Percik Firman: Tidak Lekat pada Harta Kekayaan

Twitter
WhatsApp
Email
Bacaan Injil hari Minggu ini mengisahkan bagaimana para penggarap kebun anggur dikuasai ketamakan. Mereka ingin menguasai semua hasil

Minggu Biasa XXVII, 4 Oktober 2026
Bacaan: Yes. 5:1-7; Flp. 4:6-9; dan Mat. 21:33-43

Saudari-saudaraku yang terkasih,
Bacaan Injil hari Minggu ini mengisahkan bagaimana para penggarap kebun anggur dikuasai ketamakan. Mereka ingin menguasai semua hasil kebun anggur. Mereka tidak mau menyerahkan hasil kebun anggur itu kepada sang tuan pemilik. Mereka tidak tahu bersyukur dan berterimakasih. Mereka ingin mengambil bagian yang bukan hak mereka.

Saat ada para utusan datang ingin menagih hasil kebun anggur, para penggarap malah menangkap, memukuli, melempari batu dan membunuh para utusan itu. Bahkan anak tunggal yang menjadi ahli waris pun dibunuh.

Ketamakan (bahasa Latin: avaritia) adalah keinginan tak terkendali atas materi atau harta duniawi. Dalam Kitab Suci tertulis bahwa orang yang tamak tidak pernah memiliki uang yang cukup dan tidak pernah penghasilannya terpuaskan (Pengkhotbah 5:9). Bagi Santo Paulus, cinta akan uang adalah akar segala kejahatan dan menyebabkan seseorang dapat menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya sendiri (1 Tim 6:10).

Dalam hidup ini, kita memang membutuhkan sego, kanca, tangga, lan suwarga (nasi, teman, tetangga, dan surga). Bapak Kardinal Darmojuwono pernah mengungkapkan, “Aja ngoyak bandha donya, ning goleka suwarga”. Hal ini kiranya sejalan dengan pesan Tuhan Yesus, “Carilah lebih dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu”.

Pada hakekatnya apapun yang kita punyai bukanlah milik kita sendiri. Tetapi Tuhanlah sesungguhnya Sang Pemiliknya. Kita hanya dititipi. Harta kekayaan kita adalah titipan dari Tuhan. Jangan sampai kita diperbudak oleh ketamakan akan harta.

Kita mempunyai teladan pribadi yang tidak diperbudak oleh harta duniawi, yaitu Santo Fransiskus Asisi (1182-1226). Dia diperingati setiap tanggal 4 Oktober. Meskipun berasal dari keluarga pedagang kain yang kaya raya, dia tidak dimabukkan oleh kekayaan orangtuanya. Dia adalah orang kudus yang dikagumi sampai kini. Kebesarannya terletak pada dua hal, yaitu: kegembiraannya dalam hidup sederhana dan cintanya yang merangkul seluruh ciptaan sebagai saudara-saudari. Ia dijuluki “Sahabat alam semesta” dan semua disapanya sebagai ‘saudara/i’.

Pertanyaan refleksinya, Apakah kita pernah dikuasai ketamakan dalam hidup ini? Bagaimana sikap kita terhadap harta kekayaan (uang, kendaraan, bakat atau talenta) yang dimiliki?

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr