Minggu Paskah III, 19 April 2026
Bacaan Injil: Luk 24:13-35
Saudari-saudaraku yang terkasih,
Dalam bacaan injil hari ini, ada dua orang dari murid Yesus pulang ke kampung Emaus. Letaknya kira-kira tujuh mil (sekitar 11,26 km) jauhnya dari Yerusalem. Mereka berjalan kaki dengan muka muram. Mereka kecewa, sedih, dan tak bersemangat.
Mereka sangat mendesak orang yang menemani perjalanan mereka agar mau menginap di rumah mereka. “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam”, ajak mereka penuh empati. Mereka belum tahu kalau orang itu Yesus.
Mereka lelah, kecewa dan putus asa. Berjalan kaki seharian. Tetapi masih punya empati dan kepeduliaan kepada sesamanya. Mereka tidak egois. Tidak cuek. Tidak masa bodoh. Masih memikirkan keadaan sesamanya, meski orang itu tidak mereka kenal (asing).
Dalam kisah penampakan itu, Tuhan Yesus yang bangkit ditampilkan sebagai teman perjalanan yang membangun persaudaraan. Kematian Yesus awalnya membuat kedua murid dari Emmaus ini sangat kecewa. Yesus yang mereka harapkan akan mengubah kehidupan mereka menjadi lebih baik justru mati dengan cara yang amat hina disalib, seperti penjahat. Kepada kedua murid yang kecewa dan hatinya pahit ini, Yesus yang bangkit datang dan hadir sebagai kawan, ”berjalan bersama-sama dengan mereka”.
Rupanya muntahan kekecewaan dan kemarahan yang didengarkan dengan terbuka itu mengubah pandangan kedua murid itu terhadap Yesus. Yang semula dianggap orang asing, mencurigakan, atau bahkan mungkin mengancam diterima sebagai kawan seperjalanan. Ketika Yesus sudah diterima sebagai kawan seperjalanan, kata-kata-Nya yang keras tidak lagi ditangkap sebagai penghinaan yang menyakitkan, tetapi sabda yang membuka mata dan membuat hati berkobar-kobar.
Kedua murid itu mengalami Paskah sejati, perubahan hidup (transformatio vitae): dari kecewa menjadi bangga, dari bermuka muram menjadi bermuka sukacita, dari putus asa menjadi berkobar-kobar. Perjumpaan dengan Sang Kawan ini membuat hati mereka berkobar-kobar dan penuh pengharapan. Selanjutnya, mereka kembali berkumpul dengan kawan-kawan mereka dan terbangunlah komunitas Paskah yang baru. Itulah buah dari orang yang menyadari penyertaan Tuhan yang hadir sebagai kawan perjalanan hidup.
Pertanyaan refleksinya, saat lelah dan tak bersemangat, masihkah kita peduli dan mau berempati dengan orang lain? Bagaimana caranya untuk bangkit dari kekecewaan dan tak berdaya?
Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).
Y. Gunawan, Pr









