Empowered Her Academy: Perempuan Muda Pembaru Katolik

Twitter
WhatsApp
Email
Kelompok Pelayanan Kerasulan Apostolik Kevikepan Semarang membentuk Empowered Her Academy untuk membentuk perempuan muda Katolik yang beriman, berkarakter, dan memiliki jiwa kepemimpinan pelayanan.

Semarang – Sejarah keselamatan manusia menempatkan perempuan sebagai pelaku utama karya keselamatan Allah. Maria dari Nazaret menjadi teladan penting melalui kesediaannya menjawab panggilan Allah. Gereja juga menegaskan bahwa perempuan memiliki martabat yang setara dengan laki-laki dan dipanggil bersama-sama untuk membangun misi penyelamatan. Namun, perempuan masih menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan sosial dan kepemimpinan. Data Gender Social Norms Index (GSNI) 2023 menunjukkan bahwa hampir 9 dari 10 orang, baik laki-laki maupun perempuan, masih memiliki setidaknya satu bias terhadap perempuan. Pandangan bahwa laki-laki lebih layak menjadi pemimpin politik maupun bisnis juga masih ditemukan.

Dalam konteks Gereja Katolik, semangat sinodalitas mengajak umat untuk berjalan bersama, saling mendengarkan, dan mengambil bagian secara aktif dalam misi. Semangat tersebut mendorong sinergi Kelompok Pelayanan Kerasulan Apostolik Kevikepan Semarang, yang terdiri dari Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (KPKC), Komisi Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan (PK3), Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAK), serta Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE).

Dari sinergi tersebut lahirlah Empowered Her: Empowering Catholic Women for Leadership Academy. Academy ini dirancang sebagai ruang pembinaan selama tiga bulan yang mengintegrasikan spiritualitas, kepemimpinan, komunikasi, manajemen organisasi, literasi digital, advokasi sosial, dan pembangunan jejaring. Peserta yang menyelesaikan seluruh rangkaian Academy akan menyandang sebutan Strong Her, sebagai perempuan yang diharapkan mampu menjadi bagian dari perubahan nyata di Gereja dan Indonesia.

Tujuan kegiatan Empowered Her Academy yaitu membentuk perempuan muda Katolik yang beriman, berkarakter, dan memiliki jiwa kepemimpinan pelayanan, sehingga mampu menjadi agen perubahan di Gereja, masyarakat, dan ruang kebangsaan. Peserta memiliki spiritualitas kepemimpinan yang kuat, dengan Yesus sebagai model kepemimpinan dan Ajaran Sosial Gereja sebagai landasan geraknya dan mengembangkan kesadaran diri (self-awareness) dan kepercayaan diri publik.

Pak Ferdi membawakan materi yang bertujuan untuk penguatan pribadi peserta dan membangun organisasi yang kuat

Selama 3 bulan ruang pembinaan tersebut memiliki program pertemuan online selama 12 kali melalui Zoom yang dilaksanakan setiap hari Selasa pukul 19.00 – 21.00 WIB. Dalam pelaksanaannya peserta dibagi dalam lima kelompok. Pertemuan Zoom Online tersebut diisi dengan pemaparan materi oleh Narasumber-narasumber tingkat Nasional. Setelah pemaparan materi, setiap kelompok masuk ke dalam breakout room untuk berdiskusi kemudian mempresentasikan hasilnya di ruang utama Zoom. Sedangkan untuk pertemuan offline memiliki dua agenda yaitu agenda pertama telah terselenggara pada tanggal 29-30 Agustus 2026 dipandu oleh Bapak Dr. Ferdinandus Hindiarto dan tim. Bapak Ferdi membagi pertemuan dengan sesi materi dan sesi outbound dengan tujuan penguatan pribadi peserta dan membangun organisasi yang kuat. Agenda pertemuan offline yang kedua yaitu Rekoleksi Perutusan dengan tema She is Sent: Diutus Sebagai Terang dan Pembaru.

Rekoleksi perutusan EHA hari pertama di Rumah Retret Abdi Kristus Gedanganak Ungaran

Rumah Retret Abdi Kristus Ungaran menjadi tempat Rekoleksi Perutusan Empowered Her Academy yang diselenggarakan pada tanggal 3-4 Oktober 2026. Kegiatan ini merupakan puncak acara dari seluruh rangkaian yang telah diselenggarakan sejak 25 Juli 2026. Rekoleksi Perutusan dihadiri 34 peserta. Pada awal acara dibuka oleh Koordinator Academy Empowered Her, yaitu Romo Yohanes Wicaksono, Pr., selaku Ketua Komisi PK3 kemudian dilanjutkan sambutan oleh Romo Adolfus Suratmo Atmomartaya, Pr., Ketua Komisi KPKC sekaligus Ketua Kelompok Pelayanan Kerasulan (Apostolik). Dalam sambutannya, Romo Ratmo mengucapkan terima kasih karena peserta sudah setia sampai pada dititik akhir acara. Romo Ratmo menambahkan bahwa ini bukan hanya peserta yang belajar tetapi panitia juga terus belajar dari setiap pertemuan baik pertemuan online maupun offline. Dari pertemuan itu, kita mencoba merangkum butir-butir yang menjadi peran penting yang akan berkelanjutan hingga menjadi program bersama.

Pada hari pertama, acara dibuka dengan review peserta selama pembelajaran 3 bulan, pemutaran video selama kegiatan online dan offline dilanjutkan dengan menayangkan video sapaan dari Romo Vikaris Episkopal Semarang, Romo JB Rudy Hartono, Pr. Para panitia turut mengisi acara yaitu dengan presentasi mengenai pengenalan Komisi-Komisi Kelompok Pelayanan Kerasulan yaitu Komisi HAK, Komisi KPKC, Komisi PSE dan Komisi PK3. Pertemuan sesi pertama memiliki fokus utama yaitu pembekalan peserta dalam pembuatan rencana tindak lanjut (RTL) setelah perutusan.

Pembagian sertifikat bagi para peserta EHA

Hari kedua pada pagi hari, para peserta diajak untuk terjun ke lapangan yang dibagi dalam 3 lokasi yaitu Alun-Alun Bung Karno Ungaran, depan area Rumah Dinas Bupati Ungaran dan Pasar Ungaran. Hal tersebut dilakukan supaya peserta dapat melihat permasalahan yang sedang terjadi di masyarakat. Setelah itu para peserta mempresentasikan refleksi hasil wawancara narasumber-narasumber di lapangan. Pada hari kedua ini merupakan akhir dari seluruh rangkaian Academy, maka setiap kelompok membuat rencana tindak lanjut (RTL) yang masih tetap bersinergi dengan Kelompok Pelayanan Kerasulan sebagai cara untuk mewujudkan aksi dengan terencana, sungguh, dan terlaksana. Di akhir sesi acara ditutup dengan Misa Perutusan dan penyerahan sertifikat secara simbolis kepada perwakilan per kelompok.