MAGELANG, KEDU- Bayangkan sebuah pagi yang tenang di pelataran Gereja Paroki Santa Maria Fatima Magelang. Di balik keteduhannya, tersimpan sebuah tanggung jawab besar yang dipikul oleh para relawan. Mereka bukan sekadar penjaga mereka adalah garda depan yang menjaga keselamatan umat. Namun, apa jadinya jika ancaman itu datang bukan dalam bentuk pencurian, melainkan kobaran api yang tak terduga?
Minggu, 19 April 2026, suasana pelataran tersebut berubah menjadi ruang belajar yang dinamis. Tim Pelayanan Keamanan Parkir (Timpel) Paroki Santa Maria Fatima Kota Magelang bersinergi dengan UPT Damkar Kota Magelang untuk satu tujuan, memastikan bahwa setiap personel siap menghadapi kemungkinan terburuk dengan kepala dingin. Pelatihan pemadaman kebakaran ringan ini bukan sekadar simulasi teknis, melainkan sebuah transformasi dari ketidaktahuan menjadi kesiapsiagaan yang berakar pada kasih.
Bagi banyak orang, memeriksa tabung pemadam mungkin terasa seperti rutinitas teknis yang membosankan. Namun, Rm. Heribertus Warnata Nata Wardaya, Pr memberikan sudut pandang yang melampaui logika fisik. Beliau menarik garis merah antara kesiapan menghadapi api dengan panggilan iman untuk selalu waspada.

Dalam dunia teologi, istilah “berjaga-jagalah” sering kali dikaitkan dengan penantian spiritual yang abstrak. Namun, dalam konteks ini, Romo Nata membumikan nilai tersebut ke dalam tindakan nyata yang sangat praktis.
“Pelatihan ini sebagai wujud melaksanakan kehendak Allah tentang berjaga-jagalah’’, Tegas Romo Nata.
Analisis ini sangat kuat karena mengubah tugas keamanan yang terlihat “duniawi” menjadi sebuah manifestasi iman. Menjaga gereja dari bahaya kebakaran adalah cara konkret mencintai sesama dan memelihara apa yang telah dianugerahkan Allah. Dengan pandangan ini, memegang selang pemadam bukan lagi sekadar instruksi teknis, melainkan sebuah ibadah dalam bentuk perlindungan fisik.
Sering kali, dalam sebuah kebakaran, korban jiwa jatuh bukan hanya karena api, melainkan karena kepanikan yang melumpuhkan logika. Itulah sebabnya, inti dari pelatihan ini adalah sebuah transisi mental, mengubah mentalitas korban yang berlari ketakutan menjadi mentalitas pelindung yang bertindak dengan tenang.
Para instruktur menekankan bahwa alat pemadam tercanggih sekalipun tidak akan berguna jika penggunanya dikuasai rasa takut. Pengendalian diri adalah “alat pemadam” pertama yang harus diaktifkan. Melalui simulasi langsung, para peserta dilatih untuk:
- Mengatasi rasa takut terhadap panas dan cahaya api agar bisa mendekat dan mengambil tindakan yang tepat.
- Menjaga ketenangan batin agar tetap bisa berpikir taktis dan tidak melakukan tindakan ceroboh yang membahayakan diri sendiri atau orang lain.
- Mengendalikan api secara efektif, memastikan fokus pada titik api agar tidak merambat dan menyebar ke area yang lebih luas.
Ketenangan inilah yang menjadi pembeda antara bencana besar dan insiden yang berhasil tertangani.
Seorang pelindung komunitas yang handal adalah mereka yang memiliki kemampuan beradaptasi. Meskipun penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) adalah standar utama, pelatihan ini juga membekali peserta dengan kreativitas dalam situasi darurat.
Keadaan darurat sering kali tidak ideal. Bisa jadi APAR tidak tersedia di jangkauan terdekat. Di sinilah pentingnya memahami prinsip dasar pemadaman menggunakan benda-benda di sekitar kita. Kemampuan untuk berpikir cepat memanfaatkan apa pun yang ada di lingkungan untuk memutus rantai api menunjukkan bahwa kesiapsiagaan sejati terletak pada kecerdasan kita dalam memanfaatkan situasi, bukan hanya pada ketersediaan alat modern.
Ketua Tim Pelayanan Keamanan Parkir, Yakobus Totok Kartono, menyadari sepenuhnya bahwa pengetahuan ini tidak boleh berhenti di tingkat personel keamanan saja. Baginya, kegiatan ini adalah pemantik untuk membangkitkan kesadaran kolektif seluruh umat.
Ketika setiap individu dalam komunitas memiliki pemahaman yang sama tentang risiko, lingkungan tersebut secara otomatis menjadi lebih aman. Dampak jangka panjang dari pelatihan ini bukan sekadar soal angka kerugian materi yang bisa ditekan, melainkan soal penghargaan terhadap nyawa manusia. Perlindungan harta benda dan keselamatan jiwa adalah buah dari komunitas yang peduli dan teredukasi.
Penulis: Herning Palmono
Editor: Agus Weraiter









