Percik Firman: Pastoral Penjara

Twitter
WhatsApp
Email
Paus Fransiskus pernah menyampaikan pesan spiritual kepada pemerintah, pengelola penjara-penjara (lapas) di seluruh dunia. Diungkapkan, “Saya kembali meminta agar penjara harus menjadi tempat pendidikan ulang dan re-integrasi ke masyarakat, dan kondisi untuk tahanan harus layak untuk manusia.”

Senin, 23 Februari 2026

Bacaan Injil : Mat 25:31-46

 

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Paus Fransiskus pernah menyampaikan pesan spiritual kepada pemerintah, pengelola penjara-penjara (lapas) di seluruh dunia. Diungkapkan, “Saya kembali meminta agar penjara harus menjadi tempat pendidikan ulang dan re-integrasi ke masyarakat, dan kondisi untuk tahanan harus layak untuk manusia.”

Para warga binaan di Lapas tetaplah manusia. Mereka harus diperlakukan secara manusiawi. Martabat mereka harus tetap dijunjung tinggi. Sekejam dan sejahat apa pun seseorang tetaplah dia manusia ciptaan secitra dengan Allah. Kunjungan kepada mereka di penjara, kendati cuma 2-3 jam, sangat berarti dan menjadi penghiburan yang luar biasa.

Sebagai calon imam Diosesan, para frater Seminari TOR Sanjaya, Jangli secara berkala saya ajak untuk melakukan pastoral penjara dengan melayani misa di Lapas Kedungpane dan Lapas Bulu. Kami menyapa dan mendoakan saudara-saudari yang sedang berada di sana.

Dalam bacaan Injil hari ini Tuhan Yesus bersabda, “…ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku…. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”.

Melayani para napi sama dengan melayani Yesus. Sabda Tuhan hari ini juga menjadi spiritualitas pelayanan Santa Teresa dari Kalkuta, Tarekat Misionaris Cinta Kasih beserta Kerabat Kerja Ibu Teresa (KKIT). Pelayanan Ibu Teresa ditopang dan didasari oleh perayaan Ekaristi dan Doa.

Santa Teresa mengungkapkan, ”Tanpa Dia, kami tidak dapat berbuat apa-apa. Dan justru altar itulah tempat kami berjumpa dengan orang miskin yang menderita. Dalam diri-Nya kami melihat bahwa penderitaan merupakan sebuah jalan untuk memperoleh cinta yang lebih besar dan keberanian yang lebih kuat”.

Bagi Ibu Teresa, dunia kita pada zaman modern ini dilanda arus besar betapa mahalnya cinta, betapa langkanya cinta. Betapa banyak orang yang menderita, mengalami kesepian, merasa tak berharga, karena orang tidak mengalami rasa dicintai dan mencintai. Inilah kemiskinan yang paling parah dibandingkan kemiskinan material.

Masa Prapaskah, masa pertobatan, sedang kita jalani. Bersediakah kita hadir dengan berpastoral penjara? Pastoral penjara bisa menjadi salah satu aksi kasih nyata kita selama masa Prapaskah ini bersama kelompok doa, lingkungan, atau kelompok kategorial.

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr