Pelayanan misa di Paroki Bayat, Sabtu 14 Februari 2026, menjadi bagian dari upaya penguatan inkulturasi dan pengembangan karawitan liturgis di paroki-paroki se-Kabupaten Klaten.
Tim Budaya Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) Kabupaten Klaten terus mendorong pengembangan seni budaya dalam kehidupan menggereja. Wujud konkret gerakan tersebut tampak dalam pelayanan misa safari yang dilaksanakan di Paroki Santa Maria Ratu Bayat pada Sabtu, 14 Februari 2026.

Kegiatan ini menjadi bagian dari misi FMKI untuk menghidupi dan mengembangkan Ajaran Sosial Gereja, sekaligus meningkatkan kapasitas umat Katolik dalam memahami serta menghayati kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Dalam konteks budaya, karawitan dipandang sebagai sarana inkulturasi iman yang menjembatani nilai-nilai Injil dengan kearifan lokal, sehingga liturgi semakin membumi dan dekat dengan umat.

Pelayanan tersebut dipimpin oleh Bapak Sito Mardowo bersama Tim Karawitan dan Koor Albertus Agung. Melalui pembaruan aransemen gamelan, lagu-lagu liturgi dibawakan dengan nuansa yang lebih hidup dan dinamis, namun tetap menjaga suasana doa yang khusyuk.
“Kami ingin menunjukkan bahwa gamelan dan karawitan bisa menjadi sarana pewartaan yang kuat. Liturgi tidak kehilangan kekhidmatannya; justru semakin menyentuh hati ketika dibawakan dengan sentuhan budaya yang akrab dengan umat,” ungkap Bp. Sito Mardowo.
Sebagai dosen kesenian di PPG Yogyakarta, dalang, sekaligus pencipta lagu-lagu Jawa, Bp. Sito menegaskan bahwa pembaruan aransemen dilakukan tanpa meninggalkan kaidah liturgi Gereja. “Prinsipnya bukan sekadar meramaikan, tetapi mengangkat kualitas. Gamelan bisa terdengar segar dan rancak, namun tetap mendukung suasana doa dan perayaan Ekaristi,” tambahnya.
Program peningkatan kualitas koor dengan iringan gamelan ini dilaksanakan melalui safari ke berbagai paroki, bekerja sama dengan bidang liturgi setempat dalam penjadwalan dan pendampingan. Selain di Bayat, tim juga telah melayani di Paroki Jombor, Paroki Cawas, Paroki Kebonarum, Gua Maria Sri Ningsih Dalem, serta Paroki Gondang.

Kehadiran tim mendapat sambutan hangat dari umat Paroki Bayat. Rm. Petrus Suratmin Pr, Pastor Paroki Bayat pun menyampaikan apresiasi atas pelayanan tersebut. Ia menilai pengembangan karawitan liturgis menjadi langkah konkret dalam merawat inkulturasi Gereja di tengah masyarakat khususnya di Bayat.

Lebih dari sekadar pelayanan musik liturgi, safari karawitan ini mencerminkan wajah Gereja yang sinodal: Gereja yang berjalan bersama, saling mendengarkan, dan saling memperkaya. Melalui kolaborasi lintas paroki, umat diajak menyadari bahwa inkulturasi bukan hanya ekspresi budaya, melainkan juga aktualisasi persekutuan dan perutusan.

Melalui safari pelayanan ini, Tim Budaya FMKI Klaten berharap semangat pengembangan karawitan tidak berhenti, melainkan terus berproses dan berinovasi. Dengan demikian, inkulturasi sungguh menjadi ruang perjumpaan antara iman dan kebudayaan yang bertumbuh bersama umat.

Penulis: Alfrit – FMKI Klaten
Penyunting: TAW – Paroki Bayat









