Rabu, 25 Maret 2026
Hari Raya Kabar Sukacita
Bacaan Injil: Luk. 1:26-38
Saudari-saudaraku yang terkasih,
Pada tanggal 25 Maret ini Gereja merayakan Hari Raya Kabar Sukacita. Dasar biblis Hari Raya ini adalah kunjungan Malaikat Gabriel kepada Bunda Maria (bdk. Luk 1:26-38). Hari raya ini dirayakan oleh Gereja Katolik setiap 25 Maret, tepat sembilan bulan sebelum kelahiran Yesus (Hari Raya Natal).
Santo Louis-Marie de Montfort (1673-1716) mengatakan bahwa Hari Raya Kabar Sukacita merupakan cikal bakal kehadiran Gereja. Bertitik tolak dari ajaran bahwa Gereja adalah Tubuh Kristus, di mana Yesus berperan sebagai Kepalanya. Santo Louis-Marie de Montfort berpandangan bahwa seorang ibu tidak mungkin hanya mengandung kepala tanpa tubuh.
Dasar untuk memahami adanya peran Bunda Maria dan peran dari setiap anggota Kristus dalam karya Kristus adalah ajaran sabda Allah bahwa Kristus adalah Kepala dan Gereja adalah Tubuh-Nya (Ef 5:22-33).
Sebagai Bunda Kristus, Maria sebagai leher, yang menghubungkan kepala dan bagian anggota tubuh lainnya (Santo Bernardus, abad ke-12). Bunda Maria sebagai penyalur Rahmat. Segala rahmat dari kepala (Kristus) mengalir melalui leher (Maria) kepada anggota Tubuh mistik Kristus (Gereja/kita).
Dalam bacaan Injil hari ini, Malaikat Allah menyampaikan kabar sukacita kepada Bunda Maria. Peristiwa ini menjadi awal sejarah kekristenan. Atas kesediaan Maria menjadi Ibu Yesus, Allah menjelma menjadi manusia (misteri inkarnasi).
Kehadiran Malaikat Gabriel menemui Maria gadis sederhana di desa Nazareth 2000 tahun yang lalu, memberikan kabar sukacita. Ia tidak menakut-nakuti Maria, tetapi meneguhkan Maria dengan menyalurkan berkat Allah. Malaikat itu masuk ke rumah Maria dan berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”
Sapaan yang menguatkan itu mendorong Maria untuk mempunyai disposisi batin siap sedia: “Aku ini hamba Tuhan. Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu”. Siap sedia untuk apa? Untuk dilibatkan Tuhan dalam karya agung keselamatan-Nya.
Apakah ada risiko? Ya, pasti. Ia harus siap menderita sebagai Bunda Yesus, bahkan akan mengalami sapta duka Maria. Maria berusaha “menari” mengikuti gerakan Roh Kudus dengan taat mengatakan “sendhika dhawuh”, bukan “sendhika wadhuh” hehe… Kesiapsediaan Maria diteguhkan oleh sapaan yang menyejukkan dari Malaikat Gabriel.
Pertanyaan refleksinya, siapakah yang meneguhkan keputusan hidup kita selama ini? Bagaimana cara kita meneguhkan orang lain yang sedang mengalami kekhawatiran dan ketakutan dalam hidupnya?
Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).
Y. Gunawan, Pr









