang di sepanjang Jalan Magelang.
2. Dibimbing Roh Kudus: Berjalan di bawah tuntunan ilahi, bukan bisikan-bisikan lain.
3. Berjalan Bersama: Melangkah beriringan (sinodal), bukan saling balapan mencari juara.
4. Melaksanakan Perutusan Yesus: Mengutamakan kehendak Sang Guru, bukan keinginan pribadi.
5. Memperjuangkan Kesejahteraan & Martabat: Berfokus pada hidup yang bermartabat, bukan sekadar “Memperjuangkan Badan Gede” (MBG).
6. Mewujudkan Peradaban Kasih: Bukan justru membentuk pasukan khusus atau detasemen untuk membela pribadi tertentu.

Sebagai penutup refleksi, umat diajak menginternalisasi sikap pasrah pasrah yang indah: “Saya adalah sepotong tanah liat yang siap dibentuk”