Perubahan Desain Pembelajaran, Fokus Diklat LEKAS Batch 3

Twitter
WhatsApp
Email
Gagasan “transformasi sekolah Katolik” LEKAS (Lembaga Ekselensi Keuskupan Agung Semarang) semakin menemukan bentuknya. Dalam pendidikan dan pelatihan batch 3 yang diselenggarakan 6-8 Maret 2026 di Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan, gagasan itu mengerucut pada frasa “perubahan desain pembelajaran”.

Gagasan “transformasi sekolah Katolik” LEKAS (Lembaga Ekselensi Keuskupan Agung Semarang) semakin menemukan bentuknya. Dalam pendidikan dan pelatihan batch 3 yang diselenggarakan 6-8 Maret 2026 di Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan, gagasan itu mengerucut pada frasa “perubahan desain pembelajaran”. Metode dan materi pelatihan pada dua batch sebelumnya semakin mendekati kebutuhan transformasi: berdampak pada perubahan murid.

Diklat LEKAS dirancang simultan. Organ sekolah, yakni 86 pengurus yayasan, kepala sekolah, dan guru dari sembilan yayasan sekolah Katolik di Keuskupan Agung Semarang seperti Seminari Menengah Mertoyudan, ATMI Surakarta, Pangudi Luhur, Kanisius, Dinamika Edukasi Dasar, dan Dharma Ibu Yogyakarta diundang hadir dan berproses secara lengkap. Materinya pun disusun secara utuh, mulai dari visi-misi dan tata kelola kelembagaan, alat-alat strategis untuk pengambilan keputusan pengelola lembaga, hingga model-model pembelajaran yang relevan dan transformatif.

Yayasan Bernardus, contohnya, kali ini mengirimkan peserta secara “bedol desa”. Pengurus yayasan, kepala sekolah, dan guru dari unit-unit kerja mereka diikutkan. Mereka belajar, dari pengalaman keikutsertaan di batch sebelumnya, ketika yang ikut pelatihan hanya sebagian organ, ada kesulitan mengimplementasi di lapangan ketika organ lain tidak memahami semangat dasar “perubahan desain pembelajaran” yang ditawarkan peserta sepulang dari diklat LEKAS.

Tarsisius Sarkim menyampaikan materi mengubah desain pembelajaran

Benar saja. Setelah pengurus yayasan, kepala sekolah, dan guru mengolah materi di kelas masing-masing, dan mengolah bersama di kelas besar tentang PLC (professional learning community), mereka dipertemukan secara “aha” di sesi Klinik Silang. Semua organ berkumpul: guru menyampaikan RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran) langsung di depan kepala sekolah dan pengurus yayasan. Kepala sekolah langsung bisa mengorkestrasi rencana-rencana gurunya selaras dengan tujuan pembelajaran yang ditetapkan sekolah. Demikian pula pengurus yayasan langsung bisa memetakan dan mengalkulasi apa yang perlu dan bisa dipenuhi untuk memfasilitasi rencana-rencana guru mereka.

Nuansa keterbukaan sangat terasa di diklat ini. Guru-guru lebih berani, konkret, dan terukur dalam menyusun rencana pembelajaran mereka. Menjadi begitu karena mereka tahu, lewat materi-materi seperti spiritualitas pendidikan Katolik, pedagogi pengharapan, model integratif pendidikan, dan pemanfaatan teknologi sebagai amplifier pedagogi, dampak perubahan pada murid hanya bisa terjadi jika gurunya terlebih dulu mau berubah dari paradigma hingga metodenya.

Romo Bernadus Singgih Guritno menyampaikan materi spiritualitas pendidikan Katolik

Pengurus yayasan dan kepala sekolah juga sangat terbantu bagaimana menempatkan dirinya sebagai pemimpin perubahan. Lewat materi-materi seperti spiritualitas kepemimpinan pembelajaran, kebijakan dan ekosistem yang transformatif, instructional leadership, pengelolaan aset, dan bagaimana membangun jejaring untuk pengelolaan lembaga yang berkelanjutan, mereka dipertemukan dengan gerakan perubahan yang dikerjakan guru-guru.

Dengan begitu, guru-guru tidak takut menyampaikan keinginan dan kebutuhan mereka untuk menghadirkan perubahan peristiwa pembelajaran di kelas kepada kepala sekolah. Kepala sekolah juga menjadi tidak mengalami kesulitan bagaimana mengartikulasikan keinginan dan kebutuhan gurunya karena paham semangat yang diusung timnya. Pun, yayasan tidak lagi curiga atau mengambil jarak terhadap permintaan fasilitasi yang diajukan guru dan kepala sekolahnya. Ini karena dalam diklat LEKAS mereka didudukkan bersama: saling mendengarkan, saling mendukung.

Menariknya, gagasan perubahan desain pembelajaran tidak hanya diharapkan terjadi pada peserta. Tim LEKAS pun menghidupinya. Formula diklat batch 3 ini mengalami perubahan di materi dan metode. Tim LEKAS merespons proses dan dampak diklat dua batch sebelumnya. Sebagaimana guru diharapkan fokus pada perubahan murid, tim LEKAS pun fokus pada perubahan peserta diklat. Salah satu contoh dilakukan oleh Tarsisius Sarkim. Jelang tengah malam, ia pergi membeli lilin. Ia merespons situasi kelas yang dibawakan sebelumnya, yang menurutnya belum begitu paham pesan yang ia sampaikan. “Saya minta tambahan waktu 25 menit untuk besok pagi. Saya mau ajak peserta melakukan eksperimen,” pinta Tarsisius Sarkim demi memastikan peserta paham betul bagaimana menghadirkan peristiwa pembelajaran bagi muridnya lewat perubahan desain pembelajaran.

Apa yang dilakukan Tarsisius Sarkim “nyambung” dengan pesan Risang Baskara dalam sesi tentang penggunaan teknologi dalam pembelajaran. Risang mewanti-wanti peserta, “Teknologi bukan tujuan. Ia hanya sarana. Pakailah sejauh diperlukan.” Menurut Risang, memindahkan bahan ajar dari kertas ke layar hanyalah transfer teknologi. Transformasi lebih dari itu, yakni ketika murid beroleh pemahaman akan materi yang diajarkan guru. Dan teknologi bisa optimal dipakai sejauh membantu.

Fasilitator LEKAS yang menemani berproses dalam diklat “Transformasi Sekolah Katolik” batch 3 ini yakni Tarsisius Sarkim, Rohandi, Titus Odong Kusumajati, Romo Yuvensius Deni Sulistiawan, Romo Bernadus Singgih Guritno, HJ Sriyanto, Elizabeth Indira, Albertus Harimurti, Risang Baskara, dan Yosef Onesimus Maryono.

Secara khusus, Keuskupan Surabaya mengutus tim Pulpen (Pusat Layanan Pendidikan) yang baru dibentuk untuk hadir sebagai pengamat dalam diklat ini. Mereka sedang merancang diklat serupa untuk juga menggerakkan karya pendidikan di keuskupan tersebut. (AA Kunto A, Tim Komunikasi LEKAS)