Percik Firman: Hati Manusia

Twitter
WhatsApp
Email
Bacaan Injil pada hari ini mengisahkan pengajaran Tuhan Yesus kepada para murid mengenai makna perumpamaan seorang penabur. Perumpamaan ini merupakan perumpamaan fondasi atau dasar dari ajaran Yesus untuk bisa memahami ajaran-ajaran yang lain.

Jumat, 24 Juli 2026
Bacaan Injil: Mat. 13:18-23

Saudari-saudaraku yang terkasih,
Bacaan Injil pada hari ini mengisahkan pengajaran Tuhan Yesus kepada para murid mengenai makna perumpamaan seorang penabur. Perumpamaan ini merupakan perumpamaan fondasi atau dasar dari ajaran Yesus untuk bisa memahami ajaran-ajaran yang lain.

Benih itu jatuh di beberapa tempat yang berbeda-beda: di pinggir jalan, di tanah yang berbatu-batu, di tengah semak duri, dan di tanah yang baik atau subur.

Jika benih itu adalah firman Allah, tanah yang menerima benih itu adalah hati manusia. Hati seseorang digambarkan seperti tanah, tempat benih ditabur. Hal ini dapat dilihat di Matius 13:19 “Benih ditaburkan ke dalam hati seseorang”.

Diharapkan benih itu bisa berakar kuat, bertumbuh dengan subur, dan berbuah melimpah di dalam hidup manusia.

Berbagai macam tanah yang digambarkan di dalam perumpamaan ini merupakan gambaran dari berbagai macam sikap hati manusia. Benih di pinggir jalan (hati yang yang lembek), di tanah yang berbatu-batu (hati yang keras), di tengah semak duri (hati yang diliputi kekhawatiran), dan di tanah yang baik atau subur (hati yang terbuka atau rendah hati).

Hati yang terbuka atau rendah hati akan menjadi tempat yang subur bagi tumbuhnya firman Allah itu. Juga menjadi tempat yang subur bagi tumbuhnya persaudaraan, kebaikan dan sukacita.

Kerendahanhati adalah keutamaan dasar. Dalam bahasa Latin, rendah hati adalah humilis. Kata ini diturunkan dari kata “humus”, yakni lapisan tanah hitam yang amat subur.

Semua benih bisa tumbuh kalau disebarkan di tanah humus. Bahkan bisa berlipat ganda. “Ia berbuah, ada yang seratus, ada yang enam puluh, dan ada yang tiga puluh ganda”, tegas Tuhan Yesus.

Pertanyaan refleksinya, Apa yang kita lakukan ketika usaha gagal? Apa yang kita lakukan ketika usaha berhasil? Jika diberi skala angka 1-10, berapa nilai ketekunan kita selama ini?

Berkah Dalem dan Salam teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr