Karanganyar — Di tengah dinamika dan tantangan pelayanan Gereja yang terus berkembang, para pelayan Gereja di Kevikepan Surakarta diajak untuk kembali menimba kekuatan dari spiritualitas. Ajakan ini mengemuka dalam kegiatan kolasi Kevikepan Surakarta yang diselenggarakan pada Kamis, 23 April 2026 di Paroki St. Pius X Karanganyar.
Kegiatan ini dihadiri oleh enam unsur DPPH dari setiap paroki di wilayah Kevikepan Surakarta. Kolasi ini tidak hanya menjadi sarana koordinasi, tetapi juga ruang refleksi bersama untuk memperbarui semangat pelayanan.

Mengangkat tema “Spiritualitas Bunda Maria dan Santo Paulus”, para peserta diajak untuk semakin menyadari bahwa pelayanan Gereja bertumpu pada iman yang tangguh dan kemampuan untuk tetap bersukacita dalam berbagai situasi.
Rangkaian kegiatan diawali dengan menyanyikan Indonesia Raya dan Mars KAS, dilanjutkan dengan doa pembuka, sambutan selamat datang dari tuan rumah, serta pengantar dari Vikep Surakarta. Dalam pengantarnya, Rm. Singgih, Pr. menyampaikan pentingnya kesatuan langkah pelayanan yang berakar pada spiritualitas yang hidup dan kontekstual pada jaman ini.

Pemaparan materi oleh Rm. Bobby, MSF menjadi bagian utama dalam kolasi ini. Beliau mengantar peserta untuk melihat Bunda Maria sebagai pribadi yang tidak hanya penuh rahmat, tetapi juga tangguh dalam menjalani panggilan hidupnya. Sukacita Maria dalam Magnificat lahir dari iman akan karya Allah yang nyata dalam hidup manusia, meskipun harus dijalani melalui berbagai tantangan dan penderitaan.

Maria digambarkan sebagai pribadi yang setia “menyimpan dan merenungkan segala perkara dalam hatinya”. Sikap ini menunjukkan kedalaman iman yang mampu memeluk misteri kehidupan dengan penuh kepercayaan kepada Tuhan. Dalam kesederhanaan hidupnya, Maria memperlihatkan bahwa kekudusan tumbuh dari kesetiaan dalam keseharian.
Sosok Santo Paulus melengkapi refleksi ini sebagai teladan pertobatan dan semangat misioner. Perjalanannya dari Saulus menjadi Paulus menunjukkan perubahan hidup yang mendalam. Dalam pelayanannya, ia tetap setia dan bersukacita, bahkan di tengah berbagai kesulitan, karena hidupnya berakar pada Kristus.

Sesi tanya jawab berlangsung hangat dan interaktif memperlihatkan keterlibatan peserta dalam sesi dan makin mempertajam materi.
Berikutnya, peserta mendapatkan pemaparan dari Tim Litbang mengenai survei praktik sinodalitas dan baseline Formasio Iman Berjenjang dan Berkelanjutan (FIBB). Dalam penjelasan tersebut ditegaskan bahwa kehidupan menggereja perlu terus dikembangkan dalam semangat persekutuan (communion), partisipasi (participatio), dan misi (missio).
Melalui survei ini, seluruh umat diharapkan dapat terlibat sehingga Gereja semakin mampu memahami dinamika hidup umat dan menyusun langkah pastoral yang tepat. Peran paroki kembali ditekankan sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan program ini.

Dalam sesi berikutnya, disampaikan pula berbagai agenda kegiatan Kevikepan Surakarta, antara lain koordinasi bidang pendidikan, rekoleksi pelajar, rapat komisi, serta pelatihan penguatan kapasitas tim litbang paroki dalam pengelolaan data dan penyusunan rekomendasi pastoral. Hal ini menunjukkan komitmen bersama dalam membangun pelayanan yang semakin terarah dan kolaboratif.

Kegiatan kolasi juga dilengkapi dengan sosialisasi terkait pentingnya uji laik operasi dalam IUPTLS sebagai bagian dari upaya pengelolaan fasilitas gereja yang aman dan tertib.
Pada bagian akhir, Rm. Singgih Pr. mengajak untuk refleksi karya pastoral di masing-masing paroki dalam menghidupi ARDAS dengan meneladan kesetiaan Bunda Maria, dan semangat misioner Santo Paulus dalam pelayanan.
Penulis: TAW – Paroki Bayat
Dokumentasi: Komsos Paroki St. Pius X Karanganyar









