Senin, 2 Februari 2026
Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah
Bacaan Injil : Luk 2:22-40
Saudari-saudara yang terkasih,
Hidup adalah anugerah, panggilan dan perutusan. Kelahiran kita perlu diterima, disyukuri dan dimaknai secara baik dan benar. Setiap orang diciptakan Allah dengan sangat baik menurut citra Allah. Dalam Kitab Suci, kelahiran selalu disambut dengan sukacita, gembira dan penuh harapan. Sukacita ini pula yang dirasakan Keluarga Kudus Nazareth.
Setiap tanggal 2 Februari kita merayakan Pesta Yesus Dipersembahkan ke Bait Allah. Pesta ini tepat 40 hari setelah Yesus lahir (25 Desember). Dasar persembahan ini ialah ketentuan hukum Musa, yakni bahwa setiap anak sulung laki-laki harus dikuduskan bagi Tuhan (Kel 13: 2).
Mengapa? Anak sulung laki-laki itu diakui sebagai milik Tuhan sendiri, anugerah Tuhan yang harus dikembalikan lagi kepada-Nya. Mempersembahkan anak kepada Tuhan berarti mengakui bahwa Tuhan itu pemilik kehidupan dan pemberi hidup.
Saat mempersembahkan Yesus ke Bait Allah, Yusuf-Maria membawa sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati. Ini menjadi tanda Keluarga Nazareth termasuk keluarga sederhana (miskin).
Dalam tradisi Yahudi, jika seseorang itu berasal dari keluarga menengah, mereka akan mempersembahkan seekor domba (Im 12:8). Jika berasal dari keluarga kaya, mereka akan mempersembahkan seekor lembu jantan, tepung, dan anggur (1 Sam 1:24).
Keluarga Nazareth membawa persembahan itu dengan tulus. Tuhan tidak memperhitungkan besar kecilnya persembahan, tetapi lebih ketulusan hati umat-Nya. Sithik ora ditampik, akeh saya pikoleh, begitu sesanti Bapak Kardinal Darmojuwono.
Mari kita ikhlas memberi dan tidak owel /pelit untuk persembahan bagi Tuhan dan Gereja-Nya. Dengan memberi, kita tidak akan berkekurangan. Mari juga tulus iklas mempersembahkan anak kita untuk menjadi imam, suster atau bruder pada zaman sekarang ini.
Pertanyaan refleksinya, Sejauh mana kita mensyukuri hidup ini? Apa yang sudah kita persembahkan kepada Tuhan, Gereja dan bangsa selama ini?
Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).
Yohanes Gunawan, Pr







