DIALAH RAJA YANG SOLIDER

(Homili Minggu Palma – 4 April 2020, oleh: Mgr Robertus Rubiyatmoko)

Para Romo, Bruder, Suster, Bapak Ibu, Saudara-saudariku, Orang Muda, dan Anak-anak yang terkasih dimanapun Anda berada.

Liturgi sabda hari minggu Palma ini mengajak kita semua untuk merenungkan siapa Yesus bagi kita. Dia adalah Sang Raja. Bukan raja duniawi dengan segala kemewahan dan kemegahannya, sebagaimana dipikirkan dan diharapkan oleh orang-orang Israel pada waktu itu, namun Raja yang penuh dengan kesederhanaan dan bahkan penderitaan.

Terhadap kehadiran Yesus pun ada 3 sikap yang sangat berbeda sekali:

  • Pertama: mereka yang dengan tulus menerima dan mengakui Yesus sebagai Nabi, sebagai Mesias, sebagai Anak Allah. Mereka inilah lingkaran para rasul dan para murid yang selalu setia mengikuti Yesus dan mendengarkan pengajaranNya.
  • Kedua: mereka yang awalnya sangat mengharapkan Yesus sebagai raja duniawi yang dengan keperkasaan mampu membawa pembebasan dari penjajahan dan kesejahteraan. Namun akhirnya mereka kecewa berat ketika apa yang diharapkan tadi tidak terjadi; ketika melihat Yesus tidak berdaya berhadapan dengan cercaan dan tuduhan para pemimpin dan tokoh agama mereka.

Mereka inilah orang-orang yang tadinya bersorak-sorai mengelu-elukan Yesus sambil berseru “Hosana bagi anak Daud!” Namun tak lama kemudian meneriakan “Salibkanlah Dia” kepada Yesus.

  • Ketiga: mereka yang sejak semula tidak suka dengan Yesus dan mengganggapnya sebagai klilit atau duri dalam daging. Maka mereka selalu melawan atau menjegalNya dengan berbagai macam cara. Mereka inilah yang kemudian menyeret Yesus dan memperkarakanNya kepada walinegeri Pilatus. Pilatus sendiri menyatakan bahwa karena kedengkianlah Yesus diserahkan ke Pilatus dan akhirnya disalibkan.

Pertanyaan kita, mengapa di persidangan Yesus tidak memberi jawab dan membela diri? Apakah itu tanda ketidakberdayaanNya? Apakah penyesahan, penganiayan, dan penyaliban Yesus di gunung golgota merupakan tanda kekalahan Yesus? BUKAN.

Yesus menerima perlakuan itu dengan penuh kerelaan, dengan rasa legawa, dan menapaki jalan penderitaan menuju salib dengan penuh kebebasan. Bukan karena Dia merasa kalah dan tidak berdaya. Sebaliknya, Yesus dengan bebas memilih jalan salib/kematian. Ia rela mengalami penderitaan dan disalibkan demi melaksanakan kehendak Allah BapaNya yang ingin menyelamatkan manusia dari kuasa dosa.

Yesus menyadari bahwa tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan dan menebus dosa manusia kecuali dengan jalan salib. Penderitaan dan kematianNya di Salib menjadi wujud solidaritas Allah pada manusia. Allah yang menghendaki manusia selamat, rela menyerahkan anak tunggalNya bagi kita. Dan Yesus siap menanggung itu semua (bdk. Flp 2,6-11).

Allah adalah Allah yang peduli dan perhatian pada kondisi manusiawi kita. Ia solider pada ketidakberdayaan manusia. Dan ingin manusia terbebaskan dari kuasa dosa yang membelenggunya. Maka sengsara, wafat dan akhirnya kebangkitan Yesus menjadi tanda solidaritas Allah pada kita.

Karena itu pantaslah kita bersyukur atas anugerah Yesus yang telah sudi mengorbankan diri demi solidaritasNya pada kita. Pertanyaannya, bagaimana kita membalas solidaritas Yesus ini? Ya dengan meneruskan solidaritasNya itu kepada sesama kita yang sedang mengalami kesulitan.

Di masa merebaknya wabah virus corona ini, ada banyak saudara kita yang membutuhkan uluran solidaritas kita. Saya salut/memuji Panjenengan semua yang meskipun ada risiko tinggi bagi keselamatan diri dan keluarga, tetap bekerja melayani kepentingan masyarakat: para tenaga medis, relawan, karyawan swalayan, dll. Ini pengorbanan yang luar biasa. Tidak sedikit yang bergerak untuk berdonasi guna menyediakan APD. Banyak umat paroki yang mulai bergerak membagikan sembako untuk membuat lumbung-lumbung pangan di tingkat lingkungan guna membantu sesama yang terdampak virus corona.

Yesus telah solider pada kita, mari kita pun mengimbanginya dengan juga solider pada mereka yang sedang mengalami kesulitan, khususnya karena wabah virus corona. Semoga kehadiran dan uluran tangan kita menjadi wujud nyata kasih dan uluran tangan Tuhan pada mereka.

Facebook
Google+
Twitter

Kabar lain

INDONESIA MAJU

SURAT GEMBALA 75 TAHUN KEMERDEKAAN INDONESIA USKUP AGUNG KEUSKUPAN AGUNG