GEREJA ST. YUSUP PADOKAN – Gereja St. Yusup Padokan (GSYP), Paroki Hati Kudus Yesus Pugeran, memperingati usia ke-55 tahun dengan mengusung tema “Prasaja Kebak Ing Kabungahan Lan Daya Pangaribawa”. Perayaan yang berpuncak pada Ekaristi Syukur Konselebrasi, Kamis (11/6/2026), menjadi momentum refleksi atas perjalanan iman umat sekaligus penguatan keterlibatan lintas generasi dalam kehidupan Gereja.
Koordinator Pengurus Gereja St. Yusup Padokan, F. Santi Lestari, mengatakan peringatan 55 tahun tersebut dilandasi rasa syukur atas perjalanan Gereja sejak perayaan Ekaristi perdana di Kapel Padokan pada 6 Juni 1971. Menurutnya, usia 55 tahun bukan sekadar penanda waktu, melainkan kesempatan untuk melihat penyertaan Tuhan melalui kesetiaan umat dari generasi ke generasi di Padokan, Kalurahan Tirtonirmolo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul.
“Lima puluh lima tahun bukan sekadar hitungan usia, melainkan kesempatan untuk melihat bagaimana Tuhan bekerja melalui kesetiaan umat dari generasi ke generasi. Kami menyadari bahwa Gereja St. Yusup Padokan dapat bertumbuh hingga hari ini karena ada begitu banyak orang yang dengan sederhana tetapi setia menghidupi imannya, melayani, dan menjaga kebersamaan,” ujar Santi.
Ia menegaskan bahwa yang dirayakan bukan hanya keberadaan bangunan gereja, melainkan kehidupan Gereja yang terus berkembang melalui pelayanan, karya sosial, dan dinamika iman umat di tengah perubahan zaman.

Perjalanan Gereja St. Yusup Padokan berakar dari komunitas umat Katolik yang telah berkembang dalam reksa pastoral Paroki Hati Kudus Yesus Pugeran sebelum Ekaristi perdana tahun 1971. Bangunan yang menjadi tempat perayaan pertama itu hingga kini masih dikenal masyarakat sebagai Kapel Padokan, yang juga memiliki keterkaitan sejarah dengan karya pendidikan TK Indriyasana Padokan, kini TK Indriyasana Kasihan.
Dalam peringatan tahun ini, panitia mengangkat semangat prasaja atau kesederhanaan sebagai benang merah seluruh kegiatan. Ketua Panitia HUT ke-55, Markus Aprisiyanto, menjelaskan bahwa kesederhanaan dimaknai sebagai ruang keterlibatan bagi semua orang sesuai kemampuan dan talenta yang dimiliki.
“Prasaja bagi kami bukan berarti serba sedikit atau seadanya. Prasaja berarti memberi ruang bagi siapa saja untuk terlibat sesuai kemampuan yang dimiliki. Ada yang melayani melalui tenaga, ada yang berbagi waktu, ada yang menyumbang gagasan, ada yang membantu melalui donasi, dan ada yang mendukung melalui doa, sapaan dan kehadiran. Semua memiliki tempat dan peran yang sama berharganya,” kata Markus.
Semangat tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan yang melibatkan anak-anak, orang muda, keluarga, hingga para sesepuh Gereja. Rangkaian kegiatan diawali dengan peluncuran ikon HUT pada Maret 2026, dilanjutkan aksi SALDO (Saling Doa), Novena Santo Yusup, berbagai apresiasi pelayanan, lomba, jalan sehat, sepeda gembira, pemeriksaan kesehatan, hingga kenduri syukur.
Perayaan HUT ke-55 juga menjadi sarana regenerasi pelayanan. Berbagai tim pelayanan lintas usia dilibatkan untuk berbagi pengalaman dan menyiapkan kader-kader baru yang akan melanjutkan pelayanan Gereja di masa mendatang.

Salah satu ikon yang menarik perhatian umat adalah BIS PRASAJA, sebuah photobooth berbentuk bus yang menjadi simbol perjalanan bersama. Akronim BIS merupakan singkatan dari Bahagia, Inspiratif, dan Sejahtera, sekaligus menggambarkan semangat sinodal dalam membangun kebersamaan umat.
“BIS PRASAJA bukan sekadar photobooth. Bagi kami, itu adalah simbol perjalanan bersama seluruh umat. Selama 55 tahun Gereja St. Yusup Padokan berjalan bersama melewati berbagai zaman. Kini kami ingin melanjutkan perjalanan itu sebagai Gereja yang bahagia, inspiratif, dan sejahtera,” ujar Markus.
Sebagai bagian dari masyarakat Tirtonirmolo, umat juga menggelar Kenduri Syukur pada 6 Juni 2026 yang melibatkan lurah, dukuh, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga sekitar. Kegiatan tersebut menjadi simbol persaudaraan yang telah terjalin antara Gereja dan masyarakat selama puluhan tahun.
Perayaan tahun ini semakin semarak dengan keterlibatan orkestra yang dimainkan putra-putri Gereja St. Yusup Padokan serta penampilan Hadrohani sebagai bentuk penghargaan terhadap kerukunan dan keberagaman di tengah masyarakat.
Selain mengenang sejarah, HUT ke-55 juga menjadi momen mengenang jasa para pendahulu yang telah merintis kehidupan Gereja di Padokan. Menurut panitia, warisan terbesar yang ditinggalkan bukanlah bangunan fisik, melainkan teladan hidup beriman, semangat pelayanan, dan kebersamaan yang terus menginspirasi generasi penerus.
Pastor Kepala Paroki Hati Kudus Yesus Pugeran, Rm. F.X. Sukendar WS, Pr., menilai perjalanan panjang Gereja St. Yusup Padokan merupakan buah dari kesetiaan banyak umat yang menjaga kehidupan iman selama puluhan tahun.
“HUT ke-55 ini bukan sekadar perayaan mengenang masa lalu. Yang lebih penting adalah bagaimana umat Padokan menyiapkan masa depan. Keterlibatan berbagai tim pelayanan, anak-anak, orang muda, keluarga, hingga para sepuh menunjukkan bahwa kehidupan Gereja terus bergerak dan mengalami regenerasi,” ujarnya.
Melalui perayaan ini, umat Gereja St. Yusup Padokan tidak hanya mensyukuri perjalanan panjang yang telah dilalui, tetapi juga meneguhkan komitmen untuk terus bertumbuh bersama masyarakat. Keterlibatan lintas generasi, semangat pelayanan, dan kebersamaan yang terjalin selama 55 tahun menjadi modal penting dalam menjaga keberlanjutan kehidupan Gereja di masa depan.
#GerejaStYusupPadokan #HUT55GSYP #Padokan #Bantul #ParokiPugeran #GerejaKatolik #Tirtonirmolo #KebersamaanUmat #BISPRASAJA #Yogyakarta








