Kamis, 17 September 2026
Bacaan Injil: Luk 7:36-50
Saudari-saudaraku yang terkasih,
Dalam masyarakat kita ada orang yang dikenal karena hidupnya baik. Pinter masak. Peduli dan suka membantu teman. Senyumnya ramah. Suka mentraktir temannya makan. Dia pinter bermain musik dan menyanyi. Dia pandai melukis dan menulis.
Ada pula orang yang dikenal karena hidupnya tidak baik. Orang menjadi viral karena terlibat korupsi. Suka mengganggu rumah tangga temannya. Terlibat dalam pembunuhan yang berencana. Terlibat dalam kasus narkoba. Terlibat dalam prostitusi online, pinjaman online (pinjol), atau judi online (judol). Singkatnya, seseorang bisa menjadi terkenal atau viral di tengah masyarakat, bisa karena hal yang baik maupun hal yang tidak baik.
Dalam bacaan Injil hari ini dikisahkan adanya seorang wanita yang dikenal sebagai orang berdosa. “Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa” (Luk 7:37). Dia datang menemui Yesus, yang waktu itu Dia diundang makan di rumah seorang Farisi.
Setiap orang pasti mempunyai dosa. Tetapi wanita itu ’dikenal sebagai orang berdosa’, karena dia bukan wanita baik-baik. Sepertinya dia adalah pelacur. Bisa jadi, sebelumnya dia telah mendengar ajaran Yesus dan sikap-Nya yang peduli dan berbelaskasih.
Karena tersentuh oleh ajaran dan tindakan Yesus, wanita itu mencari Yesus. Dia tidak malu pada orang banyak. Bahkan berani menerobos cap-cap negatif yang diberikan masyarakat padanya.
Diungkapkan, pertobatan wanita itu ditunjukkan dengan perbuatan kasihnya kepada Tuhan Yesus, seperti: meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi, membasuh kaki Yesus dengan air matanya. Yesus memuji tindakan wanita itu. Lalu Dia menunjukkan kasih kepada wanita itu.
Kasih Tuhan lebih besar daripada dosa manusia. Betapa leganya wanita itu ketika Yesus berkata, ”Dosa-dosamu diampuni… Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!”
Santo Gregorius Agung (540-604) merefleksikan pertobatan wanita itu dengan sangat menarik. “Matanya yang dulu mengidamkan hal-hal dunia, kini ia jadikan aus oleh tangis penyesalan. Ia yang dulu menampilkan rambutnya untuk mempercantik wajahnya, kini ia menyeka air matanya dengan rambutnya…. Ia yang dulu menyombongkan diri dengan mulutnya, kini mencium kaki Tuhan, dan menekankan bibirnya di kaki Penebusnya”.
Lebih lanjut, “Dia yang dulu menggunakan minyak urapan untuk mengharumkan tubuhnya; apa yang tak layak digunakan untuk dirinya sendiri, kini secara terpuji dipersembahkannya kepada Tuhan….Ia mengubah begitu banyak kesalahannya menjadi banyak kebajikan yang setimpal, sehingga sebanyak itu dari dirinya dapat sepenuhnya melayani Allah dengan pertobatannya, seperti dahulu ia telah menghina Allah dengan dosa-dosanya….”.
Tuhan Yesus memandang ungkapan pertobatan wanita itu sebagai tanda iman dan kasihnya kepada Allah. Sabda Tuhan hari ini juga mengingatkan kita, agar kita tidak memiliki sikap menyerupai orang Farisi, yang memandang rendah orang berdosa, bahkan mengkritik Tuhan yang mau mengampuni orang berdosa. Kita perlu waspada akan kecenderungan kita yang memandang rendah dan mudah menghakimi orang lain.
Santo Gregorius menasihati, “Ketika memandang orang-orang berdosa, kita harus pertama-tama meratapi diri kita sendiri karena malapetaka yang mereka alami, sebab mungkin kita telah mengalami kejatuhan yang serupa, dan pasti cenderung pada kejatuhan yang serupa tersebut”.
Pertanyaan Refleksinya, Apakah selama ini kita mudah menghakimi orang lain dengan label-label negatif? Apa wujud pertobatan kita untuk hidup selaras dengan kehendak Tuhan?
Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang)
Y. Gunawan, Pr









