Percik Firman: Pamer Rohani

Twitter
WhatsApp
Email
Mulai hari ini kita memasuki masa Prapaskah, yaitu masa pantang puasa, yang ditandai dengan Hari Rabu Abu. Dalam Masa Prapaskah kita diajak untuk dua hal, yaitu: untuk mengenangkan atau menyiapkan Baptis dan untuk membina pertobatan.

Rabu Abu, 18 Februari 2026

Bacaan Injil :  Mat. 6:1-6,16-18

 

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Mulai hari ini kita memasuki masa Prapaskah, yaitu masa pantang puasa, yang ditandai dengan Hari Rabu Abu. Dalam Masa Prapaskah kita diajak untuk dua hal, yaitu: untuk mengenangkan atau menyiapkan Baptis dan untuk membina pertobatan.

Rabu Abu adalah permulaan Masa Prapaskah, yaitu masa pertobatan, menata dan membersihkan hati. Pada permulaan Masa Prapaskah ini, dahi kita semua ditandai dengan abu. Penerimaan abu pada Rabu Abu ini berasal dari tradisi Gereja pada abad pertengahan. Saat dahi diberi abu, imam berkata, ”Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”.

Tak jarang ada umat yang bertanya: kenapa yang dipakai abu? Abu ini menyadarkan untuk membangun pertobatan. Betapa lemahnya manusia, dekat dengan dosa (Ayub 30:19, Kej 18:27). Abu juga simbol pembersihan diri kita, seperti abu dipakai untuk mencuci peralatan masak dan dapur.

Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk memperbarui hidup kita, mengoyakkan hati kita –bukan pakaian kita– (Yl 2:13), dan berdamai kembali dengan Allah (1 Kor 5:20) melalui tiga olah rohani: Bersedekah, Berdoa, dan Berpuasa (Mat 6).

Selama Masa Prapaskah ini, marilah kita meningkatkan ketiga hal tersebut:

  1. Bersedekah atau beramal melalui dana Aksi Puasa Pembangunan (APP) sebagai upaya kita untuk mendekatkan diri dengan sesama dan memberi pertolongan kepada mereka.
  2. Berdoa sebagai usaha kita untuk semakin mendekatkan diri dengan Tuhan.
  3. Berpuasa dan pantang sebagai ungkapan lahir dari pengendalian diri kita.

Diharapkan perbuatan olah kesalehan kita tidak menjadi sebuah pertunjukan (show) dan dipamerkan untuk menyombongkan diri. Yesus mengecam kepalsuan atau kesalehan pura-pura yang didorong oleh kebutuhan untuk “pamer Rohani”, mendapatkan pujian atau pengakuan.

Marilah kita mohon kepada Tuhan agar kita dapat mengisi masa Prapaskah, masa retret agung ini dengan terus mengupayakan sikap yang tulus, baik dalam bersedekah, berpuasa dan berdoa.

Pertanyaan refleksinya, apa motivasi yang menggerakkan kita untuk bersedekah, berpuasa dan berdoa selama ini? Apa saja niat konkret yang kita lakukan sebagai bentuk pertobatan di masa Prapaskah tahun 2026 ini?

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr