Percik Firman: Merelakan Nyawa Demi Kristus

Twitter
WhatsApp
Email
Pada zaman Yesus ada tiga kelompok masyarakat Yahudi yang selalu mencoba mencari cara untuk menjatuhkan Yesus. Mereka sering berkonflik dan mencobai Yesus dengan aneka pertanyaan yang menjebak. Mereka adalah para ahli Kitab, orang Farisi, dan orang Saduki.

Rabu, 3 Juni 2026

PW St. Karolus Lwanga dkk, martir

Bacaan Injil: Mrk 12:18-27

 

Saudara-saudari yang terkasih,

Pada zaman Yesus ada tiga kelompok masyarakat Yahudi yang selalu mencoba mencari cara untuk menjatuhkan Yesus. Mereka sering berkonflik dan mencobai Yesus dengan aneka pertanyaan yang menjebak. Mereka adalah para ahli Kitab, orang Farisi, dan orang Saduki.

Kelompok orang Saduki ini tidak percaya kepada kebangkitan dan kehidupan kekal. Dalam Injil hari ini dikisahkan bagaimana orang Saduki menjebak Yesus dengan pertanyaan tentang kebangkitan.

Di tengah masyarakat Yahudi, orang Saduki sangat terpandang karena banyak yang duduk di posisi yang tinggi di dunia politik saat itu. Misalnya, Imam Besar Yahudi selalu diambil dari orang-orang Saduki. Yang termasuk orang-orang Saduki adalah kelompok orang-orang kaya.

Mereka biasanya pemilik tanah yang kaya raya dan memiliki kedudukan yang menonjol, karena melakukan manipulasi yang licik dengan memanfaatkan kedudukan politik. Hampir seluruh imam-imam kepala adalah orang-orang Saduki.

Dalam bacaan injil pada peringatan Santo Karolus Lwanga dkk (Martir dari Uganda, Afrika) hari ini diungkapkan bagaimana Yesus mengkritik sikap mereka yang tidak memahami tentang kebangkitan orang mati. Di masa kebangkitan orang mati, orang tidak kawin atau dikawinkan, mereka hidup seperti malaikat di surga.

Para martir yang kita peringati hari ini sangat percaya akan adanya kebangkitan badan dan kehidupan kekal. Mereka merelakan nyawanya demi iman pada Kristus, Sang Mesias. Santo Karolus Lwanga bersama sebagian besar dari 22 martir Uganda (Afrika) meninggal sebagai martir karena iman pada Kristus. Mereka dibunuh pada tanggal 3 Juni 1886. Mereka dipaksa berjalan 37 mil jauhnya (± 60 km) ke tempat pelaksanaan hukuman mati.

Karolus Lwanga dikenal sebagai pemimpin guru agama dari para pelayan istana yang beragama Katolik. Dalam suatu ruangan tersembunyi, Karolus Lwanga secara sembunyi-sembunyi membaptis empat pelayan istana. Seorang di antaranya adalah Santo Kizito, seorang remaja periang serta murah hati yang baru berumur tiga belas tahun.

Mereka tidak takut akan kematian. Mereka menghayati dan mengimani sabda Yesus hari ini bahwa Allah yang diimani adalah Allah orang hidup. Dia memberikan kehidupan kekal kepada siapa pun yang percaya. Mereka dinyatakan kudus oleh Paus Paulus VI pada tahun 1964. Semoga kesaksian dari semangat kemartiran mereka menginspirasi kita untuk bertekun dan setia mengimani Yesus sampai akhir hayat.

Pertanyaan refleksinya, Apa makna kebangkitan bagi hidupmu? Apa saja resiko yang pernah kita alami sebagai murid Kristus?

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr